Setelah ini, lalu apa? (Tanggap Cepat Mundurnya Sri Mulyani…)

Setelah ini, lalu apa? (Tanggap Cepat Mundurnya Sri Mulyani…)

---bukan bersifat ilmiah, hanya pengamatan belaka---

Jose Mourinho, pelatih tim sepakbola Inter Milan, ketika ditanya mengenai tanggal 5 Mei menjawab dengan serius, “Satu-satunya hal yang saya ingat, tanggal 5 Mei adakah hari di mana Napoleon meninggal.” (www.detik.com). Sedangkan bila kita tanyakan pada pemerhati marxisme, tanggal 5 Mei tentunya akan dikenang sebagai hari kelahiran Karl Marx, penulis Manifesto Komunis. Tokoh yang menginspirasi lahirnya gerakan komunis di seluruh dunia dengan bernagai model dan tafsirannya.

Sedangkan di Indonesia, tanggal 5 Mei 2010 adalah hari yang berisi berita yang mengejutkan dan ironis. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, menteri keuangan terbaik dunia yang memiliki kapasitas dan kapabilitas yang mumpuni menyampaikan pengunduran diri dari posisi yang sangat strategis di republik ini. Tentu saja pengunduran ini dihubungkan dengan tekanan politik, khususnya dari fraksi-fraksi oposisi di DPR terhadap Sri Mulyani. Pembelaan presiden kepada Sri Mulyani atas tuduhan Pansus Century ternyata gagal memberikan situasi yang kondusif terhadap hubungan bilateral DPR-Menteri Keuangan.

Bisa jadi, inilah jalan tengah yang dipilih Sri Mulyani untuk menghindari kondisi chaotic dalam perekonomian Indonesia. Masih ingat kasus hangat terakhir saat sebagian anggota DPR memilih walk out saat pembahasan RAPBP-Perubahan 2010 yang NYATA-NYATA akan memberi keuntungan pada rakyat Indonesia. Ketika ego sektoral antara dirinya dan parlemen harus diadu, demi kepentingan yang lebih besar Sri memilih mundur dengan elegan dan memanfaatkan tawaran dari Bank Dunia.

Saya yakin betul bahwa bukan alasan Sri Mulyani untuk melarikan diri dari KPK apalagi mencari penghasilan lebih baik. Kalau untuk penghasilan atau materi, sudah dari dulu wanita asal Lampung ini mundur dari jabatannya. Jabatan yang bertekanan tinggi, agenda sangat padat, tanggung jawab masif, dan penghasilan yang tak sebanding dengan direksi bank, misalnya. Kalau ada yang bilang saya bias dalam menilai Sri Mulyani, ya saya memahami, saya memang bagian dari Kementerian Keuangan, tapi justru karena itu saya memahami betul kebijakan-kebijakan Sri Mulyani yang telah “menyulap” sebuah departemen korup menjadi kementerian yang memiliki visi terdepan dalam reformasi birokrasi, bahkan menjadi pilot project-nya.

Tapi, kita (ya, kita semua) tak bisa berlama-lama meratapi kepergian beliau per 1 Juni 2010 nanti. At last, the show must go on! Transisi dari Sri ke penggantinya kelak harus mulus sehingga tak berimbas buruk pada memburuknya kondisi makro dan mikro ekonomi di Indonesia. Untuk memastikan itu semua terjadi, maka sebuah action plan harus disusun. Bagi penulis, hal-hal dibawah ini adalah hal yang sangat penting untuk diperhatikan:

Pertama,
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bersama Wakil Presiden Boediono harus mengerahkan segala daya pikir dan visinya untuk segera menunjuk pengganti Sri Mulyani. Sulit memang untuk mencari yang memiliki bobot sama persis, tapi setidaknya Menteri Keuangan selanjutnya harus memenuhi minimum requirements sebagai berikut:
a. Memiliki komitmen kuat untuk melanjutkan reformasi birokrasi
b. Memiliki visi makro dan mikro ekonomi yang seimbang
c. Memiliki kemampuan dan pengetahuan moneter serta fiskal yang memadai
d. Memiliki track record yang bersih
e. Bukan berasal dari partai politik
Lima syarat di atas adalah harga mati. Mengapa? Karena setidaknya, lima hal itulah yang menjadi pondasi dasar kesuksesan Sri Mulyani dalam memimpin lebih dari 60.000 pegawai Kementerian Keuangan untuk mencapai tujuan negara. Saya pribadi cukup kesulitan untuk mencari figur yang memenuhi syarat, namun nama Darmin Nasution rasanya bisalah untuk dijadikan kandidat.

Darmin Nasution memiliki tingkat akseptibilitas yang tinggi, dari kalangan profesional nonpartisan, dan merupakan kompatriot Sri Mulyani indrawati saat masih menjabat Direktur Jenderal Pajak. Sukses mengawal reformasi birokrasi di Ditjen yang dulu dikenal “basah” itu dan kemudian diakui DPR memiliki kualitas mumpuni dalam bidang moneter sehingga menang telak dalam pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia. Tegas dan cerdas. Namun, permasalahannya adalah apabila Darmin “dicomot” dari BI, apakah SBY mampu menemukan sosok sekaliber Darmin untuk menangani BI? Pertanyaan yang tentunya hanya bisa dijawab oleh panglima tertinggi negeri ini sendiri.

Kedua,
Yang paling terpukul dengan mundurnya Sri Mulyani adalah jajaran Kementerian Keuangan, khususnya Direktorat Jenderal Pajak yang citranya luluhlantak karena perkara Gayus Tambunan. Setelah badai century yang menimpa Sri Mulyani, kasus Gayus memang menjadi masalah berikutnya yang harus diselesaikan. Kementeria Keuangan berada dalam sorotan dan tekanan, bahkan diancam dicabut remunerasinya.

Menanggapi kasus Gayus, Sri Mulyani tetap menjadi pimpinan yang objektif. Dia dan Direktur Jenderal Pajak bahu membahu membuat berbagai terobosan untuk menyempurnakan program reformasi di Ditjen tersebut. Sebagian besar pegawai pajak yang bersih tapi mentalnya down akibat kasus ini perlahan-lahan kembali membaik. Mereka (dalam hal ini, juga saya) melihat betul bahwa Sri Mulyani menanggapi kasus ini dengan tepat: hukum penjahatnya, sempurnakan lubang sistemnya, bela yang tidak bersalah. Nah, bila penerus Sri Mulyani adalah figur yang satu visi, sehingga mampu melaksanakan hal yang sama tentunya akan memompa semangat pegawai Kementerian Keuangan untuk terus dan terus berbenah dan menuju cita-cita yang diharapkan. Tapi, jika pencabutan remunerasi misalnya, adalah langkah awal menteri berikutnya maka kondisi mental breakdown tadi akan mencapai titik nadir dan menghancurkan proses reformasi yang telah berjalan cukup baik.

Ketiga,
Kehilangan besar juga sebenarnya akan menghantui investor, bankir, calon investor dan masyarakat pada umumnya. Sri Mulyani nyata-nyata telah sukses mengendalikan perekonomian Indonesia saat menghadapi badai krisis, sehingga krisis moneter seperti yang terjadi tahun 1998 bisa dihindari. Kini, figur yang memunculkan rasa aman itu segera hengkang. Apakah kita sebagai masyarakat harus melihat lagi figur profesional digantikan dengan perwakilan partai??? Apakah kita hanya akan diam melihat figur yang benar-benar membantu perbaikan Indonesia berkarya di luar sana dibandingkan di sini, di tanahnya sendiri?

Lalu bagaimana?
Saya pribadi, mulai hari ini berjanji pada diri sendir untuk mengingat dan sebisa mungkin mencatat tokoh-tokoh yang omong besar, pencari masalah, penuduh yang mahir untuk tidak saya pilih di Pemilu legislatif mendatang. Mengapa? Karena kondisi politik yang tidak kondusif ini sebagian besar dikarenakan tindakan hiperbola para politisi pencari muka.

Lalu, mulai hari ini juga saya akan mendukung tokoh-tokoh reformis yang logis untuk menjadi pimpinan negeri ini. Baik dari tingkat RT hingga presiden. Mengapa? Karena dengan begitulah saya bisa membantu negeri ini untuk memiliki Sri Mulyani-Sri Mulyani lain baik di level grass root sampai di level tertinggi. Saya akan mencoba meneliti dahulu perilaku, track record dan kapabilitas seseorang sebelum saya memutuskan memilihnya menjadi pemimpin.

Kemudian, bagi para pegawai Kementerian Keuangan atau bahkan semua yang bersimpati pada seorang Sri Mulyani, dengarlah kata-kata lugas dari rekan kita Elma Zulkisti: “Mungkin Bu Sri memang akan pergi... tapi bukankah negeri ini masih mempunyai Anda, Anda, Anda, Anda, dan Anda... Bu Sri sudah menanam pondasi yang baik untuk negeri ini??? Hayuk atuh teruskan perjuangan Bu Sri...”

Ya, Sri Mulyani memang akan pergi..Tapi negeri ini masih punya KITA!!


5 Mei 2010
23.29
“Di tengah Jakarta, Pusat berita dan cerita”
“Lebih baik berjuang darpada menyerah pada stagnasi..”

Bobby Savero
Alumnus Sekolah Tinggi Akuntansi Negara,
Saat ini merupakan staf pada Kementeraian Keuangan

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Belajar Keadilan dari Sepak Bola (Kontemplasi Pertandingan Barcelona VS Inter)

Belajar Keadilan dari Sepak Bola (Kontemplasi Pertandingan Barcelona VS Inter)

Oleh: Bobby Savero

Hingar bingar perbincangan mengenai partai semifinal Liga Champions Eropa, antara raksasa Barcelona dengan jago Italia Internazionale saat tulisan ini dibuat masih mengemuka. Partai terakhir yang meloloskan Inter ke final dianggap sebagian kalangan sebuah pertandingan yang menjemukan dan bahkan disebut sebagai sepak bola negatif. Apa pasal? Karena sebagaimana diketahui, Jose Mourinho, pelatih Inter meracik strategi bertahan ketat hampir di sepanjang pertandingan.

Dari semua pemain inter yang ada di lapangan, semuana mengambil fungsi sebagai pemain bertahan. Hasilnya, pertandingan selama 90 menit hanya berkutat di daerah pertahanan Inter saja.

Banyak orang menilai, pertandingan itu sebagai pertandingan yang menjemukan serta tidak menarik. Tapi buat saya, justru saya belajar beberapa hal dari pertandingan yang dilangsungkan di Camp Nou, stadion terbesar di daratan eropa itu.

Oh ya?

Ya! Saya belajar unsur-unsur keadilan yang muncul dari beberapa aspek pertandingan tersebut.

Pertama, Hasil pertandingan yang berakhir dengan kemenangan Barcelona 1-0 adalah sebuah keadilan. Mengapa? Tentu saja, bayangkan sebuah tim dengan permainan paling atraktif dan serangan terbaik dunia berhadapan dengan tim yang pada pertandingan itu mengusung ultra defensif football dan menampilkan super catenaccio yang bolehlah kita sebut sebagai pertahanan paling rapat di dunia. Maka hasil yang adil adalah tim yang menyerang berhasil mencetak gol dan tim yang bertahan berhasil menahan tim lawan sekuat mungkin untuk membuat banyak gol. Jelas, hasil 1-0 adalah representasi yang adil dari pertandingan dua filosofi bertanding di atas.

Kedua, pendukung Barca (sebutan lain Barcelona) telah melakukan beberapa hal yang menodai nilai sportivitas yang dijunung tinggi dalam
olahraga. Meraka melakukan teror fisik dan mencoba melakukan gangguan langsung kepada kubu Unter Milan (selengkapnya bisa dibaca di link ini: http://bola.okezone.com/read/2010/04/28/261/327107/mourinho-butuh-bodyguard-di-barcelona atau ini: http://bola.okezone.com/read/2010/04/29/261/327442/barca-tidak-fair atau bisa dicari di situs-situs berita lainnya). Nah, apal balasan untuk tindakan yang tidak jantan ini? Balasan yang sangat menyakitkan, yaitu tersingkirnya Barcelona dari ajang Liga Champions Eropa.

Ketiga, dalam pertandingan seorang pemain Inter diusir keluar oleh wasit. Pemain itu adalah Thiago Motta. Uniknya, sebelum pertandingan pemain kelahiran Sao Paulo ini mengatakan "Kami tidak akan bermain 'kotor'. Saya melihat permainan Barcelona di televisi dan pemain mereka sering melakukan diving,” ( Sumber: http://bola.okezone.com/read/2010/04/28/261/327131/pemain-barca-tukang-diving). Bisa jadi pernyataan ini adalah upaya untuk meningkatkan tensi pertandingandan memulai psy war belaka. Tapi apa yang terjadi? Mungkin hanya lelucon saja, tapi karena Motta melancarkan tuduhan yang entahlah berdasar atau tidak itu, kemudian pada pertandingan dia benar-benar mendapat kartu merah akibat aksi dari Sergio Busquets. Senjata makan tuan.

Mungkin tiga hal di atas hanya bahasan singkat saja, dan mungkin bagi para suporter bisa jadi tidak adil. Wajar saja, semua orang berhak memiliki pendapatnya masing-masing. Hanya saja, tentunya pelajaran keadilan ini bisa kita resapi agar kita lebih berhati-hati dalam bersikap dan berperilaku. Tiga hal di atas memberi bukti pada kita, bahwa apa yang kita lakukan pada akhirnya akan menghasilkan efek sektoral bagi kita sendiri. Pilihan strategi yang kita susun, akan berakibat pada hasil akhir peperangan yang kita hadapi. Tindakan tidak sportif yang kita lakukan bisa jadi akan menampar diri kita sendiri.

Masih banyak contoh sebenarnya yang bisa diambil, bahwa sikap dan perilaku kita akan memantul pada diri kita sendiri.

Seandainya pun tidak,

Tuhan sedang menyiapkan balasan atas perilaku kita. Maka tak ada ruginya, mulai hari ini, kita belajar untuk berkeadilan. Mencoba bersikap adil pada setiap momen. Menjadi hakim bagi diri kita sendiri, memilih hal yang satu untuk meminggirkan yang lain dan menentukan hal yang kita anggap adil. Kesemuanya adalah pekerjaan yudisial yang tampaknya sepele tapi memang terjadi di kehidupan sehari-hari.

Mampukah? Insya Allah!


Di kamar yang masih remang,
30 April 2010
06.44 WIB
"Sebelum berangkat ke kantor"

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Cerita dari Pluit (akhirnya menulis lagi…)

Cerita dari Pluit (akhirnya menulis lagi…)

Sudah lama saya tak menulis…

Bukan karena sombong, kadang bukan karena sibuk..

Saya punya banyak waktu luang, tapi enatah kenapa sulit sekali untuk mulai menggerakkan tangan untuk menari-nari kembali di atas tuts keyboard menuangkan opini, ide, asa, cerita, atau sekedar keluh kesah..

Aneh memang, padahal sebenarnya di hari-hari kemarin banyak sekali hal yang bisa saya tuliskan.. Dari pengalaman setelah mengalami kecelakaan kecil, euforia dan excitement saat mendapat amanah dan tugas yang baru di kantor, munculnya badai besar di instansi tempat saya membaktikan diri, juga kerumitan dan keriuhan persiapan serta proses pernikahan=)..

Alhamdulillah semua sudah dilewati,,
Pertanyaan yang tak kunjung saya temukan jawabannya adalah, kenapa saya lama sekali tak menulis?

Mungkin masalah mood masih menjadi alasan utama, alasan yang sangat dangkal dan tidak dapat dipertanggungjawabkan bahkan di hadapan diri saya sendiri. Makanya, saya juga terkejut ketika tiba-tiba tangan membuka laptop dan mulai menulis kalimat-kalimat ini. Hoo, mood-kah yang sedang kembali ini?

Mudah-mudahan saja..
Baiklah tampaknya tangan ini ingin menulis kisahsaya hari ini. Mudah-mudahan ada manfaatnya untuk dibagi. Amiin..

Jadi begini, tadi siang saya road show ke beberapa bank. Hehe, sebenarnya bukan road show, tapi ya mirip-miriplah, keliling-keliling. Saya datang ke tiga bank untuk melaksanakan tugas negara (ck..ck.ck.serem amat bahasanya). Nah di salah satu bank di daerah pluit itu, saya berurusan langsung dengan kepala cabangnya.
Orangnya masih muda, tapi terlihat betul pekerja keras. Punya manner yang baik, menghormati kami yang muda. Sebenarnya pertama kali ketemu, impresinya agak menyebalkan, saya dan rekan saya dikira bukan PNS bukan pekerja tetap. Dia takjub melihat kami yang masih muda-muda ini datang untuk melakukan pemblokiran rekening (beuh serem..hihi) mewakili instansi kami.

Tapi, selanjutnya karena tahu kami masih muda-muda, pak kepala cabang ini sambil melayani kami juga mengajak kami berbincang-bincang. Semakin lama, gayab icaranya seperti kakak berbicara pada adiknya. Saya sih senang-senang saja, dapat ilmu-ilmu dari yang sudah berpengalaman. Hehe..

Pelajaran yang bisa saya ingat adalah, dia berkali-kali mengingatkan, pertemanan itu adalah modal yang sangat penting. Kita boleh pintar, cerdas, atau bahkan jenius, tapi tanpa pergaulan, pertemanan, atau bahkan jaringan, bisa jadi kita tidak mampu menggunakan kecerdasan atau kemampuan kita di tempat yang benar. Kata beliau, saya sampai di posisi ini ya antara lain karena saya menjalin pertemanan yang baik.

Selanjutnya, karena tahu saya baru menikah, dia berpesan bahwa aset pertama yang harus dimiliki adalah rumah. Rumah harganya nyaris tak pernah turun dan akan menjadi homebase bagi keluarga kita nantinya. Beli rumah sesuai dengan kemampuan dan jangan memaksakan diri. Tapi tetap ingat bahwa posisi rumah yang dibeli haruslah mempertimbangkan keterjangkauan dengan kendaraan umum dan masuk mobil (walaupun kita belum punya mobil). Nah, jika suatu hari nanti punya rezeki lebih dan punya kemampuan untuk beli rumah baru, barulah beli yang lebih bagus, untuk sekarang yang penting punya homebase dan tempat bernaung.

Kemudian masalah mobil. Menurut Pak Kepala Cabang, kalau nanti ada kesempatan dan rezeki untuk beli mobil, maka hitunglah dulu kebutuhan kita. Kalau akan dipake 1-2 tahun saja, maka beli saja mobil bekas. Tapi kalau diperkirakan akan dipakai lama, misalnya 5-6 tahun, maka paksakan beli mobil baru. Mobil baru harganya pasti akan jatuh, tapi paling tidak, selama 5-6 tahun itu kita akan lebih sedikit mengeluarkan uang untuk service dibandingkan dengan membeli mobil bekas.

Terakhir, dia juga bilang, kita harus hati-hati dalam bekerja. Idealisme harus dijaga tapi juga harus fleksibel. Kalau kita ekstrim dan keras sekali, kita malah akan dipentalkan dari sistem (kata dia sih..). Tapi kalau kita cerdas dan fleksibel tapi punya prinsip yang teguh, maka suatu hari kita akan mencapai posisi atau jabatan yang lebih tinggi. Nah, saat memiliki jabatan itulah idealisme kita akan lebih mudah untuk diaplikasikan karena kita jelas mempunyai bargaining power yang lebih kuat.

Sepulang dari sana saya berpikir, untuk hal-hal rumah tangga saja, orang-orang seperti pak kepala cabang ini menggunakan strategi dan berpikir matang. Padahal kita eh saya, banyak mengambil keputusan secara impulsif alias spontan saja. Hmm, sepertinya setelah ini saya harus lebih hati-hati dalam bertindak dan lebih cerdas dalam mengambil keputusan.

Lebih baik berjuang daripada menyerah pada stagnasi..


Kosan yang gerah,
27 April 2010
09.14 WIB
"Sambil menanti istriku pulang kuliah..=)"

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

“Tulisan Bingung Tentang Wanita”

“Tulisan Bingung Tentang Wanita”

“Tulisan ini didedikasikan untuk Bapak Vincentius Andreyanto Hermawan, yang secara khusus meminta saya untuk membuat tulisan dengan objek yang sangat sulit ini. Sekaligus juga untuk kawan-kawan bujang yang akhirnya takluk ke pelukan wanita. Tak lupa, untuk setiap orang yang sama bingungnya dengan saya untuk mengerti objek yang rumit ini.”.

Pak Vincent sambil tertawa menyampaikan tantangannya. Tawa yang renyah, seperti biasa. Tapi tantangannya kali ini ternyata membawa saya pada kenihilan berpikir. Ya, awalnya tampak mudah. Pak Vincent hanya meminta saya untuk membuat tulisan mengenai wanita. “Sederhana saja,” pikir saya waktu itu. Kemudian tantangan itu coba saya sanggupi. Dan pencarian pun dimulai.

Puluhan halaman web saya kunjungi, untuk mencari inspirasi dan bahan-bahan yang mungkin berguna. Ibu, adik, rekan kerja, hingga teman terdekat saya saya observasi sedikit demi sedikit. Pokoknya yang ada hubungannya dengan wanita.

Tapi apa?

Buntu. Sekonyong-konyong semua buntu.

Saya terjebak pada persepsi untuk memulainya. Saya mulai tidak mengerti dengan objek yang saya teliti ini, wanita. Wanita seperti apa yang akan saya tulis? Terlalu lebar dimensi yang saya hadapi. Wanita sekaliber Hawa yang turut andil membawa Adam ke bumikah? Atau wanita seperti Kartini yang tak kenal menyerah untuk konsisten pada perjuangannya atas hak-hak wanita? Atau mungkin wanita-wanita berbahaya yang bahkan meruntuhkan kedigdayaan rezim Kerajaan Prancis dan berakhir di guillotine seperti Maria Antoinette? Atau wanita yang kemarin sore saya lihat sedang berupaya menyetop mobil atau motor yang lewat, dalam balutan kosmetik tebal dengan misi menjual kehormatan demi sesuap nasi (dan sebongkah berlian..=)? Atau malah wanita-wanita yang biasa kita lihat, yang bekerja, pulang ke rumah mengurus anak dan suami lalu keesokannya bekerja kembali dan pulang lagi dan seterusnya tak berakhir seperti siklus polybios?

Entah. Tak ada mata rantai yang spesifik yang saya temukan untuk memulai tulisan mengenai wanita. Karena bertahun-tahun saya hidup, saya tak jua dapat mengertinya. Yang say abaca, hanyalah fakta-fakta ilmiah bahwa wanita memang berbeda dengan pria. Seorang blogger cerdas bernama Sara memaparkan:

Sebuah studi yang dipublish tahun 1992 di University of Western Ontario oleh zoologist C. Davison Ankney, dan psychologist Rushton, menunjukkan bahwa pria memiliki berat otak sekitar 100-gram lebih besar daripada wanita. Studi di Denmark tahun 1997 juga mendokumentasikan bahwa pria memiliki neuron 15% lebih banyak dari wanita (22.8 vs 19.3 milyar).

Melihat kecenderungan dua bagian otak yang berbeda, riset tentang otak yang terkait dengan perbedaan gender ternyata memberikan informasi bahwa terdapat perbedaan dalam anatomi otak pria dan wanita. Secara umum, otak terdiri dari dua tipe jaringan yang berbeda, dinamakan gray matter dan white matter. Menggunakan teknik neuroimaging, Richard Haier dari the University of California, Irvine led, dan kolega yang lain dari the University of New Mexico menemukan bahwa gray matter pria memiliki setidaknya 6.5 kali ukuran yang lebih banyak dari pada wanita. Sedangkan wanita setidaknya memiliki white matter 10x lebih banyak dibandingkan pria. Di dalam otak manusia, gray matter berfungsi sebagai pusat pemroses/penganalisis informasi, sedangkan white matter bekerja menghubungkan pusat-pusat informasi/analisis. Mereka menyatakan bahwa pria bercenderungan menggunakan gray matter dan wanita cenderung menggunakan white matter dalam berfikir dan bertidak. Ditemukan pula 4x kecenderungan wanita menggunakan lobus hemisfer kanan dalam berfikir dibandingkan pria.

Data-data ini dimungkinkan untuk memberikan penjelasan mengenai perbedaan perilaku yang terdapat pada pria dan wanita. Dalam berkomunikasi, pertama kali mendapatkan informasi dan dalam menghadapi suatu permasalahan, pria akan berkecenderungan untuk menggunakan logika (wilayah otak kiri lebih dominan), sedangkan wanita cenderung menggunakan perasaan (penggunaan otak kanan lebih dominan). Bukan permasalahan potensi pria lebih cerdas daripada wanita. Kedua makhluk dianugerahi logika dan perasaan, tetapi kecenderungan pria dan wanita dalam menanggapi suatu respon tidaklah sama. Contoh sederhana ialah, seorang wanita tidak harus memiliki sejumlah alasan yang logis untuk menangis, sedangkan bagi kaum pria tidak demikian. Menangis dalam kamus wanita adalah penggunaan otak kanan yang mengungkapkan bahasa perasaannya. Sedangkan bagi pria, dimana otak kiri lebih dominan, logikanya akan mengatakan untuk selalu mencari perbandingan dan alasan untuk menangis.

(Dikutip dari http://tanah231.multiply.com/journal/item/10)

Walau penjelasannya rumit, tapi jelaslah sebagaimana kita ketahui kalau soal perasaan wanita memang lebih hebat disbanding pria, yang sebaliknya lebih gesit memainkan logikanya. Saya jadi ingat, ada teman saya yang mempermasalahkan pacarnya yang nonton ketahuan film porno, ia merasa sakit hati dan kemudian meragukan kesetiaan pacarnya. Saat itu, saya bingung. Naluri saya sebagai lelaki mengatakan, “ya udahlah, namanya juga cowok. Ya mbok, bilangain aja orangnya asal jangan sering-sering. Simple aja kan?”

Tapi sepertinya hal ini tak sesederhana itu bagi kawan saya itu. Ternyata baginya, sang pacar telah melampaui garis batas transeden yang melanggar otoritas kewanitaannya. Sang pacar, menurut kawan saya itu, telah melanggar kepercayaan yang telah diberikan untuk menjaga dirinya. Muncul keraguan, apakah si pacar dapat menjaga dirinya bila menjaga diri dari film itu saja ia tak mampu. Ya Tuhan!! Saya takjub dibuatnya. Sedemikian sensitifnyakah wanita?

Di sisi lain, saya juga tak mengerti, mengapa masih ada mewarnai berita-berita di televisi atau Koran “lampu lalu lintas” tentang istri yang masih berdiam diri saja, mengetahui suaminya selingkuh di luar, pulang larut malam, lalu begitu sampai rumah memukulinya. Sangat sensitif perasaan wanita, tapi ia tak bergerak 1 centimeter pun dari kehidupan rumah tangganya. Ia tak sedikit pun berpikir untuk melarikan diri dari kemuakan massif terhadap sang suami. Ya Tuhan, sedemikian kebalnyakah wanita?

Itu baru sekelumit anomali wanita yang tak saya mengerti. Kemudian muncul lagi kebingungan ketika membaca referensi yang menyatakan persepsi Aristoteles tentang wanita. Filsuf besar klasik itu dalam pemikirannya memandang bahwa wanita adalah "uncomplete Man". Dalam konteks biologis, wanita mengambil posisi pasif reseptif sedangkan pria aktif produktif. Pria memberi, wanita menerima dan mengolahnya. Dengan kata lain, Pria superior wanita dalam posisi subordinatif.

Ah, masa.

Apa iya wanita begitu lemahnya?

Bukankah justru banyak cerita dan berita yang melukiskan dengan gamblang, kalau wanita dengan mudah membuat pria bertekuk lutut dan tertaklukkan? Ada wanita yang ikut menerjunkan seorang nabi dari surga ke bumi. Ada wanita yang dengan videonya mampu menjungkalkan anggota dewan dari gedung parlemen yang terhormat. Ada pula wanita yang luar biasa hingga dipanggil wanita listrik, karena upayanya yang jauh melebihi pria untuk menggerakkan masyarakat secara swadaya untuk menghasilkan listrik sambil melahirkan lapangan pekerjaan.

Yang mudah mungkin kalau bicara romantisme. Seperti kisah seorang mahasiswi muda yang cerdas seperti Hannah Arendt, yang dengan pesona, pengorbanan, dan kecerdasannya mampu membuat profesor universitas seperti Heidegger mempertaruhkan karir dan rumah tangga serta keluarganya hanya untuk bermain api dengan Arendt. Di kemudian hari, Arendt dikenal sebagai salah satu filsuf wanita terpenting Jerman yang pemikirannya banyak dipengaruhi pengalaman sebagai korban naziisme dan fasisme. Sedangkan Heidegger adalah filsuf “ajaib” yang beraliran ontologis. Akan tetapi, tak ada yang menyangkal, kisah perselingkuhan keduanya terkadang lebih bombastis daripada pemikiran-pemikiran cemerlang mereka.

Lalu, apa kesimpulannya?

Saya tetap bingung mengenai wanita, beserta perasaan dan logikanya yang tak terduga. Saya mengagumi kesabaran ibu saya yang merawat ayah saya selama bertahun-tahun dari sakit hingga meninggal tanpa sedetik pun berpaling. Tapi saya juga tak habis pikir dengan wanita yang tega memutilasi suaminya menjadi dua puluh potong karena perasaan cemburu. Saya menghormati Bunda Teresa dan Siti Khadijah untuk pengabdiannya dalam perjuangan hakiki. Saya masih menganggap pemimpin adalah posisi untuk pria, tapi tak bisa menyangkal bahwa wanita yang hebat adalah kunci di balik layar pemimpin hebat.

Oleh karena itu, hanya sedikit kesimpulan yang saya dapat dari kebingungan ini. Absurditas adalah mutlak ketika secara serampangan kita mencoba memahami wanita. Akan tetapi, siapa pun bahkan para lelaki tergagah sekali pun sebenarnya dapat mengambil hikmah dari kewanitaan para wanita.

Konflik, perang, kehancuran, ketidakacuhan akan nasib sesama dapat dihindari dengan menduplikasi kelembutan dan kepiawaian wanita dalam menanggulangi masalah dan menggunakan perasaan. Bukan hanya cara-cara logis ala pria.

Seorang anak autis misalnya, secara logika harus mendapat perawatan dari tenaga ahli psikologi terbaik. Itu cara pria. Tapi, ternyata, mereka justru mendapat sentuhan terbaik dari kasih sayang abadi dan kelembutan seorang ibu. Dalam konteks seperti ini kewanitaan adalah hal yang perlu dihidupkan dari diri setiap individu, bahkan oleh pria-pria berotot itu.

Akan tetapi, biarkan kewanitaan itu tumbuh secara normal. Menjiwai proporsional atas peran-peran yang diberikan Tuhan kepada kita sangatlah substansial.

Karena, menumbuhkan kewanitaan dengan cara mengingkari alat kelamin sendiri dan melakukan operasi gender, jelas bukan cara-cara yang bijaksana.

Sisi Situ Cipondoh, 7-8 Januari 2009

Akhirnya menyadari bahwa tulisan ini bukan tentang wanita, tapi tentang kebingungan terhadapnya. Maaf Pak Vincent atas tulisan yang mengecewakan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Yang lucu soal NPWP

Sebuah sinergi apik telah dimulai dalam pemerintahan kita. Komisi Pemilihan Umum (KPU), akhirnya mengakomodasi permintaan Direktorat Jenderal Pajak (DJP) untuk mensyaratkan kepemilikan (Nomor Pokok Wajib Pajak) NPWP oleh para donatur kampanye dengan jumlah sumbangan di atas 20 juta rupiah untuk Pemilu 2009 mendatang. Hal ini jelas adalah suatu hal yang melegakan. Dengan demikian, kita dapat menguji dan memastikan, apakah pihak-pihak yang telah bermurah hati dengan menyumbang sedemikian besarnya untuk kampanye politik telah terlebih dahulu menyelesaikan kewajibannya sebagai warga negara.
Oleh karena itu, lucu rasanya jika membaca komentar-komentar tokoh-tokoh politik caliber, seperti Ferry Mursyidan BAldan dan MS. Kaban, yang menolak kewajiban pencantuman NPWP tersebut di media. Sebagaimana dilansir Koran Tempo dan Detik.com pada tanggal 28 dan 29 November 2008, mereka menyesalkan keputusan KPU yang dirasa melanggar UU Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilu Legislatif. Menurut mereka, UU hanya melarang partai menerima donasi dari sumber yang tidak jelas identitasnya. Kepemilikan NPWP seharusnya hanya menjadi tools dalam memperjelas identitas, bukan diwajibkan karena akan menyulitkan penyumbang. Aturan mengenai NPWP mereka anggap juga telah diatur dalam UU lain. Mereka juga bahkan menantang Dirjen Pajak dengan melontarkan pernyataan, “Apa Dirjen Pajak menjamin semua penyumbang mempunyai NPWP?” (Koran Tempo 28/11) juga “Apa anggota DPR semua sudah punya NPWP? Apa pejabat-pejabat eselon satu dan dua di Indonesia sudah mempunyai NPWP? Itu dulu deh.” (Detik.com 29/11)
Mengapa saya sebut lucu? Pertama, keputusan KPU tersebut, justru adalah terobosan yang sangat brilian. Kerjasama antara KPU dan DJP akan mengakomodasi kepentingan-kepentingan masyarakat. Di satu sisi, KPU akan mendapatkan partner kerja untuk menguji apakah kesahihan identitas penyumbang, terutama penyumbang kelas kakap, adalah benar adanya. DJP tentunya memiliki sistem informasi yang terintegrasi untuk mengetahui hal itu. Di sisi lain, DJP juga akan mendapatkan sumber informasi yang terpercaya untuk memastikan, bahwa pihak-pihak yang sudah menggelontorkan uang banyak untuk dana kampanye telah pula menyelesaikan kewajibannya sebagai warga negara Republik Indonesia. Aturan ini jelas tidak melanggar aturan UU No. 10 Tahun 2008 akan tetapi justru mensinergikan UU ini dengan UU No. 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum Perpajakan dan UU No. 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan. Harmoni regulasi ini adalah yang saya anggap brilian, karena selama ini, negara kita memiliki masalah dengan legal drafting sehingga banyak aturan yang justru tumpang tindih.
Kedua, sangat lucu bahwa tokoh politik yang juga pejabat negara justru menantang DJP mengenai jaminan kepemilikan NPWP oleh para penyumbang dan pejabat negara. Selaku masyarakat apalagi pejabat negara, selayaknya kita mengetahui betul bahwa kewajiban mendaftarkan diri untuk mendapatkan NPWP adalah wajib bagi warga negara yang telah memiliki penghasilan di atas ambang Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP). Direktorat Jenderal Pajak yang bertugas untuk mengadministrasikan dan melayani masyarakat untuk mendapatkan NPWP. Dan seperti kita ketahui, secara ekspansif DJP telah mengeluarkan aturan, promosi untuk menggerakan masyarakat yang telah memenuhi persyaratan objektif dan subjektif secara sadar mendaftarkan dirinya. Jelaslah, bahwa kepemilikan NPWP adalah kewajiban bagi warga negara yang telah memenuhi syarat. Aturan KPU ini, nantinya juga akan membantu menyadarkan masyarakat akan pentingya NPWP.
Ketiga, juga sangatlah lucu jika dikatakan bahwa pencantuman NPWP bagi donatur kampanye akan mempersulit para penyumbang. Sekarang kita balik. Apanya yang sulit? Jika telah mampu menyumbang sedemikian besar, apakah melaksanakan kewajiban perpajakan sebagai warga negara dikatakan sulit? Jika yang dikhawatirkan adalah kesultan mengurus NPWP, sejauh yang saya ketahui, pembuatan NPWP adalah salah satu layanan unggulan DJP. DJP menjamin pembuatan NPWP dalam waktu yang sangat singkat maksimal 1 x 24 jam, melalui kantor pelayanan pajak yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia, pendaftaran secara online via internet, melalui mobil pajak, atau pojok pajak yang tersebar di berbagai pusat keramaian. Dan pengurusan ini semua tanpa biaya. Mari kita tanya sekali lagi, apa yang sulit? Oleh karena itu, teranglah sudah bahwa keputusan KPU ini adalah hal yang patut didukung. Selain memastikan sumber dana penyumbang, menangkal praktik pencucian uang, sekaligus mensukseskan program-program pro rakyat untuk kesejahteraan yang sebagian besar didanai dari dana mandiri masyarakat via kewajiban perpajakan. Sekiranya para public figure, lebih berhati-hati dalam mengeluarkan pernyataan pada konstituen dan masyarakat pada umumnya agar tidak malah menyesatkan yang menimbulkan paranoia tak perlu terhadap NPWP, Direktorat Jenderal Pajak dan Departemen Keuangan yang harus kita akui telah menunjukkan komitmen bear untuk reformasi birokrasi. Mari kita dukung, segala upaya untuk membawa negeri ini ke arah yang lebih baik.

Ciawi, 30 November 2008
Suasana hujan yang dingin yang tak kan menyurutkan menyuarakan kebenaran...

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Kenapa Harus Obama?

Tak banyak yang mencela saya ketika secara nyata dan jelas saya menunjukkan dukungan saya kepada Barrack Hussein Obama Junior dalam pemilu di Amerika Serikat awal November lalu. Berikut petikannya:
“Alaah, ngapain sih dukung-dukung Obama? Emang ngaruh gitu sama Indonesia?”
“Obama tuh ga mau ngaku-ngaku Islam, ngapain sih dukung dia?”
“Presiden AS dari demokrat mah pasti ngutak-ngatik Indonesia deh..sok-sok paling hebat soal HAM gitu..”
Yah kira-kira seperti itu. Sebenarnya justru saya yang bertanya balik, mengapa kita tidak mendukung Obama? Dalam kaitan langsung mungkin tidak akan ada efek yang terasa atas kemenangan Obama di pemilu AS kepada Indonesia, untuk itu saya tidak ingkari. Tapi saya yakin betul, terpilihnya Obama akan lebih banyak membawa kebaikan dibandingkan jika presiden Bush diganti kompatriotnya di republik, John Sidney McCain III. Kalau tidak percaya, yuk kita jabarkan yuk:
Obama masih berusia muda. Dalam sejarah, pemimpin-pemimpin muda adalah yang paling siap dalam membuat perubahan yang sebenarnya. Masih ingat bagaimana kaum muda melakukan “pengamanan” kepada Bung Karno untuk segera mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia usai tragedi atom di Jepang? Dan lagi, kita tak bisa membantah bagaimana darah-darah muda sebagaimana Bung Karno, Bung Hatta, Natsir, M. Yamin, John F. Kennedy, Nelson Mandela, Napoleon, hingga pemuda-pemuda 1998 mampu membawa gairah dan menghadirkan perubahan dalam arti kata yang sebenarnya. Bukan perubahan bohong-bohongan atau tipu-tipuan.
Obama punya kisah historis dengan Indonesia. Saya tak menyangkal, bahwa walau punya kisah historis dengan Indonesia, belum tentu Obama akan memandang Indonesia secara lebih objektif. Apalagi, ketika masih ada di kongres, Obama yang pernah duduk di subkomisi Asia Timur yang juga berhubungan dengan Indonesia tak pernah menunjukkan tendensi apapun terhadap Indonesia sebagai negara. Lalu apa ketika menjadi presiden ia akan memandang Indonesia dengan lebih baik? Justru, karena kemudaan dan keterbukaannya itulah kita dapat berharap bahwa Indoneia dapat dipandang secara objektif. Kesempatan yang dimiliki Obama ketika masih duduk di subkomisi tersebut dan tidak digunakan untuk menunjukkan tendensi pada Indonesia adalah bukti bahwa ia dapat menjadi sangat objektif. Ini saja sudah cukup menjanjikan. Tapi jangan khawatir, silakan baca bukunya The Audacity of Hope. Di sana ia masih menyinggung soal Indonesia. Ia ingat da ia tahu!
Obama sangat Universal. Nama Barrack, diambil dari Bahasa Afrika, Hussein jelas berkaitan dengan timur tengah, dan Obama menunjukkan Amerika. Universal bukan?hahaha... Bukan hanya itu, Obama sudah pernah atau malah sudah biasa menerima perlakuan Rasis. Amerika Serikat yang konon adalah guru besar demokrasi di dunia masih memiliki maslaah tentang hubungan antara masyarakatnya sehubungan dengan primordialisme dan warna kulit. Nah, ketika Obama menjadi presiden nanti, yakinlah kita ia tidak akan bertindak diskriminatif. Paling tidak akan menghindarinya, hal ini juga sangat memberi harapan akan lahirnya cara pandang siosial baru dalam pergaulan negara-negara di dunia.
Obama ingin menghentikan perang Irak. Saya tidak peduli kata orang kalau Obama akan menyerang Afghanistan, yang ingin dan sudah saya dengar, salah satu program Obama adalah menghantikan perang Irak. Perang yang telah menghancurkan nama besar AS sebagai penjaga nilai-nilai demokrasi. Perang yang juga menghambur-hamburkan uang masyarakat AS. Dan juga perang yang menginjak-injak kebebasan dan toleransi. Dan ini bukan saja harapan saya, atau kita, atau masyarakat Irak, tapi juga sudah menjadi harapan warga AS sendiri. Kita lihat bagaimana ada seorang iseng di AS yang baru-baru ini menerbitkan ribuan koran The New York Times palsu dengan headline: “Iraq War Ends”. Dihentikannya perang Irak telah menjadi harapan kita, harapan dunia, dan juga harapan Obama!
Karena keajaiban Obama. Yang saya maksud keajaiban adalah menggambarkan kekaguman saya akan jejak langkah Obama sebelum menjadi Presiden. Dalam Konvensi Partai Demokrat tahun 2004, Obama mendapat giliran berpidato. Dalam pidato itu ia menggambarkan dirinya sebagai, “bocah kurus hitam yang aneh” Mungkin itulah awal perjalanan politiknya. Bagaimana si hitam aneh yang sangat sulit rasanya bisa menembus hegemoni kulit putih dalam politik Amerika Serikat. Tapi dengan kharismanya, kepemimpinannya, tak lupa vitalitasnya Obama menunjukkan bahwa Impossible is real nothing. Menumbangkan calon kesayangan kulit putih yang dianggap jauh lebuh berpengalaman Hillary Clinton dalam Konvensi Demokrat 2008 secara tak terduga, meraup nilai sumbangan kampanye terbesar dalam sejarah Amerika Serikat, sangat maju dan modern dalam penggunaan dunia internet, menarik simpati sebagian besar rakyat dunia sebagaimana terbukti dalam hasil polling dari berbagai lembaga, terakhir membantai telak John McCain dalam pemilihan. Hal ini membuktikan siapa saja kita, tak peduli suku, agama, atau warna kulit kita, selalu ada kesempatan dan harapan untuk orang-orang yang jujur, berani, penuh semangat dan siap membawa perubahan. Pelajaran ini menurut saya yang terpenting untuk kita ambil. Begitu pula dengan Indonesia, yang kultur politiknya masih tak sedemokratis sampulnya. Dikotomi sipil-militer, jawa-non jawa, rusuh dan tak terima tiap kalah Pilkada, dan wakil-wakil rakyat yang tidak peka terhadap masalah rakyat jelas memuakkan. Maka sudah saatnya kita menantikan Obama ala Indonesia di Pemilu 2014. Yang siap untuk memimpin di depan dengan segala semangat perubahan. Paling tidak dari Obamalah inspirasi itu dimulai.

Itulah alasan-alasan subjektif saya, tentang dukungan terhadap Obama. Jikalau anda tak sepakat, ya tak masalah ini bukan pengadilan benar atau salah. Saya hanya ingin mengambil pelajaran. Dan saya merasa, dia akan lebih baik disana dibanding pesaingnya. Bilapun kita tak mampu memilih atau mendukung yang terbaik, paling tidak, pilih dan dukunglah yang paling sedikit membawa kemudharatan. Ini tentang mimpi dan harapan, bukan hanya sekedar berpengaruh atau tidak pada hidup kita. Ini inspirasinya. Sekarang bukan tentang kenapa harus Obama, tapi bos, kenapa bukan Obama?

Bobby Savero
Ciawi, 16 Oktober 2008
ditemani rintik hujan, bermimpi menjadi Bobama...

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Hubungan antara Radang Tenggorokan dan Pajak

Hubungan antara Radang Tenggorokan dan Pajak

Oleh:

Bobby Savero

Ga sangka lho, ternyata yang namanya radang tenggorokan juga dapat memaksa gue berpikir keras, karena menyinggung kredibilitas Direktorat Jenderal Pajak, Departemen Keuangan, dan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. Ga percaya? Gini deh, gue bakal ceritain pengalaman gue waktu kena radang tenggorokan sekitar 2 minggu yang lalu.

Gue mulai batuk-batuk setelah lebaran. Ceritanya ada kumpul-kumpul keluarga di vila om gue di puncak, mungkin karena dingin yang teramat sangat, gejala flu yang mulai berkibar, dan selama puasa gue hampir selalu makan sahur pake nasi padang mulailah batuk-batuk itu muncul. Begitu liburan usai, dan gue kembali ke Tangerang untuk mengabdi pada negara (hahaha...lebay!), ternyata pancaroba menunjukkan kesaktiannya. Panas yang luar biasa menyengat mentahbiskan radang tenggorokan untuk gue derita.

Batuk gila itu semakin edan. Ga kenal waktu. Lagi kerja, lagi santai, lagi mandi, lagi buang air, lagi nonton tv, lagi mau tidur, bangun tidur (kalo lu nanya ke gue, trus pas tidur ga batuk? Ga usah gue jawab ya, ya wong namanya lagi tidur mana gue tau...hehehe), intinya mah aktivitas sangat terganggu. Berhubung gaji gue bulan oktober dipotong banyak gara-gara gue ga masuk 6 hari akibat cacar dua bulan yang lalu, plus kebutuhan lebaran yang banyak dan ga diduga mulailah gue dipaksa berpikir keras untuk pertama kalinya. Apakah dengan uang yang udah siaga satu ini, gue harus dateng ke dokter dengan kemungkinan keluarnya uang dengan nilai signifikan dari goresan tangan pak dokter di atas resep.

Tapi karena batuknya ga juga reda setelah gue beli obat batuk a******* warna ijo yang lumayan mahal, akhirnya gue putuskan untuk tetap dateng ke dokter. Pulang jumatan, gue sempetin mampir ke dokter di salah satu rumah sakit swasta ternama di Tangerang. Karena waktu cacar gue udah pernah berobat di sana, makanya kali ini gue ga ribet sama urusan administrasi. Tinggal daftar aja trus langsung dianterin ke dokternya. Si pak dokter ga pake nanya gue sakit apa langsung aja maen periksa. Kemudian gue berpikir keras lagi, apa iya ni dokter sama sekali ga niat nanya gue ngerasain apa, atau nanya gejala apa kek gt. Soalnya setau gue satu-satunya dokter yang tidak menggunakan metode tanya-jawab saat memeriksa pasien hanyalah dokter hewan. Apa iya gue udah dikira hewan?

Maka untuk memastikan sama pak dokter, kalo gue bukan hewan, tanpa diminta gue langsung jelasin,

”gini dok, jadi mulai batuk-batuk sejak lebaran trus ga berhenti-berhenti dan semakin parah...blablabla...”

Dokternya manggut-manggut aja, malah nanya yang lain,

“bagus juga nih sholat jumat pake baju ini...(baju batik-red).”

“ah, engga kok dok. Kebetulan aja, di kantor emang hari Jumat seragamnya ini.”

“Ooo...begitu tho, emang adek kerja di mana?”

Nah, di sinilah petakanya dimulai!! Sayangnya gue ga nyadar.

“di kantor pajak deket kantor walikota itu dok (dok di sini bukan kodok tapi ini emang panggilan gue kalo ketemu dokter-red)..”

“Ooo...pajak!” (wajah si dokter berubah)

Dan kemudian dia bertanya hal yang tidak diduga-duga,

“Mas, lunasi pajaknya awasi penggunaannya kan ya?”

“Iya dok...” (masih polos menjawab)

“Cara mengawasinya gimana mas?”

“Hmmm....” (terdiam beberapa saat. God!! gue jadi inget, kawan gue di KPP Pratama Banyuwangi juga pernah ditanyain beginian sama wajib pajak. Tapi gue ketawain aja. Gue ga pernah berpikir kalo suatu waktu bakal ditanya kayak gini juga. Gue ngerti sih maksud slogan itu, tapi cara ngejelasinnya yang sulit!)

(Berpikir keras mode on)

Beberapa saat kemudian gue sadar bahwa jawaban atas pertanyaan ini juga merupakan bentuk pelayanan prima kepada wajib pajak. Makanya, daripada si dokter kecewa ga bisa memperoleh jawaban dari aparat pajak yang masih ingusan ini, akhirnya dengan segenap keberanian dan secuil pengetahuan gue coba nerangin,,

“Begini dok,, uhuk...uhuk...(masih tetep batuk-batuk ya wong belum diobatin, baru ke dokter doang udah gitu pake dites segala sama ni dokter hehehe..), seluruh penerimaan pajak akan langsung masuk ke rekening negara. Sebagaimana kita ketahui, penggunaan uang negara ini kemudian akan diatur dalam APBN. Maka, pengawasan penggunaan pajak sama saja dengan pengwasan APBN, yang salah satunya dapat dilakukan melalui wakil dokter di DPR.”

Si dokter manggut-manggut lagi lalu menukas,

“Ah, saya mah ga percaya sama DPR sih. Kadang saya malu sama orang-orang yan katanya wakil rakyat itu.”

“Hehehe...” (tertawa kecut...ya sebenernya pengen ngebelain beberapa atawa segelintir wakil rakyat yang betul-betul amanah di DPR sana, tapi ya daripada dibilang sok tau mending gue diem aja deh, toh emang banyak juga wakil rakyat yang tidak representatif).

Akhirnya pemeriksaan dokter itu selesai dengan kata penutup yang mendebarkan, “oke deh mas pajak, saya kasih resep yang BAGUS deh biar cepet sembuh.”

Walau terminologi bagus dalam pemahaman gue sama dengan pemahaman WJS Poerwadarminta ketika menyusun Kamus Umum Bahasa Indonesia, di mana bagus artinya elok atau baik sekali tapi gue curiga pemahaman si dokter ini berbeda. Dan kecurigaan gue terbukti ketika di apotek, resep itu bernilai 300 ribu lebih.

Mungkin WJS Poerwadarminta harus menambahkan lagi arti kata bagus di kamus.

Bagus itu mahal.

Maka, setelah berpikir keras dan berdebat keras lagi dengan apoteker untuk minta obat generik, gue pulang dengan langkah gontai. Ada beberapa hikmah yang gue peroleh dari radang tenggorokan ini.

Pertama, sebelum ke dokter siapkan diri kita dengan jawaban atas pertanyaan terhadap slogan-slogan institusi tempat kita bekerja. Paling tidak kuasailah hal-hal umum tentang visi misi kantor kita. Biar ga asal jawab kayak gur tadi, jadi keingetan kata-katanya Roger Bacon (1214-1294) dalam bukunya Opus Magnus itu lho, katanya salah satu sebab kebodohan itu adalah pamer kebijaksanaan untuk menutupi kebodohan. Intinya mah sok tau padahal ga tau atau ga yakin...Hehehe...

Kedua, siapkan mental kita untuk menerima total harga obat dari resep dokter. Apalagi kalau sang dokter udah memberi kata-kata,

“Saya kasih obat yang bagus deh..”

Radang tenggorokan ini telah memberi pelajaran berharga. Di atas motor saat perjalanan kembali ke kantor gue teringet lagu soundtrack sinetron jaman dulu yang judulnya Keluarga Cemara. Untuk nyeneng-nyenengin hati yang rada gelisah, gue mengadaptasi lagu dan bersenandung...

Harta yang paling berharga adalah kesehatan..

Ciawi, 1 November 2008

Tanggal satu di hari sabtu. Awal Bulan tapi belum gajian...

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

“Siapa bilang sekarang tahun 2008?”

“Siapa bilang sekarang tahun 2008?”

Oleh :

Bobby Savero*

Namanya Sukayat. Setahu saya, dulunya ia gagah. Maklum mantan aktivis. Badannya tegap. Bicaranya ceplas-ceplos, tapi bukan asal bicara. Gelar pada namanya “baru” sarjana hukum, belum master, boro-boro doktor. Tapi siapa yang meragukan mantan dosen saya semasa kuliah itu. Usianya sudah cukup tua, lebih dari setengah abad. Namun gerakannya masih enerjik. Selain pembahasan kuliahnya yang to the point, jelas, tak bertele-tele, yang paling saya ingat, dia tak pernah memberi jarak pergaulannya dengan kami. Padahal, kalau mau main senior-senioran, sepertinya kami harus memanggil beliau opa. Eh, dengan cueknya dia malah ber-“gue-elu.”

Kelebihan lain Pak Kayat (biasa ia dipanggil), jarak yang jauh antara pandangan, pendapat dan pemikiran antara kaum tua dan kaum muda, yang sejak zaman dahulu sudah ada (saat Bung Karno diculik ke rengasdengklok semasa menjelang proklamasi lebih kurang karena adanya gap golongan tua dan muda, kan?) serasa tidak ada. Di hadapannya kami serasa kawan. Pikiran beliau terbuka, sehingga ilmunya, ditambah dengan diskusi bersama dengan kami, ditambah dengan nasehatnya yang tidak menceramahi membuat suasana kuliah hukum saat itu begitu nyaman dikenang.

Kini Pak Kayat sedang terbaring sakit. Stroke ringan. Pria yang konon juga kenal baik dengan pengacara ternama yang kini anggota Dewan Pertimbangan Presiden Adnan Buyung Nasution itu kini seperti tidak sedang berada dalam dirinya. Itu kata SMS yang saya terima. Lebih lanjut si SMS juga memberitahu sekilas, Pak Kayat juga terpengaruhi ingatannya. Ah, mudah-mudahan saja tidak benar. Kalaupun benar, semoga bukanlah gejala permanen. Saya takut.

Saya hanya takut belum dapat lagi menemui sosok dari kalangan tua yang berpikiran terbuka, yang membuat kami yang masih muda menaruh hormat tanpa dipaksa. Yah, wakil dari golongan tua yang sangat berpendidikan. Walau “Cuma” S1, tapi rasanya tak pernah sekalipun ia “baku hantam” sebagaimana para master atau doktor pengamat ,yang katanya intelek, di luar sana yang hanya bisa ribut soal kebijakan, tapi belum tentu becus menjalankan.

Saya hanya takut. Tak bisa lagi berbincang gurau dengan seorang tua, yang dapat saya jadikan tempat mengadu, mengenai kawan-kawan saya para pemuda di luar sana, yang dengan semangat 45 membakar ban sambil berdemonstrasi. Katanya menentang kenaikan dan pemborosan BBM. (Padahal rasanya bakar ban pakai minyak tanah juga pemborosan…entahlah).

Saya juga takut. Tak dapat pula berkeluh kesah dengan orang bijak dari kalangan tua, yang dapat saya jadikan tempat bercerita, ketika saya menemui orang tua lainnya, atau bapak-bapak, atau ibu-ibu, atau siapapun yang tiba-tiba menjadi pikun.

Pikun? Ya, pikun..Seperti percakapan yang melibatkan seorang bapak tua yang mungkin pikun dan pemuda yang merasa tidak pikun ini:

Pak tua pikun : “Nak, sekarang tanggal berapa ya?”

Pemuda tidak pikun : “Oh, tanggal 25 Mei 2008 pak, hari ahad tepatnya.”

Pak tua pikun : “Ah tak mungkin itu, kemarin kan masih tahun 60-an, mosok

sudah tahun 2000an, ya jangan ngelantur, Nak. Kamu kira,

bapak sudah ringkih begini mudah saja kau tipu.”

Pemuda tidak pikun : “Loh, betul pak. Buat apa saya bohong. Lihat pak, dunia sudah

begitu modern. Ini era millennium. Lihat, gedung-gedung bertingkat, mobil-mobil canggih, komputer portable, ponsel yang bisa motret. Ini tak mungkin tahun 60an, pak!”

Pak tua pikun : “Ah, apalagi itu Cuma omong kosong saja. Apa kau tidak lihat,

bukankah matamu masih awas, tak seperti aku ini. Coba lihat, di belakang gedung bertingkat masih banyak gubuk gelandangan, nilai uang rendah, harga minyak malah mahal, pekerjaan sulit dicari, kekerasan dan cara-cara represif masih digunakan, kriminalitas dimana-mana apa ini tahun 2000an. Malah aku takut, ini bukan pula tahun 60an, ini masih zaman primitif!”

Pemuda tidak pikun : “Tapi pak…”

Pak tua pikun : “Tunggu dulu. Lalu masa iya, jika sekarang tahun 2008?

Indonesia masih miskin-miskin juga. Ya wong saya veteran. Saya tahu betul, sejak tahun 1945 Indonesia sedang berbangkit mejadi bangsa yang maju, besar kaya, gemah ripah loh jinawi. Bangsa merdeka yang berdikari dan mensejahterakan Ya kan?”

Pemuda tidak pikun : (diam. Bukan karena tidak ada dialog, tapi tak mampu menjawab)

Nah itulah. Bagaimana dan kemana saya akan bercerita jika tidak pada orang-orang tua yang Ing Madya Mangun Karsa, Ing Ngarsa Sung Tulada, Tut Wuri Handayani seperti Pak Kayat itu? Apa peduli “orang-orang pikun” soal angka-angka APBN, beban subsidi, atau eskalasi harga minyak? Bagaimana pula saya menjelaskan dengan bahasa sederhana kebijakan pemerintah menaikan harga BBM yang katanya tidak pro rakyat ini. Saya mulai kehabisan tokoh bijaksana untuk memahami kerumitan masalah negeri ini, berdiskusi, memahami, lalu mencari solusi (bukan hanya demonstrasi).

Ah, Pak Kayat..

Maaf pak, saya hanya takut…

26 Mei 2008

*Pemuda belum pikun yang takut pikun mendadak karena tidak bisa menjawab pertanyaan sederhana, Siapa bilang sekarang tahun 2008?

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Alhamdulillah...
Akhirnya bisa ngisi blog ini lagi..
Sebenernya pengen ruitn nulis disini,,
yah sekedar self-actualization...
Tapi ada aja yang ngalangin, (atau emang dasarnya males ya?he2..)
Yaudah deh, sebagai awalan, langsung si penulis gadungan masukin 9 posts,,
hasil ngoprek2 komputer buat nyari tulisan yang masih layak buat di-posts,,
mudah2an, setelah ini bakal banyak tulisan-tulisan baru lainnya... Amien..

Oya, mungkin dari kalangan pembaca (halah, yakin amat ada yang baca, hi2),
ada yang menyadari kalau ada yang berbeda di blog ini..


Yap betul!
Sekarang gue make nama lain, Penulis Gadungan...
Kenapa?
Ya abis, dari dulu ngaku2 penulis tapi kok gak produktif. Tapi, ya masih ndak rela kalo melepas sama sekali cap penulis dalam hati. Jadi, biar ga dosa2 amat, gue pake nama penulis gadungan ajah...
Ya kalo ga produktif, namanya juga penulis gadungan!!Hahahaha...


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

TAKDIR

Takdir

Salah seorang kawan suatu hari melontarkan wacana takdir ke dalam percakapan. Dengan kelembutan yang khas, ia menyatakan percaya bahwa setiap hal yang terjadi dalam dimensi segala, diperinci langsung oleh Tuhan. Manusia hanya menjalankan saja dan menerima skenario Sang Maha Suci. Otoritas manusia nyaris tiada artinya.

Begitu kecilkah manusia? Bagaimanakah posisi manusia selayaknya saat memandang takdir? Bagaimana dengan kehendak bebas dan kekuasaan manusia untuk memilih hidup? Bagaimana dengan usaha-usaha untuk merubah nasib?

Pertanyaan yang begitu deras itu kemudian tertabrak ketakutan terjebak dalam sesat pikir. Seorang kawan lain sembari berkelakar mengingatkan, “Hati-hati, banyak orang menjadi atheis karena mempersoalkan takdir.”

Tetapi, rasanya menjadi pasif dan manut saja pada semua yang disodorkan tidak sesuai dengan tujuan Tuhan memberi manusia akal, pikiran, dan nurani. Seandainya Galileo Galilei dulu termasuk tipikal orang yang nrimo, mungkin sampai saat ini kita percaya saja dengan konsep geosentris. Tuhan mau kita belajar, dan menabrak batas-batas ketakutan itu. Menabrak pula transedensi keraguan itu.

Filsuf Inggris Francis Bacon (1561-1626) memberi inspirasi, “Bila manusia mulai dengan kepastian ia akan berakhir dalam keraguan. Tetapi bila ia puas untuk mulai dengan keraguan, ia akan berakhir dengan kepastian.” Kita pilih saja jalan untuk berakhir dalam keyakinan atas kepastian walau dimulai dengan pijakan keraguan. Daripada mejadi seperti filsuf abad ke delapan belas, Edmund Burke, yang ketakutan dengan ide-ide pembelajaran dan mengatakan belajar hanya akan dilemparkan ke dalam lumpur dan diinjak seperti babi. Rasanya yang menjadi lumpur dan terinjak babi, kini, adalah dirinya sendiri.

Masalahnya, takdir memang objek yang absurd. Tak ada data ilmiah dan verifikasi kasat mata atas objek ini. Ini yang menjadikan diskusi mengenai takdir adalah jembatan menuju sebuah kembatan tipis yang menghubungkan antara logika dan keyakinan. Dari sini kita dapat berangkat melalui pilihan. Kita dapat mempercayai konsep bahwa nasib kita sendiri yang menentukan atau ditentukan secara permanen sejak awal dalam proses penciptaan. Beberapa kepercayaan dapat berpolar pada dua kubu ini. Dalil mereka saling menguatkan dan melemahkan.

Seorang apatis dapat saja kemudian menerima penuh bahwa kita adalah “boneka Tuhan” dalam skenarioNya. Tak ada pilihan lain. Lalu untuk apa otak kita diciptakan? Para pemalas akan diam saja dan kemudioan menjadikan takdir sebagai justifikasi penderitaan yang telah dan mereka hadapi. Sebagaimana John Oliver Hobbes, “Men heap together the mistakes of their lives and create a monster they call destiny.” Toh penghuni surga dan neraka telah ditentukan sebelumnya.

Yang menarik kemudian, Daud Ibrahim Al-Shawni dalam semi-fiksi kontroversialnya, Iblis Menggugat Tuhan, secara tegas menyatakan, “Jika ada pengampunan, maka bukan tak mungkin memang kehendak bebas itu ada.” Selain itu, jika memang kehendak bebas itu tak ada, kasihan juga malaikat-malaikat pencatat amal yang mengerjakan sesuatu yang hasilnya sudah ditentukan sebelumya.

Lalu? Sulit memang berdebat dalam koridor keyakinan, karena tumbukannya hanya memiliki kekuatan “saya benar.” Kecuali jika kita cukup arif untuk melihat kesempurnaan makhluk. Kesempurnaan penciptaan. Anatomi tubuh kita saja misalnya, bagaimana setiap bagian tanpa dapat direncanakan manusia dapat bekerja dengan tujuan masing-masing yang menjadi simfoni indah manusia, yaitu hidup itu sendiri. Dalam hal ini, bolehlah kita senada dengan pakar psikoanalisis Sigmund Freud yang dituding tak ilmiah, bahwa “Anatomy is destiny.” Dalam hal-hal seperti ini logika memang berkompromi, ada kekuasaan yang mengatur detil bagian hidup manusia. Kita tak dapat memilih anatomi sendiri bukan?

Tapi, hal itu tidak dengan sendirinya meletakkan kita untuk menyerah pada takdir. Tuhan memberi kita petunjuk melalui kitab suciNya agar kita dapat membedakan mana yang benar dan salah. Ada konsep pilihan di sana. Tuhan memberkahi para pekerja keras dengan kejayaan dan para pemalas kemiskinan. Menjadi kaya dan miskin kemudian menjadi pilihan. Indeks Prestasi dalam kuliah, contohnya, baik atau tidak juga dipengaruhi sejauh mana kita berusaha. Maka hidup menjadi pilihan.

Kontradiksi antara takdir yang telah diplot dan takdir yang kita pilih sendiri memang akan membawa dilema besar. Tapi, kita ambil sederhananya saja. Kembali ke konsep orang-orang tua. Mati, lahir, jodoh di tangan Tuhan. Tapi percayalah Tuhan bukan diktator, ia memberi kita petunjuk bukan doktrin belaka. Membuat kita dapat menentukan nasib seperti apa yang ingin kita terima. Tuhan memnerikan kepastian dan juga memberikan pilihan. Pilihan-pilihan itulah areal di mana manusia bebas berkehendak. Kebebasan yang tidak mengurangi kekuasaan tuhan sedikit pun, karena kebebasan dan konsekuensi atas pilihan itu sendiri, itulah takdir yang sebenarnya.

(Diterbitkan dalam Majalah Civitas Edisi 1 Tahun 2007)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

TAKDIR

Takdir

Salah seorang kawan suatu hari melontarkan wacana takdir ke dalam percakapan. Dengan kelembutan yang khas, ia menyatakan percaya bahwa setiap hal yang terjadi dalam dimensi segala, diperinci langsung oleh Tuhan. Manusia hanya menjalankan saja dan menerima skenario Sang Maha Suci. Otoritas manusia nyaris tiada artinya.

Begitu kecilkah manusia? Bagaimanakah posisi manusia selayaknya saat memandang takdir? Bagaimana dengan kehendak bebas dan kekuasaan manusia untuk memilih hidup? Bagaimana dengan usaha-usaha untuk merubah nasib?

Pertanyaan yang begitu deras itu kemudian tertabrak ketakutan terjebak dalam sesat pikir. Seorang kawan lain sembari berkelakar mengingatkan, “Hati-hati, banyak orang menjadi atheis karena mempersoalkan takdir.”

Tetapi, rasanya menjadi pasif dan manut saja pada semua yang disodorkan tidak sesuai dengan tujuan Tuhan memberi manusia akal, pikiran, dan nurani. Seandainya Galileo Galilei dulu termasuk tipikal orang yang nrimo, mungkin sampai saat ini kita percaya saja dengan konsep geosentris. Tuhan mau kita belajar, dan menabrak batas-batas ketakutan itu. Menabrak pula transedensi keraguan itu.

Filsuf Inggris Francis Bacon (1561-1626) memberi inspirasi, “Bila manusia mulai dengan kepastian ia akan berakhir dalam keraguan. Tetapi bila ia puas untuk mulai dengan keraguan, ia akan berakhir dengan kepastian.” Kita pilih saja jalan untuk berakhir dalam keyakinan atas kepastian walau dimulai dengan pijakan keraguan. Daripada mejadi seperti filsuf abad ke delapan belas, Edmund Burke, yang ketakutan dengan ide-ide pembelajaran dan mengatakan belajar hanya akan dilemparkan ke dalam lumpur dan diinjak seperti babi. Rasanya yang menjadi lumpur dan terinjak babi, kini, adalah dirinya sendiri.

Masalahnya, takdir memang objek yang absurd. Tak ada data ilmiah dan verifikasi kasat mata atas objek ini. Ini yang menjadikan diskusi mengenai takdir adalah jembatan menuju sebuah kembatan tipis yang menghubungkan antara logika dan keyakinan. Dari sini kita dapat berangkat melalui pilihan. Kita dapat mempercayai konsep bahwa nasib kita sendiri yang menentukan atau ditentukan secara permanen sejak awal dalam proses penciptaan. Beberapa kepercayaan dapat berpolar pada dua kubu ini. Dalil mereka saling menguatkan dan melemahkan.

Seorang apatis dapat saja kemudian menerima penuh bahwa kita adalah “boneka Tuhan” dalam skenarioNya. Tak ada pilihan lain. Lalu untuk apa otak kita diciptakan? Para pemalas akan diam saja dan kemudioan menjadikan takdir sebagai justifikasi penderitaan yang telah dan mereka hadapi. Sebagaimana John Oliver Hobbes, “Men heap together the mistakes of their lives and create a monster they call destiny.” Toh penghuni surga dan neraka telah ditentukan sebelumnya.

Yang menarik kemudian, Daud Ibrahim Al-Shawni dalam semi-fiksi kontroversialnya, Iblis Menggugat Tuhan, secara tegas menyatakan, “Jika ada pengampunan, maka bukan tak mungkin memang kehendak bebas itu ada.” Selain itu, jika memang kehendak bebas itu tak ada, kasihan juga malaikat-malaikat pencatat amal yang mengerjakan sesuatu yang hasilnya sudah ditentukan sebelumya.

Lalu? Sulit memang berdebat dalam koridor keyakinan, karena tumbukannya hanya memiliki kekuatan “saya benar.” Kecuali jika kita cukup arif untuk melihat kesempurnaan makhluk. Kesempurnaan penciptaan. Anatomi tubuh kita saja misalnya, bagaimana setiap bagian tanpa dapat direncanakan manusia dapat bekerja dengan tujuan masing-masing yang menjadi simfoni indah manusia, yaitu hidup itu sendiri. Dalam hal ini, bolehlah kita senada dengan pakar psikoanalisis Sigmund Freud yang dituding tak ilmiah, bahwa “Anatomy is destiny.” Dalam hal-hal seperti ini logika memang berkompromi, ada kekuasaan yang mengatur detil bagian hidup manusia. Kita tak dapat memilih anatomi sendiri bukan?

Tapi, hal itu tidak dengan sendirinya meletakkan kita untuk menyerah pada takdir. Tuhan memberi kita petunjuk melalui kitab suciNya agar kita dapat membedakan mana yang benar dan salah. Ada konsep pilihan di sana. Tuhan memberkahi para pekerja keras dengan kejayaan dan para pemalas kemiskinan. Menjadi kaya dan miskin kemudian menjadi pilihan. Indeks Prestasi dalam kuliah, contohnya, baik atau tidak juga dipengaruhi sejauh mana kita berusaha. Maka hidup menjadi pilihan.

Kontradiksi antara takdir yang telah diplot dan takdir yang kita pilih sendiri memang akan membawa dilema besar. Tapi, kita ambil sederhananya saja. Kembali ke konsep orang-orang tua. Mati, lahir, jodoh di tangan Tuhan. Tapi percayalah Tuhan bukan diktator, ia memberi kita petunjuk bukan doktrin belaka. Membuat kita dapat menentukan nasib seperti apa yang ingin kita terima. Tuhan memnerikan kepastian dan juga memberikan pilihan. Pilihan-pilihan itulah areal di mana manusia bebas berkehendak. Kebebasan yang tidak mengurangi kekuasaan tuhan sedikit pun, karena kebebasan dan konsekuensi atas pilihan itu sendiri, itulah takdir yang sebenarnya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS