<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-9040124412776407669</id><updated>2011-08-19T02:16:15.828-07:00</updated><category term='Mukadimah'/><category term='Religious'/><category term='Politik'/><title type='text'>Sebuah Catatan Sebelum Lupa....</title><subtitle type='html'>Catatan ringan untuk mengingatkan saya atau mungkin kita semua...</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://bobbysavero.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9040124412776407669/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bobbysavero.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Si Savero...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12201226362621308776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_wSBRHU7agWA/SDEd7tEyf7I/AAAAAAAAAAM/XspdgeLaje0/S220/My+photo(189_1).jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>26</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9040124412776407669.post-5572338986851843319</id><published>2010-05-05T09:36:00.000-07:00</published><updated>2010-05-05T09:38:43.089-07:00</updated><title type='text'>Setelah ini, lalu apa? (Tanggap Cepat Mundurnya Sri Mulyani…)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Setelah ini, lalu apa? (Tanggap Cepat Mundurnya Sri Mulyani…)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---bukan bersifat ilmiah, hanya pengamatan belaka---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jose Mourinho, pelatih tim sepakbola Inter Milan, ketika ditanya mengenai tanggal 5 Mei menjawab dengan serius, “Satu-satunya hal yang saya ingat, tanggal 5 Mei adakah hari di mana Napoleon meninggal.” (www.detik.com). Sedangkan bila kita tanyakan pada pemerhati marxisme, tanggal 5 Mei tentunya akan dikenang sebagai hari kelahiran Karl Marx, penulis Manifesto Komunis. Tokoh yang menginspirasi lahirnya gerakan komunis di seluruh dunia dengan bernagai model dan tafsirannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan di Indonesia, tanggal 5 Mei 2010 adalah hari yang berisi berita yang mengejutkan dan ironis. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, menteri keuangan terbaik dunia yang memiliki kapasitas dan kapabilitas yang mumpuni menyampaikan pengunduran diri dari posisi yang sangat strategis di republik ini. Tentu saja pengunduran ini dihubungkan dengan tekanan politik, khususnya dari fraksi-fraksi oposisi di DPR terhadap Sri Mulyani. Pembelaan presiden kepada Sri Mulyani atas tuduhan Pansus Century ternyata gagal memberikan situasi yang kondusif terhadap hubungan bilateral DPR-Menteri Keuangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa jadi, inilah jalan tengah yang dipilih Sri Mulyani untuk menghindari kondisi chaotic dalam perekonomian Indonesia. Masih ingat kasus hangat terakhir saat sebagian anggota DPR memilih walk out saat pembahasan RAPBP-Perubahan 2010 yang NYATA-NYATA akan memberi keuntungan pada rakyat Indonesia. Ketika ego sektoral antara dirinya dan parlemen harus diadu, demi kepentingan yang lebih besar Sri memilih mundur dengan elegan dan memanfaatkan tawaran dari Bank Dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yakin betul bahwa bukan alasan Sri Mulyani untuk melarikan diri dari KPK apalagi mencari penghasilan lebih baik. Kalau untuk penghasilan atau materi, sudah dari dulu wanita asal Lampung ini mundur dari jabatannya. Jabatan yang bertekanan tinggi, agenda sangat padat, tanggung jawab masif, dan penghasilan yang tak sebanding dengan direksi bank, misalnya. Kalau ada yang bilang saya bias dalam menilai Sri Mulyani, ya saya memahami, saya memang bagian dari Kementerian Keuangan, tapi justru karena itu saya memahami betul kebijakan-kebijakan Sri Mulyani yang telah “menyulap” sebuah departemen korup menjadi kementerian yang memiliki visi terdepan dalam reformasi birokrasi, bahkan menjadi pilot project-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, kita (ya, kita semua) tak bisa berlama-lama meratapi kepergian beliau per 1 Juni 2010 nanti. At last, the show must go on! Transisi dari Sri ke  penggantinya kelak harus mulus sehingga tak berimbas buruk pada memburuknya kondisi makro dan mikro ekonomi di Indonesia. Untuk memastikan itu semua terjadi, maka sebuah action plan harus disusun. Bagi penulis, hal-hal dibawah ini adalah hal yang sangat penting untuk diperhatikan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama,&lt;br /&gt;Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bersama Wakil Presiden Boediono harus mengerahkan segala daya pikir dan visinya untuk segera menunjuk pengganti Sri Mulyani. Sulit memang untuk mencari yang memiliki bobot sama persis, tapi setidaknya Menteri Keuangan selanjutnya harus memenuhi minimum requirements sebagai berikut:&lt;br /&gt;a. Memiliki komitmen kuat untuk melanjutkan reformasi birokrasi&lt;br /&gt;b. Memiliki visi makro dan mikro ekonomi yang seimbang&lt;br /&gt;c. Memiliki kemampuan dan pengetahuan moneter serta fiskal yang memadai&lt;br /&gt;d. Memiliki track record yang bersih&lt;br /&gt;e. Bukan berasal dari partai politik&lt;br /&gt;Lima syarat di atas adalah harga mati. Mengapa? Karena setidaknya, lima hal itulah yang menjadi pondasi dasar kesuksesan Sri Mulyani dalam memimpin lebih dari 60.000 pegawai Kementerian Keuangan untuk mencapai tujuan negara. Saya pribadi cukup kesulitan untuk mencari figur yang memenuhi syarat, namun nama Darmin Nasution rasanya bisalah untuk dijadikan kandidat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Darmin Nasution memiliki tingkat akseptibilitas yang tinggi, dari kalangan profesional nonpartisan, dan merupakan kompatriot Sri Mulyani indrawati saat masih menjabat Direktur Jenderal Pajak. Sukses mengawal reformasi birokrasi di Ditjen yang dulu dikenal “basah” itu dan kemudian diakui DPR memiliki kualitas mumpuni dalam bidang moneter sehingga menang telak dalam pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia. Tegas dan cerdas. Namun, permasalahannya adalah apabila Darmin “dicomot” dari BI, apakah SBY mampu menemukan sosok sekaliber Darmin untuk menangani BI? Pertanyaan yang tentunya hanya bisa dijawab oleh panglima tertinggi negeri ini sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua,&lt;br /&gt;Yang paling terpukul dengan mundurnya Sri Mulyani adalah jajaran Kementerian Keuangan, khususnya Direktorat Jenderal Pajak yang citranya luluhlantak karena perkara Gayus Tambunan. Setelah badai century yang menimpa Sri Mulyani, kasus Gayus memang menjadi masalah berikutnya yang harus diselesaikan. Kementeria Keuangan berada dalam sorotan dan tekanan, bahkan diancam dicabut remunerasinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menanggapi kasus Gayus, Sri Mulyani tetap menjadi pimpinan yang objektif. Dia dan Direktur Jenderal Pajak bahu membahu membuat berbagai terobosan untuk menyempurnakan program reformasi di Ditjen tersebut. Sebagian besar pegawai pajak yang bersih tapi mentalnya down akibat kasus ini perlahan-lahan kembali membaik. Mereka (dalam hal ini, juga saya) melihat betul bahwa Sri Mulyani menanggapi kasus ini dengan tepat: hukum penjahatnya, sempurnakan lubang sistemnya, bela yang tidak bersalah. Nah, bila penerus Sri Mulyani adalah figur yang satu visi, sehingga mampu melaksanakan hal yang sama tentunya akan memompa semangat pegawai Kementerian Keuangan untuk terus dan terus berbenah dan menuju cita-cita yang diharapkan. Tapi, jika pencabutan remunerasi misalnya, adalah langkah awal menteri berikutnya maka kondisi mental breakdown tadi akan mencapai titik nadir dan menghancurkan proses reformasi yang telah berjalan cukup baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga,&lt;br /&gt;Kehilangan besar juga sebenarnya akan menghantui investor, bankir, calon investor dan masyarakat pada umumnya. Sri Mulyani nyata-nyata telah sukses mengendalikan perekonomian Indonesia saat menghadapi badai krisis, sehingga krisis moneter seperti yang terjadi tahun 1998 bisa dihindari. Kini, figur yang memunculkan rasa aman itu segera hengkang. Apakah kita sebagai masyarakat harus melihat lagi figur  profesional digantikan dengan perwakilan partai??? Apakah kita hanya akan diam melihat figur yang benar-benar membantu perbaikan Indonesia berkarya di luar sana dibandingkan di sini, di tanahnya sendiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana?&lt;br /&gt;Saya pribadi, mulai hari ini berjanji pada diri sendir untuk mengingat dan sebisa mungkin mencatat tokoh-tokoh yang omong besar, pencari masalah, penuduh yang mahir untuk tidak saya pilih di Pemilu legislatif mendatang. Mengapa? Karena kondisi politik yang tidak kondusif ini sebagian besar dikarenakan tindakan hiperbola para politisi pencari muka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, mulai hari ini juga saya akan mendukung tokoh-tokoh reformis yang logis untuk menjadi pimpinan negeri ini. Baik dari tingkat RT hingga presiden. Mengapa? Karena dengan begitulah saya bisa membantu negeri ini untuk memiliki Sri Mulyani-Sri Mulyani lain baik di level grass root sampai di level tertinggi. Saya akan mencoba meneliti dahulu perilaku, track record dan kapabilitas seseorang sebelum saya memutuskan memilihnya menjadi pemimpin.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, bagi para pegawai Kementerian Keuangan atau bahkan semua yang bersimpati pada seorang Sri Mulyani, dengarlah kata-kata lugas dari rekan kita Elma Zulkisti: “Mungkin Bu Sri memang akan pergi... tapi bukankah negeri ini masih mempunyai Anda, Anda, Anda, Anda, dan Anda... Bu Sri sudah menanam pondasi yang baik untuk negeri ini??? Hayuk atuh teruskan perjuangan Bu Sri...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, Sri Mulyani memang akan pergi..Tapi negeri ini masih punya KITA!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;5 Mei 2010&lt;br /&gt;23.29&lt;br /&gt;“Di tengah Jakarta, Pusat berita dan cerita”&lt;br /&gt;“Lebih baik berjuang darpada menyerah pada stagnasi..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bobby Savero&lt;br /&gt;Alumnus Sekolah Tinggi Akuntansi Negara,&lt;br /&gt;Saat ini merupakan staf pada Kementeraian Keuangan&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9040124412776407669-5572338986851843319?l=bobbysavero.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bobbysavero.blogspot.com/feeds/5572338986851843319/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bobbysavero.blogspot.com/2010/05/setelah-ini-lalu-apa-tanggap-cepat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9040124412776407669/posts/default/5572338986851843319'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9040124412776407669/posts/default/5572338986851843319'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bobbysavero.blogspot.com/2010/05/setelah-ini-lalu-apa-tanggap-cepat.html' title='Setelah ini, lalu apa? (Tanggap Cepat Mundurnya Sri Mulyani…)'/><author><name>Si Savero...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12201226362621308776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_wSBRHU7agWA/SDEd7tEyf7I/AAAAAAAAAAM/XspdgeLaje0/S220/My+photo(189_1).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9040124412776407669.post-1783839157562942092</id><published>2010-04-29T15:54:00.000-07:00</published><updated>2010-04-29T17:40:06.664-07:00</updated><title type='text'>Belajar Keadilan dari Sepak Bola (Kontemplasi Pertandingan Barcelona VS Inter)</title><content type='html'>Belajar Keadilan dari Sepak Bola (Kontemplasi Pertandingan Barcelona VS Inter)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Bobby Savero&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingar bingar perbincangan mengenai partai semifinal Liga Champions Eropa, antara raksasa Barcelona dengan jago Italia Internazionale saat tulisan ini dibuat masih mengemuka. Partai terakhir yang meloloskan Inter ke final dianggap sebagian kalangan sebuah pertandingan yang menjemukan dan bahkan disebut sebagai sepak bola negatif. Apa pasal? Karena sebagaimana diketahui, Jose Mourinho, pelatih Inter meracik strategi bertahan ketat hampir di sepanjang pertandingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari semua pemain inter yang ada di lapangan, semuana mengambil fungsi sebagai pemain bertahan. Hasilnya, pertandingan selama 90 menit hanya berkutat di daerah pertahanan Inter saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang menilai, pertandingan itu sebagai pertandingan yang menjemukan serta tidak menarik. Tapi buat saya, justru saya belajar beberapa hal dari pertandingan yang dilangsungkan di Camp Nou, stadion terbesar di daratan eropa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya! Saya belajar unsur-unsur keadilan yang muncul dari beberapa aspek pertandingan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, Hasil pertandingan yang berakhir dengan kemenangan Barcelona 1-0 adalah sebuah keadilan. Mengapa? Tentu saja, bayangkan sebuah tim dengan permainan paling atraktif dan serangan terbaik dunia berhadapan dengan tim yang pada pertandingan itu mengusung ultra defensif football dan menampilkan super catenaccio yang bolehlah kita sebut sebagai pertahanan paling rapat di dunia. Maka hasil yang adil adalah tim yang menyerang berhasil mencetak gol dan tim yang bertahan berhasil menahan tim lawan sekuat mungkin untuk membuat banyak gol. Jelas, hasil 1-0 adalah representasi yang adil dari pertandingan dua filosofi bertanding di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, pendukung Barca (sebutan lain Barcelona) telah melakukan beberapa hal yang menodai nilai sportivitas yang dijunung tinggi dalam&lt;br /&gt;olahraga. Meraka melakukan teror fisik dan mencoba melakukan gangguan langsung kepada kubu Unter Milan (selengkapnya bisa dibaca di link ini: http://bola.okezone.com/read/2010/04/28/261/327107/mourinho-butuh-bodyguard-di-barcelona atau ini: http://bola.okezone.com/read/2010/04/29/261/327442/barca-tidak-fair atau bisa dicari di situs-situs berita lainnya). Nah, apal balasan untuk tindakan yang tidak jantan ini? Balasan yang sangat menyakitkan, yaitu tersingkirnya Barcelona dari ajang Liga Champions Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, dalam pertandingan seorang pemain Inter diusir keluar oleh wasit. Pemain itu adalah Thiago Motta. Uniknya, sebelum pertandingan pemain kelahiran Sao Paulo ini mengatakan "Kami tidak akan bermain 'kotor'. Saya melihat permainan Barcelona di televisi dan pemain mereka sering melakukan diving,” ( Sumber: http://bola.okezone.com/read/2010/04/28/261/327131/pemain-barca-tukang-diving). Bisa jadi pernyataan ini adalah upaya untuk meningkatkan tensi pertandingandan memulai psy war belaka. Tapi apa yang terjadi? Mungkin hanya lelucon saja, tapi karena Motta melancarkan tuduhan yang entahlah berdasar atau tidak itu, kemudian pada pertandingan dia benar-benar mendapat kartu merah akibat aksi dari Sergio Busquets. Senjata makan tuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin tiga hal di atas hanya bahasan singkat saja, dan mungkin bagi para suporter bisa jadi tidak adil. Wajar saja, semua orang berhak memiliki pendapatnya masing-masing. Hanya saja, tentunya pelajaran keadilan ini bisa kita resapi agar kita lebih berhati-hati dalam bersikap dan berperilaku. Tiga hal di atas memberi bukti pada kita, bahwa apa yang kita lakukan pada akhirnya akan menghasilkan efek sektoral bagi kita sendiri. Pilihan strategi yang kita susun, akan berakibat pada hasil akhir peperangan yang kita hadapi. Tindakan tidak sportif yang kita lakukan bisa jadi akan menampar diri kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak contoh sebenarnya yang bisa diambil, bahwa sikap dan perilaku kita akan memantul pada diri kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya pun tidak,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan sedang menyiapkan balasan atas perilaku kita. Maka tak ada ruginya, mulai hari ini, kita belajar untuk berkeadilan. Mencoba bersikap adil pada setiap momen. Menjadi hakim bagi diri kita sendiri, memilih hal yang satu untuk meminggirkan yang lain dan menentukan hal yang kita anggap adil. Kesemuanya adalah pekerjaan yudisial yang tampaknya sepele tapi memang terjadi di kehidupan sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mampukah? Insya Allah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kamar yang masih remang,&lt;br /&gt;30 April 2010&lt;br /&gt;06.44 WIB&lt;br /&gt;"Sebelum berangkat ke kantor"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9040124412776407669-1783839157562942092?l=bobbysavero.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bobbysavero.blogspot.com/feeds/1783839157562942092/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bobbysavero.blogspot.com/2010/04/belajar-keadilan-dari-sepak-bola.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9040124412776407669/posts/default/1783839157562942092'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9040124412776407669/posts/default/1783839157562942092'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bobbysavero.blogspot.com/2010/04/belajar-keadilan-dari-sepak-bola.html' title='Belajar Keadilan dari Sepak Bola (Kontemplasi Pertandingan Barcelona VS Inter)'/><author><name>Si Savero...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12201226362621308776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_wSBRHU7agWA/SDEd7tEyf7I/AAAAAAAAAAM/XspdgeLaje0/S220/My+photo(189_1).jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9040124412776407669.post-5757697295365251546</id><published>2010-04-27T07:12:00.000-07:00</published><updated>2010-04-27T07:16:26.260-07:00</updated><title type='text'>Cerita dari Pluit (akhirnya menulis lagi…)</title><content type='html'>Cerita dari Pluit (akhirnya menulis lagi…)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah lama saya tak menulis…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan karena sombong, kadang bukan karena sibuk..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya punya banyak waktu luang, tapi enatah kenapa sulit sekali untuk mulai menggerakkan tangan untuk menari-nari kembali di atas tuts keyboard menuangkan opini, ide, asa, cerita, atau sekedar keluh kesah..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aneh memang, padahal sebenarnya di hari-hari kemarin banyak sekali hal yang bisa saya tuliskan.. Dari pengalaman setelah mengalami kecelakaan kecil, euforia dan excitement saat mendapat amanah dan tugas yang baru di kantor, munculnya badai besar di instansi tempat saya membaktikan diri, juga kerumitan dan keriuhan persiapan serta proses pernikahan=)..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah semua sudah dilewati,,&lt;br /&gt;Pertanyaan yang tak kunjung saya temukan jawabannya adalah, kenapa saya lama sekali tak menulis?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin masalah mood masih menjadi alasan utama, alasan yang sangat dangkal dan tidak dapat dipertanggungjawabkan  bahkan di hadapan diri saya sendiri. Makanya, saya juga terkejut ketika tiba-tiba tangan membuka laptop dan mulai menulis kalimat-kalimat ini. Hoo, mood-kah yang sedang kembali ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan saja..&lt;br /&gt;Baiklah tampaknya tangan ini ingin menulis kisahsaya hari ini. Mudah-mudahan ada manfaatnya untuk dibagi. Amiin..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi begini, tadi siang saya road show ke beberapa bank. Hehe, sebenarnya bukan road show, tapi ya mirip-miriplah, keliling-keliling. Saya datang ke tiga bank untuk melaksanakan tugas negara (ck..ck.ck.serem amat bahasanya). Nah di salah satu bank di daerah pluit itu, saya berurusan langsung dengan kepala cabangnya.&lt;br /&gt;Orangnya masih muda, tapi terlihat betul pekerja keras. Punya manner yang baik, menghormati kami yang muda. Sebenarnya pertama kali ketemu, impresinya agak menyebalkan, saya dan rekan saya dikira bukan PNS bukan pekerja tetap. Dia takjub melihat kami yang masih muda-muda ini datang untuk melakukan pemblokiran rekening (beuh serem..hihi) mewakili instansi kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, selanjutnya karena tahu kami masih muda-muda, pak kepala cabang ini sambil melayani kami juga mengajak kami berbincang-bincang. Semakin lama, gayab icaranya seperti kakak berbicara pada adiknya. Saya sih senang-senang saja, dapat ilmu-ilmu dari yang sudah berpengalaman. Hehe..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajaran yang bisa saya ingat adalah, dia berkali-kali mengingatkan, pertemanan itu adalah modal yang sangat penting. Kita boleh pintar, cerdas, atau bahkan jenius, tapi tanpa pergaulan, pertemanan, atau bahkan jaringan, bisa jadi kita tidak mampu menggunakan kecerdasan atau kemampuan kita di tempat yang benar. Kata beliau, saya sampai di posisi ini ya antara lain karena saya menjalin pertemanan yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, karena tahu saya baru menikah, dia berpesan bahwa aset pertama yang harus dimiliki adalah rumah. Rumah harganya nyaris tak pernah turun dan akan menjadi homebase bagi keluarga kita nantinya. Beli rumah sesuai dengan kemampuan dan jangan memaksakan diri. Tapi tetap ingat bahwa posisi rumah yang dibeli haruslah mempertimbangkan keterjangkauan dengan kendaraan umum dan masuk mobil (walaupun kita belum punya mobil). Nah, jika suatu hari nanti punya rezeki lebih dan punya kemampuan untuk beli rumah baru, barulah beli yang lebih bagus, untuk sekarang yang penting punya homebase dan tempat bernaung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian masalah mobil. Menurut Pak Kepala Cabang, kalau nanti ada kesempatan dan rezeki untuk beli mobil, maka hitunglah dulu kebutuhan kita. Kalau akan dipake 1-2 tahun saja, maka beli saja mobil bekas. Tapi kalau diperkirakan akan dipakai lama, misalnya 5-6 tahun, maka paksakan beli mobil baru. Mobil baru harganya pasti akan jatuh, tapi paling tidak, selama 5-6 tahun itu kita akan lebih sedikit mengeluarkan uang untuk service dibandingkan dengan membeli mobil bekas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, dia juga bilang, kita harus hati-hati dalam bekerja. Idealisme harus dijaga tapi juga harus fleksibel. Kalau kita ekstrim dan keras sekali, kita malah akan dipentalkan dari sistem (kata dia sih..). Tapi kalau kita cerdas dan fleksibel tapi punya prinsip yang teguh, maka suatu hari kita akan mencapai posisi atau jabatan yang lebih tinggi. Nah, saat memiliki jabatan itulah idealisme kita akan lebih mudah untuk diaplikasikan karena kita jelas mempunyai bargaining power yang lebih kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepulang dari sana saya berpikir, untuk hal-hal rumah tangga saja, orang-orang seperti pak kepala cabang ini menggunakan strategi dan berpikir matang. Padahal kita eh saya, banyak mengambil keputusan secara impulsif alias spontan saja. Hmm, sepertinya setelah ini saya harus lebih hati-hati dalam bertindak dan lebih cerdas dalam mengambil keputusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih baik berjuang daripada menyerah pada stagnasi..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kosan yang gerah,&lt;br /&gt;27 April 2010&lt;br /&gt;09.14 WIB&lt;br /&gt;"Sambil menanti istriku pulang kuliah..=)"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9040124412776407669-5757697295365251546?l=bobbysavero.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bobbysavero.blogspot.com/feeds/5757697295365251546/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bobbysavero.blogspot.com/2010/04/cerita-dari-pluit-akhirnya-menulis-lagi.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9040124412776407669/posts/default/5757697295365251546'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9040124412776407669/posts/default/5757697295365251546'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bobbysavero.blogspot.com/2010/04/cerita-dari-pluit-akhirnya-menulis-lagi.html' title='Cerita dari Pluit (akhirnya menulis lagi…)'/><author><name>Si Savero...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12201226362621308776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_wSBRHU7agWA/SDEd7tEyf7I/AAAAAAAAAAM/XspdgeLaje0/S220/My+photo(189_1).jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9040124412776407669.post-6146934413962864051</id><published>2009-01-07T09:42:00.000-08:00</published><updated>2009-01-07T09:43:46.429-08:00</updated><title type='text'>“Tulisan Bingung Tentang Wanita”</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cintel%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cintel%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cintel%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:"Book Antiqua"; 	panose-1:2 4 6 2 5 3 5 3 3 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:"Monotype Corsiva"; 	panose-1:3 1 1 1 1 2 1 1 1 1; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:script; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:"Baskerville Old Face"; 	panose-1:2 2 6 2 8 5 5 2 3 3; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:3 0 0 0 1 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} a:link, span.MsoHyperlink 	{mso-style-priority:99; 	color:blue; 	mso-themecolor:hyperlink; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;} a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed 	{mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	color:purple; 	mso-themecolor:followedhyperlink; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoPapDefault 	{mso-style-type:export-only; 	margin-bottom:10.0pt; 	line-height:115%;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; 	mso-header-margin:35.4pt; 	mso-footer-margin:35.4pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0cm; 	mso-para-margin-right:0cm; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Baskerville Old Face&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;“Tulisan Bingung Tentang Wanita”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Monotype Corsiva&amp;quot;;"&gt;“Tulisan ini didedikasikan untuk Bapak Vincentius Andreyanto Hermawan, yang secara khusus meminta saya untuk membuat tulisan dengan objek yang sangat sulit ini. Sekaligus juga untuk kawan-kawan bujang yang akhirnya takluk ke pelukan wanita. Tak lupa, untuk setiap orang yang sama bingungnya dengan saya untuk mengerti objek yang rumit ini.”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Monotype Corsiva&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Pak Vincent sambil tertawa menyampaikan tantangannya. Tawa yang renyah, seperti biasa. Tapi tantangannya kali ini ternyata membawa saya pada kenihilan berpikir. Ya, awalnya tampak mudah. Pak Vincent hanya meminta saya untuk membuat tulisan mengenai wanita. “Sederhana saja,” pikir saya waktu itu. Kemudian tantangan itu coba saya sanggupi. Dan pencarian pun dimulai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Puluhan halaman web saya kunjungi, untuk mencari inspirasi dan bahan-bahan yang mungkin berguna. Ibu, adik, rekan kerja, hingga teman terdekat saya saya observasi sedikit demi sedikit. Pokoknya yang ada hubungannya dengan wanita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Tapi apa?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Buntu. Sekonyong-konyong semua buntu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Saya terjebak pada persepsi untuk memulainya. Saya mulai tidak mengerti dengan objek yang saya teliti ini, wanita. Wanita seperti apa yang akan saya tulis? Terlalu lebar dimensi yang saya hadapi. Wanita sekaliber Hawa yang turut andil membawa Adam ke bumikah? Atau wanita seperti Kartini yang tak kenal menyerah untuk konsisten pada perjuangannya atas hak-hak wanita? Atau mungkin wanita-wanita berbahaya yang bahkan meruntuhkan kedigdayaan rezim Kerajaan Prancis&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan berakhir di &lt;i style=""&gt;guillotine &lt;/i&gt;seperti Maria Antoinette? Atau wanita&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang kemarin sore saya lihat sedang berupaya menyetop mobil atau motor yang lewat, dalam balutan kosmetik tebal dengan misi menjual kehormatan demi sesuap nasi (dan sebongkah berlian..=)? Atau malah wanita-wanita yang biasa kita lihat, yang bekerja, pulang ke rumah mengurus anak dan suami lalu keesokannya bekerja kembali dan pulang lagi dan seterusnya tak berakhir seperti siklus polybios?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Entah. Tak ada mata rantai yang spesifik yang saya temukan untuk memulai tulisan mengenai wanita. Karena bertahun-tahun saya hidup, saya tak jua dapat mengertinya. Yang say abaca, hanyalah fakta-fakta ilmiah bahwa wanita memang berbeda dengan pria. Seorang blogger cerdas bernama Sara memaparkan:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; color: black;" lang="EN-GB"&gt;Sebuah studi yang dipublish tahun 1992 di University of Western Ontario oleh zoologist C. Davison Ankney, dan psychologist Rushton, menunjukkan bahwa pria memiliki berat otak sekitar 100-gram lebih besar daripada wanita. Studi di Denmark tahun 1997 juga mendokumentasikan bahwa pria memiliki neuron 15% lebih banyak dari wanita (22.8 vs 19.3 milyar).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; color: black;" lang="EN-GB"&gt;Melihat kecenderungan dua bagian otak yang berbeda, riset tentang otak yang terkait dengan perbedaan gender ternyata memberikan informasi bahwa terdapat perbedaan dalam anatomi otak pria dan wanita. Secara umum, otak terdiri dari dua tipe jaringan yang berbeda, dinamakan gray matter dan white matter. Menggunakan teknik neuroimaging, Richard Haier dari the University of California, Irvine led, dan kolega yang lain dari the University of New Mexico menemukan bahwa gray matter pria memiliki setidaknya 6.5 kali ukuran yang lebih banyak dari pada wanita. Sedangkan wanita setidaknya memiliki white matter 10x lebih banyak dibandingkan pria. Di dalam otak manusia, gray matter berfungsi sebagai pusat pemroses/penganalisis informasi, sedangkan white matter bekerja menghubungkan pusat-pusat informasi/analisis. Mereka menyatakan bahwa pria bercenderungan menggunakan gray matter dan wanita cenderung menggunakan white matter dalam berfikir dan bertidak. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; color: black;" lang="DE"&gt;Ditemukan pula 4x kecenderungan wanita menggunakan lobus hemisfer kanan dalam berfikir dibandingkan pria.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; color: black;" lang="DE"&gt;Data-data ini dimungkinkan untuk memberikan penjelasan mengenai perbedaan perilaku yang terdapat pada pria dan wanita. &lt;u&gt;Dalam berkomunikasi, pertama kali mendapatkan informasi dan dalam menghadapi suatu permasalahan, pria akan berkecenderungan untuk menggunakan logika (wilayah otak kiri lebih dominan), sedangkan wanita cenderung menggunakan perasaan (penggunaan otak kanan lebih dominan).&lt;/u&gt; Bukan permasalahan potensi pria lebih cerdas daripada wanita. Kedua makhluk dianugerahi logika dan perasaan, tetapi kecenderungan pria dan wanita dalam menanggapi suatu respon tidaklah sama. Contoh sederhana ialah, seorang wanita tidak harus memiliki sejumlah alasan yang logis untuk menangis, sedangkan bagi kaum pria tidak demikian. Menangis dalam kamus wanita adalah penggunaan otak kanan yang mengungkapkan bahasa perasaannya. Sedangkan bagi pria, dimana otak kiri lebih dominan, logikanya akan mengatakan untuk selalu mencari perbandingan dan alasan untuk menangis.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;(Dikutip dari &lt;a href="http://tanah231.multiply.com/journal/item/10"&gt;http://tanah231.multiply.com/journal/item/10&lt;/a&gt;)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Walau penjelasannya rumit, tapi jelaslah sebagaimana kita ketahui kalau soal perasaan wanita memang lebih hebat disbanding pria, yang sebaliknya lebih gesit memainkan logikanya. Saya jadi ingat, ada teman saya yang mempermasalahkan pacarnya yang nonton ketahuan film porno, ia merasa sakit hati dan kemudian meragukan kesetiaan pacarnya. &lt;b style=""&gt;Saat itu, &lt;/b&gt;saya bingung. Naluri saya sebagai lelaki mengatakan, “ya udahlah, namanya juga cowok. Ya mbok, bilangain aja orangnya asal jangan sering-sering. Simple aja kan?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Tapi sepertinya hal ini tak sesederhana itu bagi kawan saya itu. Ternyata baginya, sang pacar telah melampaui garis batas transeden yang melanggar otoritas kewanitaannya. Sang pacar, menurut kawan saya itu, telah melanggar kepercayaan yang telah diberikan untuk menjaga dirinya. Muncul keraguan, apakah si pacar dapat menjaga dirinya bila menjaga diri dari film itu saja ia tak mampu. Ya Tuhan!! Saya takjub dibuatnya. Sedemikian sensitifnyakah wanita?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Di sisi lain, saya juga tak mengerti, mengapa masih ada mewarnai berita-berita di televisi atau Koran “lampu lalu lintas” tentang istri yang masih berdiam diri saja, mengetahui suaminya selingkuh di luar, pulang larut malam, lalu begitu sampai rumah memukulinya. Sangat sensitif perasaan wanita, tapi ia tak bergerak 1 centimeter pun dari kehidupan rumah tangganya. Ia tak sedikit pun berpikir untuk melarikan diri dari kemuakan massif terhadap sang suami. Ya Tuhan, sedemikian kebalnyakah wanita?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Itu baru sekelumit anomali wanita yang tak saya mengerti. Kemudian muncul lagi kebingungan ketika membaca referensi yang menyatakan persepsi Aristoteles tentang wanita. Filsuf besar klasik itu dalam pemikirannya memandang &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;bahwa wanita adalah &lt;i style=""&gt;"&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;uncomplete Man&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;"&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Dalam konteks biologis, wanita mengambil posisi pasif reseptif sedangkan pria aktif produktif. Pria memberi, wanita menerima dan mengolahnya. Dengan kata lain, Pria superior wanita dalam posisi subordinatif.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Ah, masa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Apa iya wanita begitu lemahnya?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Bukankah justru banyak cerita dan berita yang melukiskan dengan gamblang, kalau wanita dengan mudah membuat pria bertekuk lutut dan tertaklukkan? Ada wanita yang ikut menerjunkan seorang nabi dari surga ke bumi. Ada wanita yang dengan videonya mampu menjungkalkan anggota dewan dari gedung parlemen yang terhormat. Ada pula wanita yang luar biasa hingga dipanggil wanita listrik, karena upayanya yang jauh melebihi pria untuk menggerakkan masyarakat secara swadaya untuk menghasilkan listrik sambil melahirkan lapangan pekerjaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Yang mudah mungkin kalau bicara romantisme. Seperti kisah seorang mahasiswi muda yang cerdas seperti Hannah Arendt, yang dengan pesona, pengorbanan, dan kecerdasannya mampu membuat profesor universitas seperti Heidegger mempertaruhkan karir dan rumah tangga serta keluarganya hanya untuk bermain api dengan Arendt. Di kemudian hari, Arendt dikenal sebagai salah satu filsuf wanita terpenting Jerman yang pemikirannya banyak dipengaruhi pengalaman sebagai korban naziisme dan fasisme. Sedangkan Heidegger adalah filsuf “ajaib” yang beraliran ontologis. Akan tetapi, tak ada yang menyangkal, kisah perselingkuhan keduanya terkadang lebih bombastis daripada pemikiran-pemikiran cemerlang mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Lalu, apa kesimpulannya?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Saya tetap bingung mengenai wanita, beserta perasaan dan logikanya yang tak terduga. Saya mengagumi kesabaran ibu saya yang merawat ayah saya selama bertahun-tahun dari sakit hingga meninggal tanpa sedetik pun berpaling. Tapi saya juga tak habis pikir dengan wanita yang tega memutilasi suaminya menjadi dua puluh potong karena perasaan cemburu. Saya menghormati Bunda Teresa dan Siti Khadijah untuk pengabdiannya dalam perjuangan hakiki. Saya masih menganggap pemimpin adalah posisi untuk pria, tapi tak bisa menyangkal bahwa wanita yang hebat adalah kunci di balik layar pemimpin hebat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Oleh karena itu, hanya sedikit kesimpulan yang saya dapat dari kebingungan ini. Absurditas adalah mutlak ketika secara serampangan kita mencoba memahami wanita. Akan tetapi, siapa pun bahkan para lelaki tergagah sekali pun sebenarnya dapat mengambil hikmah dari kewanitaan para wanita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Konflik, perang, kehancuran, ketidakacuhan akan nasib sesama dapat dihindari dengan menduplikasi kelembutan dan kepiawaian wanita dalam menanggulangi masalah dan menggunakan perasaan. Bukan hanya cara-cara logis&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ala pria.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Seorang anak autis misalnya, secara logika harus mendapat perawatan dari tenaga ahli psikologi terbaik. Itu cara pria. Tapi, ternyata, mereka justru mendapat sentuhan terbaik dari kasih sayang abadi dan kelembutan seorang ibu. Dalam konteks seperti ini kewanitaan adalah hal yang perlu dihidupkan dari diri setiap individu, bahkan oleh pria-pria berotot itu.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Akan tetapi, biarkan kewanitaan itu tumbuh secara normal. Menjiwai proporsional atas peran-peran yang diberikan Tuhan kepada kita sangatlah substansial.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Karena, menumbuhkan kewanitaan dengan cara mengingkari alat kelamin sendiri dan melakukan operasi gender, jelas bukan cara-cara yang bijaksana.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; text-indent: 36pt; line-height: 150%;" align="right"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Sisi Situ Cipondoh, 7-8 Januari 2009&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; text-indent: 36pt; line-height: 150%;" align="right"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Akhirnya menyadari bahwa tulisan ini bukan tentang wanita, tapi tentang kebingungan terhadapnya. Maaf Pak Vincent atas tulisan yang mengecewakan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9040124412776407669-6146934413962864051?l=bobbysavero.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bobbysavero.blogspot.com/feeds/6146934413962864051/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bobbysavero.blogspot.com/2009/01/tulisan-bingung-tentang-wanita.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9040124412776407669/posts/default/6146934413962864051'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9040124412776407669/posts/default/6146934413962864051'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bobbysavero.blogspot.com/2009/01/tulisan-bingung-tentang-wanita.html' title='“Tulisan Bingung Tentang Wanita”'/><author><name>Si Savero...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12201226362621308776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_wSBRHU7agWA/SDEd7tEyf7I/AAAAAAAAAAM/XspdgeLaje0/S220/My+photo(189_1).jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9040124412776407669.post-3757656168815588274</id><published>2008-12-03T18:32:00.000-08:00</published><updated>2008-12-03T18:34:51.409-08:00</updated><title type='text'>Yang lucu soal NPWP</title><content type='html'>Sebuah sinergi apik telah dimulai dalam pemerintahan kita. Komisi Pemilihan Umum (KPU), akhirnya mengakomodasi permintaan Direktorat Jenderal Pajak (DJP) untuk mensyaratkan kepemilikan (Nomor Pokok Wajib Pajak) NPWP oleh para donatur kampanye dengan jumlah sumbangan di atas  20 juta rupiah untuk Pemilu 2009 mendatang. Hal ini jelas adalah suatu hal yang melegakan. Dengan demikian, kita dapat menguji dan memastikan, apakah pihak-pihak yang telah bermurah hati dengan menyumbang sedemikian besarnya untuk kampanye politik telah terlebih dahulu menyelesaikan kewajibannya sebagai warga negara.&lt;br /&gt;            Oleh karena itu, lucu rasanya jika membaca komentar-komentar tokoh-tokoh politik caliber, seperti Ferry Mursyidan BAldan dan MS. Kaban, yang menolak kewajiban pencantuman NPWP tersebut di media. Sebagaimana dilansir Koran Tempo dan Detik.com pada tanggal 28 dan 29 November 2008, mereka menyesalkan keputusan KPU yang dirasa melanggar UU Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilu Legislatif. Menurut mereka, UU hanya melarang partai menerima donasi dari sumber yang tidak jelas identitasnya. Kepemilikan NPWP seharusnya hanya menjadi tools dalam memperjelas identitas, bukan diwajibkan karena akan menyulitkan penyumbang. Aturan mengenai NPWP mereka anggap juga telah diatur dalam UU lain. Mereka juga bahkan menantang Dirjen Pajak dengan melontarkan pernyataan, “Apa Dirjen Pajak menjamin semua penyumbang mempunyai NPWP?” (Koran Tempo 28/11) juga “Apa anggota DPR semua sudah punya NPWP? Apa pejabat-pejabat eselon satu dan dua di Indonesia sudah mempunyai NPWP? Itu dulu deh.” (Detik.com 29/11)&lt;br /&gt;            Mengapa saya sebut lucu? Pertama, keputusan KPU tersebut, justru adalah terobosan yang sangat brilian. Kerjasama antara KPU dan DJP akan mengakomodasi kepentingan-kepentingan masyarakat. Di satu sisi, KPU akan mendapatkan partner kerja untuk menguji apakah kesahihan identitas penyumbang, terutama penyumbang kelas kakap, adalah benar adanya. DJP tentunya memiliki sistem informasi yang terintegrasi untuk mengetahui hal itu. Di sisi lain, DJP juga akan mendapatkan sumber informasi yang terpercaya untuk memastikan, bahwa pihak-pihak yang sudah menggelontorkan uang banyak untuk dana kampanye telah pula menyelesaikan kewajibannya sebagai warga negara Republik Indonesia. Aturan ini jelas tidak melanggar aturan UU No. 10 Tahun 2008 akan tetapi justru mensinergikan UU ini dengan UU No. 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum Perpajakan dan UU No. 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan. Harmoni regulasi ini adalah yang saya anggap brilian, karena selama ini, negara kita memiliki masalah dengan legal drafting sehingga banyak aturan yang justru tumpang tindih.&lt;br /&gt;            Kedua, sangat lucu bahwa tokoh politik yang juga pejabat negara justru menantang DJP mengenai jaminan kepemilikan NPWP oleh para penyumbang dan pejabat negara. Selaku masyarakat apalagi pejabat negara, selayaknya kita mengetahui betul bahwa kewajiban mendaftarkan diri untuk mendapatkan NPWP adalah wajib bagi warga negara yang telah  memiliki penghasilan di atas ambang Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP). Direktorat Jenderal Pajak yang bertugas untuk mengadministrasikan dan melayani masyarakat untuk mendapatkan NPWP. Dan seperti kita ketahui, secara ekspansif DJP telah mengeluarkan aturan, promosi untuk menggerakan masyarakat yang telah memenuhi persyaratan objektif dan subjektif secara sadar mendaftarkan dirinya. Jelaslah, bahwa kepemilikan NPWP adalah kewajiban bagi warga negara yang telah memenuhi syarat. Aturan KPU ini, nantinya  juga akan membantu menyadarkan masyarakat akan pentingya NPWP.&lt;br /&gt;            Ketiga, juga sangatlah lucu jika dikatakan bahwa pencantuman NPWP bagi donatur kampanye akan mempersulit para penyumbang. Sekarang kita balik. Apanya yang sulit? Jika telah mampu menyumbang sedemikian besar, apakah melaksanakan kewajiban perpajakan sebagai warga negara dikatakan sulit? Jika yang dikhawatirkan adalah kesultan mengurus NPWP, sejauh yang saya ketahui, pembuatan NPWP adalah salah satu layanan unggulan DJP. DJP menjamin pembuatan NPWP dalam waktu yang sangat singkat maksimal 1 x 24 jam, melalui kantor pelayanan pajak yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia, pendaftaran secara online via internet, melalui mobil pajak, atau pojok pajak yang tersebar di berbagai pusat keramaian. Dan pengurusan ini semua tanpa biaya. Mari kita tanya sekali lagi, apa yang sulit?            Oleh karena itu, teranglah sudah bahwa keputusan KPU ini adalah hal yang patut didukung. Selain memastikan sumber dana penyumbang, menangkal praktik pencucian uang, sekaligus mensukseskan program-program pro rakyat untuk kesejahteraan yang sebagian besar didanai dari dana mandiri masyarakat via kewajiban perpajakan. Sekiranya para public figure, lebih berhati-hati dalam mengeluarkan pernyataan pada konstituen dan masyarakat pada umumnya agar tidak malah menyesatkan yang menimbulkan paranoia tak perlu terhadap NPWP, Direktorat Jenderal Pajak dan Departemen Keuangan yang harus kita akui telah menunjukkan komitmen bear untuk reformasi birokrasi. Mari kita dukung, segala upaya untuk membawa negeri ini ke arah yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;strong&gt;Ciawi, 30 November 2008&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;em&gt;Suasana hujan yang dingin yang tak kan menyurutkan menyuarakan kebenaran...&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9040124412776407669-3757656168815588274?l=bobbysavero.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bobbysavero.blogspot.com/feeds/3757656168815588274/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bobbysavero.blogspot.com/2008/12/yang-lucu-soal-npwp.html#comment-form' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9040124412776407669/posts/default/3757656168815588274'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9040124412776407669/posts/default/3757656168815588274'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bobbysavero.blogspot.com/2008/12/yang-lucu-soal-npwp.html' title='Yang lucu soal NPWP'/><author><name>Si Savero...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12201226362621308776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_wSBRHU7agWA/SDEd7tEyf7I/AAAAAAAAAAM/XspdgeLaje0/S220/My+photo(189_1).jpg'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9040124412776407669.post-710307972547171743</id><published>2008-11-16T23:07:00.000-08:00</published><updated>2008-11-16T23:10:01.869-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Politik'/><title type='text'>Kenapa Harus Obama?</title><content type='html'>Tak banyak yang mencela saya ketika secara nyata dan jelas saya menunjukkan dukungan saya kepada Barrack Hussein Obama Junior dalam pemilu di Amerika Serikat awal November lalu. Berikut petikannya:&lt;br /&gt;            “Alaah, ngapain sih dukung-dukung Obama? Emang ngaruh gitu sama Indonesia?”&lt;br /&gt;            “Obama tuh ga mau ngaku-ngaku Islam, ngapain sih dukung dia?”&lt;br /&gt;            “Presiden AS dari demokrat mah pasti ngutak-ngatik Indonesia deh..sok-sok paling hebat soal HAM gitu..”&lt;br /&gt;            Yah kira-kira seperti itu. Sebenarnya justru saya yang bertanya balik, mengapa kita tidak mendukung Obama? Dalam kaitan langsung mungkin tidak akan ada efek yang terasa atas kemenangan Obama di pemilu AS kepada Indonesia, untuk itu saya tidak ingkari. Tapi saya yakin betul, terpilihnya Obama akan lebih banyak membawa kebaikan dibandingkan jika presiden Bush diganti kompatriotnya di republik, John Sidney McCain III. Kalau tidak percaya, yuk kita jabarkan yuk:&lt;br /&gt;Obama masih berusia muda. Dalam sejarah, pemimpin-pemimpin muda adalah yang paling siap dalam membuat perubahan yang sebenarnya. Masih ingat bagaimana kaum muda melakukan “pengamanan” kepada Bung Karno untuk segera mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia usai tragedi atom di Jepang? Dan lagi, kita tak bisa membantah bagaimana darah-darah muda sebagaimana Bung Karno, Bung Hatta, Natsir, M. Yamin, John F. Kennedy, Nelson Mandela, Napoleon, hingga pemuda-pemuda 1998 mampu membawa gairah dan menghadirkan perubahan dalam arti kata yang sebenarnya. Bukan perubahan bohong-bohongan atau tipu-tipuan.&lt;br /&gt;Obama punya kisah historis dengan Indonesia. Saya tak menyangkal, bahwa walau punya kisah historis dengan Indonesia, belum tentu Obama akan memandang Indonesia secara lebih objektif. Apalagi, ketika masih ada di kongres, Obama yang pernah duduk di subkomisi Asia Timur yang juga berhubungan dengan Indonesia tak pernah menunjukkan tendensi apapun terhadap Indonesia sebagai negara. Lalu apa ketika menjadi presiden ia akan memandang Indonesia dengan lebih baik? Justru, karena kemudaan dan keterbukaannya itulah kita dapat berharap bahwa Indoneia dapat dipandang secara objektif. Kesempatan yang dimiliki Obama ketika masih duduk di subkomisi tersebut dan tidak digunakan untuk menunjukkan tendensi pada Indonesia adalah bukti bahwa ia dapat menjadi sangat objektif. Ini saja sudah cukup menjanjikan. Tapi jangan khawatir, silakan baca bukunya The Audacity of Hope. Di sana ia masih menyinggung soal Indonesia. Ia ingat da ia tahu!&lt;br /&gt;Obama sangat Universal. Nama Barrack, diambil dari Bahasa Afrika, Hussein jelas berkaitan dengan timur tengah, dan Obama menunjukkan Amerika. Universal bukan?hahaha... Bukan hanya itu, Obama sudah pernah atau malah sudah biasa menerima perlakuan Rasis. Amerika Serikat yang konon adalah guru besar demokrasi di dunia masih memiliki maslaah tentang hubungan antara masyarakatnya sehubungan dengan primordialisme dan warna kulit. Nah, ketika Obama menjadi presiden nanti, yakinlah kita ia tidak akan bertindak diskriminatif. Paling tidak akan menghindarinya, hal ini juga sangat memberi harapan akan lahirnya cara pandang siosial baru dalam pergaulan negara-negara di dunia.&lt;br /&gt;Obama ingin menghentikan perang Irak. Saya tidak peduli kata orang kalau Obama akan menyerang Afghanistan, yang ingin dan sudah saya dengar, salah satu program Obama adalah menghantikan perang Irak. Perang yang telah menghancurkan nama besar AS sebagai penjaga nilai-nilai demokrasi. Perang yang juga menghambur-hamburkan uang masyarakat AS. Dan juga perang yang menginjak-injak kebebasan dan toleransi. Dan ini bukan saja harapan saya, atau kita, atau masyarakat Irak, tapi juga sudah menjadi harapan warga AS sendiri. Kita lihat bagaimana ada seorang iseng di AS yang baru-baru ini menerbitkan ribuan koran The New York Times palsu dengan headline: “Iraq War Ends”. Dihentikannya perang Irak telah menjadi harapan kita, harapan dunia, dan juga harapan Obama!&lt;br /&gt;Karena keajaiban Obama. Yang saya maksud keajaiban adalah menggambarkan kekaguman saya akan jejak langkah Obama sebelum menjadi Presiden. Dalam Konvensi Partai Demokrat tahun 2004, Obama mendapat giliran berpidato. Dalam pidato itu ia menggambarkan dirinya sebagai, “bocah kurus hitam yang aneh” Mungkin itulah awal perjalanan politiknya. Bagaimana si hitam aneh yang sangat sulit rasanya bisa menembus hegemoni kulit putih dalam politik Amerika Serikat. Tapi dengan kharismanya, kepemimpinannya, tak lupa vitalitasnya Obama menunjukkan bahwa Impossible is real nothing. Menumbangkan calon kesayangan kulit putih yang dianggap jauh lebuh berpengalaman Hillary Clinton dalam Konvensi Demokrat 2008 secara tak terduga, meraup nilai sumbangan kampanye terbesar dalam sejarah Amerika Serikat, sangat maju dan modern dalam penggunaan dunia internet, menarik simpati sebagian besar rakyat dunia sebagaimana terbukti dalam hasil polling dari berbagai lembaga, terakhir membantai telak John McCain dalam pemilihan. Hal ini membuktikan siapa saja kita, tak peduli suku, agama, atau warna kulit kita, selalu ada kesempatan dan harapan untuk orang-orang yang jujur, berani, penuh semangat dan siap membawa perubahan. Pelajaran ini menurut saya yang terpenting untuk kita ambil. Begitu pula dengan Indonesia, yang kultur politiknya masih tak sedemokratis sampulnya. Dikotomi sipil-militer, jawa-non jawa, rusuh dan tak terima tiap kalah Pilkada, dan wakil-wakil rakyat yang tidak peka terhadap masalah rakyat jelas memuakkan. Maka sudah saatnya kita menantikan Obama ala Indonesia di Pemilu 2014. Yang siap untuk memimpin di depan dengan segala semangat perubahan. Paling tidak dari Obamalah inspirasi itu dimulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Itulah alasan-alasan subjektif saya, tentang dukungan terhadap Obama. Jikalau anda tak sepakat, ya tak masalah ini bukan pengadilan benar atau salah. Saya hanya ingin mengambil pelajaran. Dan saya merasa, dia akan lebih baik disana dibanding pesaingnya. Bilapun kita tak mampu memilih atau mendukung yang terbaik, paling tidak, pilih dan dukunglah yang paling sedikit membawa kemudharatan. Ini tentang mimpi dan harapan, bukan hanya sekedar berpengaruh atau tidak pada hidup kita. Ini inspirasinya. Sekarang bukan tentang kenapa harus Obama, tapi bos, kenapa bukan Obama?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bobby Savero&lt;br /&gt;Ciawi, 16 Oktober 2008&lt;br /&gt;ditemani rintik hujan, bermimpi menjadi Bobama...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9040124412776407669-710307972547171743?l=bobbysavero.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bobbysavero.blogspot.com/feeds/710307972547171743/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bobbysavero.blogspot.com/2008/11/kenapa-harus-obama.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9040124412776407669/posts/default/710307972547171743'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9040124412776407669/posts/default/710307972547171743'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bobbysavero.blogspot.com/2008/11/kenapa-harus-obama.html' title='Kenapa Harus Obama?'/><author><name>Si Savero...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12201226362621308776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_wSBRHU7agWA/SDEd7tEyf7I/AAAAAAAAAAM/XspdgeLaje0/S220/My+photo(189_1).jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9040124412776407669.post-1668777040875351055</id><published>2008-11-01T20:47:00.000-07:00</published><updated>2008-11-01T20:48:36.590-07:00</updated><title type='text'>Hubungan antara Radang Tenggorokan dan Pajak</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 18pt;"&gt;Hubungan antara Radang Tenggorokan dan Pajak&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b&gt;Oleh:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b&gt;Bobby Savero&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;Ga sangka lho, ternyata yang namanya radang tenggorokan juga dapat memaksa gue berpikir keras, karena menyinggung kredibilitas Direktorat Jenderal Pajak, Departemen Keuangan, dan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. Ga percaya? Gini deh, gue bakal ceritain pengalaman gue waktu kena radang tenggorokan sekitar 2 minggu yang lalu. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Gue mulai batuk-batuk setelah lebaran. Ceritanya ada kumpul-kumpul keluarga di vila om gue di puncak, mungkin karena dingin yang teramat sangat, gejala flu yang mulai berkibar, dan selama puasa gue hampir selalu makan sahur pake nasi padang mulailah batuk-batuk itu muncul. Begitu liburan usai, dan gue kembali ke Tangerang untuk mengabdi pada negara (hahaha...lebay!), ternyata pancaroba menunjukkan kesaktiannya. Panas yang luar biasa menyengat mentahbiskan radang tenggorokan untuk gue derita.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Batuk gila itu semakin edan. Ga kenal waktu. Lagi kerja, lagi santai, lagi mandi, lagi buang air, lagi nonton tv, lagi mau tidur, bangun&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tidur (kalo lu nanya ke gue, trus pas tidur ga batuk? Ga usah gue jawab ya, ya wong namanya lagi tidur mana gue tau...hehehe), intinya mah aktivitas sangat terganggu. Berhubung gaji gue bulan oktober dipotong banyak gara-gara gue ga masuk 6 hari akibat cacar dua bulan yang lalu, plus kebutuhan lebaran yang banyak dan ga diduga mulailah gue dipaksa berpikir keras untuk pertama kalinya. Apakah dengan uang yang udah siaga satu ini, gue harus dateng ke dokter dengan kemungkinan keluarnya uang dengan nilai signifikan dari goresan tangan pak dokter di atas resep.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Tapi karena batuknya ga juga reda setelah gue beli obat batuk a******* warna ijo yang lumayan mahal, akhirnya gue putuskan untuk tetap dateng ke dokter. Pulang jumatan, gue sempetin mampir ke dokter di salah satu rumah sakit swasta ternama di Tangerang. Karena waktu cacar gue udah pernah berobat di sana, makanya kali ini gue ga ribet sama urusan administrasi. Tinggal daftar aja trus langsung dianterin ke dokternya. Si pak dokter ga pake nanya gue sakit apa langsung aja maen periksa. Kemudian gue berpikir keras lagi, apa iya ni dokter sama sekali ga niat nanya gue ngerasain apa, atau nanya gejala apa kek gt. Soalnya setau gue satu-satunya dokter yang tidak menggunakan metode tanya-jawab saat memeriksa pasien hanyalah dokter hewan. Apa iya gue udah dikira hewan?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Maka untuk memastikan sama pak dokter, kalo gue bukan hewan, tanpa diminta gue langsung jelasin,&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;”gini dok, jadi mulai batuk-batuk sejak lebaran trus ga berhenti-berhenti dan semakin parah...blablabla...”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dokternya manggut-manggut aja, malah nanya yang lain,&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“bagus juga nih sholat jumat pake baju ini...(baju batik-red).”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“ah, engga kok dok. Kebetulan aja, di kantor emang hari Jumat seragamnya ini.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Ooo...begitu tho, emang adek kerja di mana?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Nah, di sinilah petakanya dimulai!! Sayangnya gue ga nyadar.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“di kantor pajak deket kantor walikota itu dok (dok di sini bukan kodok tapi ini emang panggilan gue kalo ketemu dokter-red)..”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Ooo...pajak!” (wajah si dokter berubah)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dan kemudian dia bertanya hal yang tidak diduga-duga,&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Mas, lunasi pajaknya awasi penggunaannya kan ya?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Iya dok...” (masih polos menjawab)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Cara mengawasinya gimana mas?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Hmmm....” (terdiam beberapa saat. God!! gue jadi inget, kawan gue di KPP Pratama Banyuwangi juga pernah ditanyain beginian sama wajib pajak. Tapi gue ketawain aja. Gue ga pernah berpikir kalo suatu waktu bakal ditanya kayak gini juga. Gue ngerti sih maksud slogan itu, tapi cara ngejelasinnya yang sulit!)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;(Berpikir keras mode on)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Beberapa saat kemudian gue sadar bahwa jawaban atas pertanyaan ini juga merupakan bentuk pelayanan prima kepada wajib pajak. Makanya, daripada si dokter kecewa ga bisa memperoleh jawaban dari aparat pajak yang masih ingusan ini, akhirnya dengan segenap keberanian dan secuil pengetahuan gue coba nerangin,,&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Begini dok,, uhuk...uhuk...(masih tetep batuk-batuk ya wong belum diobatin, baru ke dokter doang udah gitu pake dites segala sama ni dokter hehehe..), seluruh penerimaan pajak akan langsung masuk ke rekening negara. Sebagaimana kita ketahui, penggunaan uang negara ini kemudian akan diatur dalam APBN. Maka, pengawasan penggunaan pajak sama saja dengan pengwasan APBN, yang salah satunya dapat dilakukan melalui wakil dokter di DPR.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Si dokter manggut-manggut lagi lalu menukas,&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Ah, saya mah ga percaya sama DPR sih. Kadang saya malu sama orang-orang yan katanya wakil rakyat itu.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Hehehe...” (tertawa kecut...ya sebenernya pengen ngebelain beberapa atawa segelintir wakil rakyat yang betul-betul amanah di DPR sana, tapi ya daripada dibilang sok tau mending gue diem aja deh, toh emang banyak juga wakil rakyat yang tidak representatif).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Akhirnya pemeriksaan dokter itu selesai dengan kata penutup yang mendebarkan, “oke deh mas pajak, saya kasih resep yang BAGUS deh biar cepet sembuh.” &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Walau terminologi bagus dalam pemahaman gue sama dengan pemahaman WJS Poerwadarminta ketika menyusun Kamus Umum Bahasa Indonesia, di mana bagus artinya elok atau baik sekali tapi gue curiga pemahaman si dokter ini berbeda. Dan kecurigaan gue terbukti ketika di apotek, resep itu bernilai 300 ribu lebih.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Mungkin WJS Poerwadarminta harus menambahkan lagi arti kata bagus di kamus.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Bagus itu mahal.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Maka, setelah berpikir keras dan berdebat keras lagi dengan apoteker untuk minta obat generik, gue pulang dengan langkah gontai. Ada beberapa hikmah yang gue peroleh dari radang tenggorokan ini.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Pertama, sebelum ke dokter siapkan diri kita dengan jawaban atas pertanyaan terhadap slogan-slogan institusi tempat kita bekerja. Paling tidak kuasailah hal-hal umum tentang visi misi kantor kita. Biar ga asal jawab kayak gur tadi, jadi keingetan kata-katanya Roger Bacon (1214-1294) dalam bukunya &lt;i&gt;Opus Magnus&lt;/i&gt; itu lho, katanya salah satu sebab kebodohan itu adalah pamer kebijaksanaan untuk menutupi kebodohan. Intinya mah sok tau padahal ga tau atau ga yakin...Hehehe...&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kedua, siapkan mental kita untuk menerima total harga obat dari resep dokter. Apalagi kalau sang dokter udah memberi kata-kata,&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Saya kasih obat yang bagus deh..”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Radang tenggorokan ini telah memberi pelajaran berharga. Di atas motor saat perjalanan kembali ke kantor gue teringet lagu soundtrack sinetron jaman dulu yang judulnya Keluarga Cemara. Untuk nyeneng-nyenengin hati yang rada gelisah, gue mengadaptasi lagu dan bersenandung...&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;i&gt;Harta yang paling berharga adalah kesehatan..&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; line-height: 150%;" align="right"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Ciawi, 1 November 2008&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; line-height: 150%;" align="right"&gt;&lt;i&gt;Tanggal satu di hari sabtu. Awal Bulan tapi belum gajian...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9040124412776407669-1668777040875351055?l=bobbysavero.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bobbysavero.blogspot.com/feeds/1668777040875351055/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bobbysavero.blogspot.com/2008/11/hubungan-antara-radang-tenggorokan-dan.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9040124412776407669/posts/default/1668777040875351055'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9040124412776407669/posts/default/1668777040875351055'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bobbysavero.blogspot.com/2008/11/hubungan-antara-radang-tenggorokan-dan.html' title='Hubungan antara Radang Tenggorokan dan Pajak'/><author><name>Si Savero...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12201226362621308776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_wSBRHU7agWA/SDEd7tEyf7I/AAAAAAAAAAM/XspdgeLaje0/S220/My+photo(189_1).jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9040124412776407669.post-2954370231610281547</id><published>2008-05-26T21:32:00.000-07:00</published><updated>2008-05-26T21:34:36.243-07:00</updated><title type='text'>“Siapa bilang sekarang tahun 2008?”</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 150%;"&gt;“Siapa bilang sekarang tahun 2008?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;Oleh :&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;Bobby Savero*&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Namanya Sukayat. Setahu saya, dulunya ia gagah. Maklum mantan aktivis. Badannya tegap. Bicaranya ceplas-ceplos, tapi bukan asal bicara. Gelar pada namanya “baru” sarjana hukum, belum master, boro-boro doktor. Tapi siapa yang meragukan mantan dosen saya semasa kuliah itu. Usianya sudah cukup tua, lebih dari setengah abad. Namun gerakannya masih enerjik. Selain pembahasan kuliahnya yang to the point, jelas, tak bertele-tele, yang paling saya ingat, dia tak pernah memberi jarak pergaulannya dengan kami. Padahal, kalau mau main senior-senioran, sepertinya kami harus memanggil beliau opa. Eh, dengan cueknya dia malah ber-“&lt;i style=""&gt;gue-elu&lt;/i&gt;.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kelebihan lain Pak Kayat (biasa ia dipanggil), jarak yang jauh antara pandangan, pendapat dan pemikiran antara kaum tua dan kaum muda, yang sejak zaman dahulu sudah ada (saat Bung Karno diculik ke rengasdengklok semasa menjelang proklamasi lebih kurang karena adanya &lt;i style=""&gt;gap &lt;/i&gt;golongan tua dan muda, &lt;st1:state st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:State&gt;?) serasa tidak ada. Di hadapannya kami serasa kawan. Pikiran beliau terbuka, sehingga ilmunya, ditambah dengan diskusi bersama dengan kami, ditambah dengan nasehatnya yang tidak menceramahi membuat suasana kuliah hukum saat itu begitu nyaman dikenang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kini Pak Kayat sedang terbaring sakit. Stroke ringan. Pria yang konon juga kenal baik dengan pengacara ternama yang kini anggota Dewan Pertimbangan Presiden Adnan Buyung Nasution itu kini seperti tidak sedang berada dalam dirinya. Itu kata SMS yang saya terima. Lebih lanjut si SMS juga memberitahu sekilas, Pak Kayat juga terpengaruhi ingatannya. Ah, mudah-mudahan saja tidak benar. Kalaupun benar, semoga bukanlah gejala permanen. Saya takut.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Saya hanya takut belum dapat lagi menemui sosok dari kalangan tua yang berpikiran terbuka, yang membuat kami yang masih muda menaruh hormat tanpa dipaksa. Yah, wakil dari golongan tua yang sangat berpendidikan. Walau “Cuma” S1, tapi rasanya tak pernah sekalipun ia “&lt;st1:city st="on"&gt;baku&lt;/st1:City&gt; hantam” sebagaimana para master atau doktor pengamat ,yang katanya intelek, di luar &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; yang hanya bisa ribut soal kebijakan, tapi belum tentu becus menjalankan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Saya hanya takut. Tak bisa lagi berbincang gurau dengan seorang tua, yang dapat saya jadikan tempat mengadu, mengenai kawan-kawan saya para pemuda di luar &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;, yang dengan semangat 45 membakar ban sambil berdemonstrasi. Katanya menentang kenaikan dan pemborosan BBM. (Padahal rasanya bakar ban pakai minyak tanah juga pemborosan…entahlah).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Saya juga takut. Tak dapat pula berkeluh kesah dengan orang bijak dari kalangan tua, yang dapat saya jadikan tempat bercerita, ketika saya menemui orang tua lainnya, atau bapak-bapak, atau ibu-ibu, atau siapapun yang tiba-tiba menjadi pikun.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Pikun? Ya, pikun..Seperti percakapan yang melibatkan seorang bapak tua yang mungkin pikun dan pemuda yang merasa tidak pikun ini:&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Pak tua pikun&lt;span style=""&gt;              &lt;/span&gt;: “Nak, sekarang tanggal berapa ya?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Pemuda tidak pikun &lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;: “Oh, tanggal 25 Mei 2008 pak, hari ahad tepatnya.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Pak tua pikun&lt;span style=""&gt;              &lt;/span&gt;: “Ah tak mungkin itu, kemarin &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:state st="on"&gt;kan&lt;/st1:State&gt;&lt;/st1:place&gt; masih tahun 60-an, mosok &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;sudah tahun 2000an, ya jangan ngelantur, Nak. Kamu kira, &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;bapak sudah ringkih begini mudah saja kau tipu.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Pemuda tidak pikun&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;: “Loh, betul pak. Buat apa saya bohong. Lihat pak, dunia sudah &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 120pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;begitu modern. Ini era millennium. Lihat, gedung-gedung&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;bertingkat, mobil-mobil canggih, komputer portable, ponsel yang bisa motret. Ini tak mungkin tahun 60an, pak!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1in; text-align: justify; text-indent: -1in; line-height: 150%;"&gt;Pak tua pikun&lt;span style=""&gt;              &lt;/span&gt;: “Ah, apalagi itu Cuma omong kosong saja. Apa kau tidak lihat, &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 120pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;bukankah matamu masih awas, tak seperti aku ini. Coba lihat, di belakang gedung bertingkat masih banyak gubuk gelandangan, nilai uang rendah, harga minyak malah mahal, pekerjaan sulit dicari, kekerasan dan cara-cara represif masih digunakan, kriminalitas dimana-mana apa ini tahun 2000an. Malah aku takut, ini bukan pula tahun 60an, ini masih&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;zaman primitif!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Pemuda tidak pikun&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;: “Tapi pak…”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Pak tua pikun&lt;span style=""&gt;              &lt;/span&gt;: “Tunggu dulu. Lalu masa iya, jika sekarang tahun 2008? &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 123pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; masih miskin-miskin juga. Ya wong saya veteran. Saya tahu betul, sejak tahun 1945 &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; sedang berbangkit mejadi bangsa yang maju, besar kaya, gemah ripah loh jinawi. Bangsa merdeka yang berdikari dan mensejahterakan Ya &lt;st1:state st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:State&gt;?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Pemuda tidak pikun&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;: (diam. Bukan karena tidak ada dialog, tapi tak mampu menjawab)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Nah itulah. Bagaimana dan kemana saya akan bercerita jika tidak pada orang-orang tua yang Ing Madya Mangun Karsa, Ing Ngarsa Sung Tulada, Tut Wuri Handayani seperti Pak Kayat itu? Apa peduli “orang-orang pikun” soal angka-angka APBN, beban subsidi, atau eskalasi harga minyak? Bagaimana pula saya menjelaskan dengan bahasa sederhana kebijakan pemerintah menaikan harga BBM yang katanya tidak pro rakyat ini. Saya mulai kehabisan tokoh bijaksana untuk memahami kerumitan masalah negeri ini, berdiskusi, memahami, lalu mencari solusi (bukan hanya demonstrasi).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Ah, Pak Kayat..&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Maaf pak, saya hanya takut…&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; line-height: 150%;" align="right"&gt;&lt;b style=""&gt;26 Mei 2008&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; line-height: 150%;" align="right"&gt;&lt;i style=""&gt;*Pemuda belum pikun yang takut pikun mendadak karena tidak bisa menjawab pertanyaan sederhana, Siapa bilang sekarang tahun 2008?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9040124412776407669-2954370231610281547?l=bobbysavero.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bobbysavero.blogspot.com/feeds/2954370231610281547/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bobbysavero.blogspot.com/2008/05/siapa-bilang-sekarang-tahun-2008.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9040124412776407669/posts/default/2954370231610281547'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9040124412776407669/posts/default/2954370231610281547'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bobbysavero.blogspot.com/2008/05/siapa-bilang-sekarang-tahun-2008.html' title='“Siapa bilang sekarang tahun 2008?”'/><author><name>Si Savero...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12201226362621308776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_wSBRHU7agWA/SDEd7tEyf7I/AAAAAAAAAAM/XspdgeLaje0/S220/My+photo(189_1).jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9040124412776407669.post-2235506076258514287</id><published>2008-05-19T00:59:00.001-07:00</published><updated>2008-05-19T01:06:05.598-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Alhamdulillah...&lt;br /&gt;Akhirnya bisa ngisi blog ini lagi..&lt;br /&gt;Sebenernya pengen ruitn nulis disini,,&lt;br /&gt;yah sekedar &lt;span style="font-style: italic;"&gt;self-actualization...&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Tapi ada aja yang ngalangin, (atau emang dasarnya males ya?he2..)&lt;br /&gt;Yaudah deh, sebagai awalan, langsung si penulis gadungan masukin 9 posts,,&lt;br /&gt;hasil ngoprek2 komputer buat nyari tulisan yang masih layak buat di-posts,,&lt;br /&gt;mudah2an, setelah ini bakal banyak tulisan-tulisan baru lainnya... Amien..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oya, mungkin dari kalangan pembaca (halah, yakin amat ada yang baca, hi2),&lt;br /&gt;ada yang menyadari kalau ada yang berbeda di blog ini..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yap betul!&lt;br /&gt;Sekarang gue make nama  lain, Penulis Gadungan...&lt;br /&gt;Kenapa?&lt;br /&gt;Ya abis, dari dulu ngaku2 penulis tapi kok gak produktif. Tapi, ya masih ndak rela kalo melepas sama sekali cap penulis dalam hati. Jadi, biar ga dosa2 amat, gue pake nama penulis gadungan ajah...&lt;br /&gt;Ya kalo ga produktif, namanya juga penulis gadungan!!Hahahaha...&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9040124412776407669-2235506076258514287?l=bobbysavero.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bobbysavero.blogspot.com/feeds/2235506076258514287/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bobbysavero.blogspot.com/2008/05/alhamdulillah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9040124412776407669/posts/default/2235506076258514287'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9040124412776407669/posts/default/2235506076258514287'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bobbysavero.blogspot.com/2008/05/alhamdulillah.html' title=''/><author><name>Si Savero...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12201226362621308776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_wSBRHU7agWA/SDEd7tEyf7I/AAAAAAAAAAM/XspdgeLaje0/S220/My+photo(189_1).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9040124412776407669.post-6234967342741343610</id><published>2008-05-19T00:38:00.002-07:00</published><updated>2008-05-19T00:41:44.979-07:00</updated><title type='text'>TAKDIR</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Typewriter from hell&amp;quot;;"&gt;Takdir&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Typewriter from hell&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Salah seorang kawan suatu hari melontarkan wacana takdir ke dalam percakapan. Dengan kelembutan yang khas, ia menyatakan percaya bahwa setiap hal yang terjadi dalam dimensi segala, diperinci langsung oleh Tuhan. Manusia hanya menjalankan saja dan menerima skenario Sang Maha Suci. Otoritas manusia nyaris tiada artinya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Begitu kecilkah manusia? Bagaimanakah posisi manusia selayaknya saat memandang takdir? Bagaimana dengan kehendak bebas dan kekuasaan manusia untuk memilih hidup? Bagaimana dengan usaha-usaha untuk merubah nasib?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Pertanyaan yang begitu deras itu kemudian tertabrak ketakutan terjebak dalam sesat pikir. Seorang kawan lain sembari berkelakar mengingatkan, “Hati-hati, banyak orang menjadi atheis karena mempersoalkan takdir.” &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Tetapi, rasanya menjadi pasif dan manut saja pada semua yang disodorkan tidak sesuai dengan tujuan Tuhan memberi manusia akal, pikiran, dan nurani. Seandainya Galileo Galilei dulu termasuk tipikal orang yang &lt;i style=""&gt;nrimo, &lt;/i&gt;mungkin sampai saat ini kita percaya saja dengan konsep geosentris. Tuhan mau kita belajar, dan menabrak batas-batas ketakutan itu. Menabrak pula transedensi keraguan itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Filsuf Inggris Francis Bacon (1561-1626) memberi inspirasi,&lt;i style=""&gt; &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;“Bila manusia mulai dengan kepastian ia akan berakhir dalam keraguan. Tetapi bila ia puas untuk mulai dengan keraguan, ia akan berakhir dengan kepastian.” &lt;/i&gt;Kita pilih saja jalan untuk berakhir dalam keyakinan atas kepastian walau dimulai dengan pijakan keraguan. Daripada mejadi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;seperti filsuf abad ke delapan belas, Edmund Burke, yang ketakutan dengan ide-ide pembelajaran dan mengatakan belajar hanya akan dilemparkan ke dalam lumpur dan diinjak seperti babi. Rasanya yang menjadi lumpur dan terinjak babi, kini,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;adalah dirinya sendiri.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Masalahnya, takdir memang objek yang absurd. Tak ada data ilmiah dan verifikasi kasat mata atas objek ini. Ini yang menjadikan diskusi mengenai takdir adalah jembatan menuju sebuah kembatan tipis yang menghubungkan antara logika dan keyakinan. Dari sini kita dapat berangkat melalui pilihan. Kita dapat mempercayai konsep bahwa nasib kita sendiri yang menentukan atau ditentukan secara permanen sejak awal dalam proses penciptaan. Beberapa kepercayaan dapat berpolar pada dua kubu ini. Dalil mereka saling menguatkan dan melemahkan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Seorang apatis dapat saja kemudian menerima penuh bahwa kita adalah “boneka Tuhan” dalam skenarioNya. Tak ada pilihan lain. Lalu untuk apa otak kita diciptakan? &lt;st1:place st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; pemalas akan diam saja dan kemudioan menjadikan takdir sebagai justifikasi penderitaan yang telah dan mereka hadapi. Sebagaimana John Oliver Hobbes, “&lt;i style=""&gt;Men heap together the mistakes of their lives and create a monster they call destiny.&lt;/i&gt;” Toh penghuni surga dan neraka telah ditentukan sebelumnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Yang menarik kemudian, Daud Ibrahim Al-Shawni dalam semi-fiksi kontroversialnya, Iblis Menggugat Tuhan, secara tegas menyatakan, “&lt;i style=""&gt;Jika ada pengampunan, maka bukan tak mungkin memang kehendak bebas itu ada.&lt;/i&gt;” Selain itu, jika memang kehendak bebas itu tak ada, kasihan juga malaikat-malaikat pencatat amal yang mengerjakan sesuatu yang hasilnya sudah ditentukan sebelumya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Lalu? Sulit memang berdebat dalam koridor keyakinan, karena tumbukannya hanya memiliki kekuatan “saya benar.” Kecuali jika kita cukup arif untuk melihat kesempurnaan makhluk. Kesempurnaan penciptaan. Anatomi tubuh kita saja misalnya, bagaimana setiap bagian tanpa dapat direncanakan manusia dapat bekerja dengan tujuan masing-masing yang menjadi simfoni indah manusia, yaitu hidup itu sendiri. Dalam hal ini, bolehlah kita senada dengan pakar psikoanalisis Sigmund Freud yang dituding tak ilmiah, bahwa “Anatomy is destiny.” Dalam hal-hal seperti ini logika memang berkompromi, ada kekuasaan yang mengatur detil bagian hidup manusia. Kita tak dapat memilih anatomi sendiri bukan?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Tapi, hal itu tidak dengan sendirinya meletakkan kita untuk menyerah pada takdir. Tuhan memberi kita petunjuk melalui kitab suciNya agar kita dapat membedakan mana yang benar dan salah. &lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:City&gt; konsep pilihan di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;. Tuhan memberkahi para pekerja keras dengan kejayaan dan para pemalas kemiskinan. Menjadi kaya dan miskin kemudian menjadi pilihan. Indeks Prestasi dalam kuliah, contohnya, baik atau tidak juga dipengaruhi sejauh mana kita berusaha. Maka hidup menjadi pilihan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kontradiksi antara takdir yang telah diplot dan takdir yang kita pilih sendiri memang akan membawa dilema besar. Tapi, kita ambil sederhananya saja. Kembali ke konsep orang-orang tua. Mati, lahir, jodoh di tangan Tuhan. Tapi percayalah Tuhan bukan diktator, ia memberi kita petunjuk bukan doktrin belaka. Membuat kita dapat menentukan nasib seperti apa yang ingin kita terima. Tuhan memnerikan kepastian dan juga memberikan pilihan. Pilihan-pilihan itulah areal di mana manusia bebas berkehendak. Kebebasan yang tidak mengurangi kekuasaan tuhan sedikit pun, karena kebebasan dan konsekuensi atas pilihan itu sendiri, itulah takdir yang sebenarnya.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;(Diterbitkan dalam Majalah Civitas Edisi 1 Tahun 2007)&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9040124412776407669-6234967342741343610?l=bobbysavero.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bobbysavero.blogspot.com/feeds/6234967342741343610/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bobbysavero.blogspot.com/2008/05/takdir_19.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9040124412776407669/posts/default/6234967342741343610'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9040124412776407669/posts/default/6234967342741343610'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bobbysavero.blogspot.com/2008/05/takdir_19.html' title='TAKDIR'/><author><name>Si Savero...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12201226362621308776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_wSBRHU7agWA/SDEd7tEyf7I/AAAAAAAAAAM/XspdgeLaje0/S220/My+photo(189_1).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9040124412776407669.post-8905199621122021304</id><published>2008-05-19T00:38:00.001-07:00</published><updated>2008-05-19T00:38:56.974-07:00</updated><title type='text'>TAKDIR</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Typewriter from hell&amp;quot;;"&gt;Takdir&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Typewriter from hell&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Salah seorang kawan suatu hari melontarkan wacana takdir ke dalam percakapan. Dengan kelembutan yang khas, ia menyatakan percaya bahwa setiap hal yang terjadi dalam dimensi segala, diperinci langsung oleh Tuhan. Manusia hanya menjalankan saja dan menerima skenario Sang Maha Suci. Otoritas manusia nyaris tiada artinya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Begitu kecilkah manusia? Bagaimanakah posisi manusia selayaknya saat memandang takdir? Bagaimana dengan kehendak bebas dan kekuasaan manusia untuk memilih hidup? Bagaimana dengan usaha-usaha untuk merubah nasib?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Pertanyaan yang begitu deras itu kemudian tertabrak ketakutan terjebak dalam sesat pikir. Seorang kawan lain sembari berkelakar mengingatkan, “Hati-hati, banyak orang menjadi atheis karena mempersoalkan takdir.” &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Tetapi, rasanya menjadi pasif dan manut saja pada semua yang disodorkan tidak sesuai dengan tujuan Tuhan memberi manusia akal, pikiran, dan nurani. Seandainya Galileo Galilei dulu termasuk tipikal orang yang &lt;i style=""&gt;nrimo, &lt;/i&gt;mungkin sampai saat ini kita percaya saja dengan konsep geosentris. Tuhan mau kita belajar, dan menabrak batas-batas ketakutan itu. Menabrak pula transedensi keraguan itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Filsuf Inggris Francis Bacon (1561-1626) memberi inspirasi,&lt;i style=""&gt; &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;“Bila manusia mulai dengan kepastian ia akan berakhir dalam keraguan. Tetapi bila ia puas untuk mulai dengan keraguan, ia akan berakhir dengan kepastian.” &lt;/i&gt;Kita pilih saja jalan untuk berakhir dalam keyakinan atas kepastian walau dimulai dengan pijakan keraguan. Daripada mejadi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;seperti filsuf abad ke delapan belas, Edmund Burke, yang ketakutan dengan ide-ide pembelajaran dan mengatakan belajar hanya akan dilemparkan ke dalam lumpur dan diinjak seperti babi. Rasanya yang menjadi lumpur dan terinjak babi, kini,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;adalah dirinya sendiri.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Masalahnya, takdir memang objek yang absurd. Tak ada data ilmiah dan verifikasi kasat mata atas objek ini. Ini yang menjadikan diskusi mengenai takdir adalah jembatan menuju sebuah kembatan tipis yang menghubungkan antara logika dan keyakinan. Dari sini kita dapat berangkat melalui pilihan. Kita dapat mempercayai konsep bahwa nasib kita sendiri yang menentukan atau ditentukan secara permanen sejak awal dalam proses penciptaan. Beberapa kepercayaan dapat berpolar pada dua kubu ini. Dalil mereka saling menguatkan dan melemahkan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Seorang apatis dapat saja kemudian menerima penuh bahwa kita adalah “boneka Tuhan” dalam skenarioNya. Tak ada pilihan lain. Lalu untuk apa otak kita diciptakan? &lt;st1:place st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; pemalas akan diam saja dan kemudioan menjadikan takdir sebagai justifikasi penderitaan yang telah dan mereka hadapi. Sebagaimana John Oliver Hobbes, “&lt;i style=""&gt;Men heap together the mistakes of their lives and create a monster they call destiny.&lt;/i&gt;” Toh penghuni surga dan neraka telah ditentukan sebelumnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Yang menarik kemudian, Daud Ibrahim Al-Shawni dalam semi-fiksi kontroversialnya, Iblis Menggugat Tuhan, secara tegas menyatakan, “&lt;i style=""&gt;Jika ada pengampunan, maka bukan tak mungkin memang kehendak bebas itu ada.&lt;/i&gt;” Selain itu, jika memang kehendak bebas itu tak ada, kasihan juga malaikat-malaikat pencatat amal yang mengerjakan sesuatu yang hasilnya sudah ditentukan sebelumya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Lalu? Sulit memang berdebat dalam koridor keyakinan, karena tumbukannya hanya memiliki kekuatan “saya benar.” Kecuali jika kita cukup arif untuk melihat kesempurnaan makhluk. Kesempurnaan penciptaan. Anatomi tubuh kita saja misalnya, bagaimana setiap bagian tanpa dapat direncanakan manusia dapat bekerja dengan tujuan masing-masing yang menjadi simfoni indah manusia, yaitu hidup itu sendiri. Dalam hal ini, bolehlah kita senada dengan pakar psikoanalisis Sigmund Freud yang dituding tak ilmiah, bahwa “Anatomy is destiny.” Dalam hal-hal seperti ini logika memang berkompromi, ada kekuasaan yang mengatur detil bagian hidup manusia. Kita tak dapat memilih anatomi sendiri bukan?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Tapi, hal itu tidak dengan sendirinya meletakkan kita untuk menyerah pada takdir. Tuhan memberi kita petunjuk melalui kitab suciNya agar kita dapat membedakan mana yang benar dan salah. &lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:City&gt; konsep pilihan di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;. Tuhan memberkahi para pekerja keras dengan kejayaan dan para pemalas kemiskinan. Menjadi kaya dan miskin kemudian menjadi pilihan. Indeks Prestasi dalam kuliah, contohnya, baik atau tidak juga dipengaruhi sejauh mana kita berusaha. Maka hidup menjadi pilihan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kontradiksi antara takdir yang telah diplot dan takdir yang kita pilih sendiri memang akan membawa dilema besar. Tapi, kita ambil sederhananya saja. Kembali ke konsep orang-orang tua. Mati, lahir, jodoh di tangan Tuhan. Tapi percayalah Tuhan bukan diktator, ia memberi kita petunjuk bukan doktrin belaka. Membuat kita dapat menentukan nasib seperti apa yang ingin kita terima. Tuhan memnerikan kepastian dan juga memberikan pilihan. Pilihan-pilihan itulah areal di mana manusia bebas berkehendak. Kebebasan yang tidak mengurangi kekuasaan tuhan sedikit pun, karena kebebasan dan konsekuensi atas pilihan itu sendiri, itulah takdir yang sebenarnya.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9040124412776407669-8905199621122021304?l=bobbysavero.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bobbysavero.blogspot.com/feeds/8905199621122021304/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bobbysavero.blogspot.com/2008/05/takdir.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9040124412776407669/posts/default/8905199621122021304'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9040124412776407669/posts/default/8905199621122021304'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bobbysavero.blogspot.com/2008/05/takdir.html' title='TAKDIR'/><author><name>Si Savero...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12201226362621308776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_wSBRHU7agWA/SDEd7tEyf7I/AAAAAAAAAAM/XspdgeLaje0/S220/My+photo(189_1).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9040124412776407669.post-1255387231735163243</id><published>2008-05-19T00:37:00.000-07:00</published><updated>2008-05-19T00:38:00.617-07:00</updated><title type='text'>Ketika mengkaji apatisme dalam kampus</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ketika mengkaji apatisme dalam kampus&lt;/span&gt;, penulis memiliki preferensi untuk mencari terlebih dahulu definisi pasti dari kata apatisme, agar pembahasannya lebih tepat dan terstruktur. Apatisme adalah kata serapan dari Bahasa Inggris, yaitu &lt;i style=""&gt;apathy. &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Kata tersebut diadaptasi dari&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bahasa Yunani, yaitu &lt;i style=""&gt;apathes&lt;/i&gt; yang secara harfiah berarti tanpa perasaan. Sedangkan menurut AS Hornby dalam &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;i style=""&gt;Oxford&lt;/i&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;i style=""&gt; Advanced Learner’s Dictionary of Current English, apathy is an absence of simpathy or interest.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dari definisi-definisi di atas, maka dapat ditarik satu benang merah definisi apatisme, yaitu hilangnya simpati, ketertarikan, dan antusiasme terhadap suatu objek. Selanjutnya ketika kita menghubungkannya dengan apatisme dalam kampus, secara lebih sempit lagi, apatisme memilih kepemimpinan sebagai objeknya, maka kita mulai memperoleh bayangan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Sudah sejak lama apatisme menjadi momok bagi kepemimpinan dan pemerintahan. Apabila kita ingin mencari data mengenai apatisme maka ada puluhan hingga ratusan contoh. Dari perkembangan politik dunia ketiga hingga negara-negara maju. Kebanyakan memang ada dalam lingkup politik. Semuanya menjadi pengalaman besar bagi kita untuk mengkaji dan menghadapi kasus apatisme dalam kampus. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Akan tetapi, menurut hemat saya, ketika ingin mencari akar dan pemecahan masalah maka semua pihak harus rela membuka lebar-lebar pemikirannya, menghilangkan justifikasi sempit, dan memulai pandangan yang permisif. Saya setuju dengan apa yang dicetuskan oleh Immanuel Kant, seorang filsuf dan pencetus teori negara hukum murni, dalam karyanya &lt;i style=""&gt;Critique of Pure Reason. &lt;/i&gt;Ia menelurkan konsep bahwa pengetahuan berasal dari apriori (penalaran) dan aposteriori (pengalaman). Nah, dengan dasar nalar dan pengalaman itulah saya yakin baru kita dapat memperoleh obat atas penyakit kronis apatisme.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Mengapa ada apatisme? Darimana apatisme bermula? Tidak perlu repot mencari jawabannya, karena sebenarnya kita mengetahuinya secara nyata.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Florynce R. Kennedy, seorang pengacara dan aktivis sosial asal Amerika Serikat dalam bukunya &lt;i style=""&gt;Color me flo: My Hard Life and Good Times &lt;/i&gt;mengatakan&lt;i style=""&gt;: “If you want to know where the apathy is, you’re probably sitting on it.”&lt;/i&gt; &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Setiap orang mungkin dapat berpikir buruk dan tertawa kecut terhadap kekonyolan apatisme, tapi terkadang mereka tak menyadari bahwa mereke sendiri sebenarnya sedang menduduki benih-benih apatisme dan mengembangkannya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Lompatan dari apa yang dilihat dan ketidakpuasan, menuju kritik tanpa perbaikan dan solusi juga bentuk dari apatisme. Itulah yang harusnya membuat setiap unsur pemimpin di mana saja, termasuk dalam kampus, menjadi mawas diri. Tentu saja kehilangan perasaan, perhatian, ketertarikan, dan antusiasme terhadap suatu objek, dalam hal ini kepemimpinan, maka ada beberapa kemungkinan akar permasalahan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Pertama, bisa saja kepemimpinan telah menjelma menjadi kekuatan yang lalim dan cenderung diktator sehingga apapun yang dilakukan oleh masyarakat yang dipimpinnya sama sekali tidak diperhitungkan dan dianggap tidak memberi kontribusi. Sehingga arah kepemimpinan hanya akan mengikuti kehendak satu orang, pihak, atau golongan belaka. Hal ini tentunya akan mengunci semangat masyarakat untuk memberikan suara dan kontribusi dalam kehidupan sosial dan politik dalam kotak stagnansi, karena telah terdoktrin dalam pemikiran setiap orang bahwa pun mereka menelurkan kontribusi dan melaksanakan hak suara toh akan berujung pada kenihilan semata.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Kedua, kepemimpinan mungkin saja telah menjadi buta dan tuli terhadap kepentingan dan keinginan publik yang sebenarnya. Banyak pemimpin yang menilai diri mereka terlalu tinggi sehingga mereka merasa mengetahui benar apa yang dibutuhkan dan diinginkan oleh masyarakat yang dipimpinnya, sehingga mereka menganggap apa yang ada di kepala mereka yang bergulir sebagai program mereka adalah upaya terbaik untuk memenuhi kebutuhan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Hal ini sebenarnya dapat dianalogikan sebagai diagnosa dokter. Dokter dapat memahami penyakit, memberi diagnosa, kemudian mencarikan obat tidak hanya berdasar pada asumsi dan pemikirannya. Tapi ia juga harus proaktif mendengar, menampung, dan mengolah secara utuh keluhan-keluhan sang pasien beserta dengan data dan fakta medis yang ada. Sepanjang pengetahuan penulis, hanya dokter hewan yang tidak memerlukan keluhan-keluhan dari pasiennya. Dan saya yakin, para pemimpin tahu dan dapat membedakan masyarakatnya dengan hewan!&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Ketiga, apatisme yang menyeruak&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bisa saja karena masyarakat merasa bahwa para pemimpin beserta dengan organisasinya dirasakan oleh masyarakat tidak memberikan kontribusi yang signifikan terhadap kehidupan mereka. Siapa saja dan apa saja yang para pemimpin lakukan terpaksa dimasa-bodohkan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Sebagai contoh, di kampus kita, Media Center STAN pernah mengangkat artikel mengenai mahasiswa yang sudah bertahun-tahun tidak pernah menggunakan hak pilihnya, karena dia menganggap tidak ada pengaruhnya eksekutif dalam dunia kampus dan bagi dirinya. Itu adalah fakta yang tak terbantahkan. Kita juga tidak dapat memvonis miring dan memandang sinis pada orang-orang apatis. Introspeksi adalah hal yang utama, apa memang keberadaan dan ketidakberadaan pemimpin tidak memberikan perbedaan?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Keempat, menurut hemat saya, apatisme juga dapat lahir dari masalah keterwakilan. Bisa saja para pemimpin telah bekerja dengan pola yang baik sesuia dengan yang direncanakan. Tapi, apabila pemimpin yang ada dan para pelaku aktivitas sosial serta politik hanya berasal dari golongan terbatas, sangat mungkin akan muncul kekecewaan dan apatisme masyarakat. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Contoh konkret ada di depan mata. Lahirnya Dewan Perwakilan Daerah (DPD) untuk menjadi perwakilan daerah disamping Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) adalah hasil dari akumulasi kekecewaan ketidakterwakilan daerah dalam Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) versi orde baru. Terobosan “senator-senator’ dalam DPD diharapkan dapat menerangi kegelapan pola perwakilan DPR, yang bahkan sampai saat ini masih diragukan kinerjanya. Jadi, orang-orang yang duduk dalam pemerintahan baik global sampai kampus memungkinkan apatisme terjadi secara otomatis.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Kelima, hal ini lebih spesifik terjadi di kampus kita. Kenyamanan dan keamanan yang tersedia bagi mahasiswa Sekolah Tinggi Akuntansi Negara telah menyurutkan semangat banyak kalangan untuk “beraksi” dan mencurahkan semangat, simpati, dan antusiasme pada kepemimpinan dan kegiatan kampus. Jaminan kerja dan ancaman Drop Out telah “mencegah” banyak mahasiswa untuk tetap berlindung di zona nyaman. Walau banyak orang menganggap STAN sebagai kampus perjuangan, tapi idealisme yang kabur, rasanya akan menimbulkan persepsi bahwa STAN hanyalah persinggahan sebelum bekerja. Terminologi perjuangan hanya ada dalam awang-awang belaka. Benarkah? Pertanyaan yang perlu kita renungi bersama.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Rasanya &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;lima&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; hal di atas cukup untuk memberikan alternatif jawaban atas pertanyaan yang telah penulis ungkap pada bagian awal tulisan ini, Mengapa ada apatisme? Darimana apatisme bermula? Sekarang sampailah kita pada bagian yang krusial. Lalu apa?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Apa yang dapat kita lakukan? Membiarkan? Dengan sendirinya seperti kata Florynce Kennedy, kita telah menduduki apatisme. Dan secara tak sadar memeliharanya. Mudah saja, hanya keterbukaan dan sikap yang lebih permisif tapi bertanggungjawab yang bisa menjadi jembatan menuju jalan keluar. Bila kita hanya memandang rendah dan sinis kemudian terus ditelan kebingungan saat menghadapi apatisme, menurut hemat penulis sama saja dengan menabur pupuk pada pohon tua bernama apatisme. Introspeksi adalah jalan keluar. Membuka diri adalah solusi pasti. Bersikap adil, amanah, dan menentang pengekangan yang diskriminatif adalah langkah awal menuju kehidupan sosial politik yanglebih berwarna. Seperti kata Immanuel Kant, pemecahannya ada pada kombinasi apriori (nalar) dan aposteriori (pengalaman). Keduanya telah tersaji di depan kita. Bila kita terlalu egois, dan menafikaan salah satu atau bahkan keduanya. Maka pemecahan apatisme selamanya akan menjadi retorika belaka.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9040124412776407669-1255387231735163243?l=bobbysavero.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bobbysavero.blogspot.com/feeds/1255387231735163243/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bobbysavero.blogspot.com/2008/05/ketika-mengkaji-apatisme-dalam-kampus.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9040124412776407669/posts/default/1255387231735163243'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9040124412776407669/posts/default/1255387231735163243'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bobbysavero.blogspot.com/2008/05/ketika-mengkaji-apatisme-dalam-kampus.html' title='Ketika mengkaji apatisme dalam kampus'/><author><name>Si Savero...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12201226362621308776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_wSBRHU7agWA/SDEd7tEyf7I/AAAAAAAAAAM/XspdgeLaje0/S220/My+photo(189_1).jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9040124412776407669.post-1879966301871176573</id><published>2008-05-19T00:36:00.001-07:00</published><updated>2008-05-19T00:36:58.370-07:00</updated><title type='text'>Akuntansi Syariah (bukan) Sebuah Ulasan</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;Akuntansi Syariah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;(bukan) Sebuah Ulasan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Terlalu naif rasanya jika penulis harus mengaku bahwa tulisan ini adalah sebuah ulasan mengenai akuntansi syariah. Ini disebabkan karena penulis memang tidak memahami detail teknis pelaksanaan akuntansi syariah selain apa yang biasa disebut, garis besar. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Diskusi multimateri terjadi pada Senin malam lalu (13/11). Diskusi yang menarik pembicaraan sisi teknis akuntansi syariah (yang meliputi non-Riba dan penggunaan metode &lt;i style=""&gt;cash basis&lt;/i&gt;) kembali pada perdebatan klasik mengenai ketangguhan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;rezim Eropa dan Islam. Dua klaim yang bertabrakan mengenai kepemilikan orisinal atas ilmu akuntansi mengawali pertarungan yang kemudian menjadi ideologis.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Diskusi dan perdebatan dengan berbagai hal yang diikuti dengan kata “syariah” entah kenapa selalu nyaris terjadi dengan tensi yang tinggi. Kenapa? Jelas, karena konsep yang ditawarkan memang acapkali, sebagian atau keseluruhan, bertabrakan dengan konsep yang dijalankan oleh masyarakat banyak. Misalnya keraguan seorang kawan yang mendalami akuntansi ketika mengetahui &lt;i style=""&gt;cash basis &lt;/i&gt;digunakan oleh akuntansi syariah. Apakah relevansinya memadai dengan perkembangan akuntansi keuangan global?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Keraguan seperti ini akan memaksa logika untuk mencoba angkat bicara. Kaum pendukung akuntansi syariah, misalnya, akan memeras otak untuk mencari landasan logis terhadap pilihan ideologis akuntansi syariah terhadap metode yang diaplikasikan. Pun para liberalis akan sepenuh tenaga mencari “kelemahan” dalam pilihan ideologis itu. Koridor pembicaraan teknis serta merta akan melebar menjadi filosofis agamis.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dalam keadan demikian, sekularitas, memang terlihat menonjol. Kesan yang muncul adalah fakta dan keyakinan harus diadu, dan apa yang paling mudah adalah menyerah kalah, sembari berkata “Kita dapat menggunakan konsep syariah jika disesuaikan dengan keadaan dan bertahap.” Penggunaan tahapan mungkin dapat dimaklumi. Merubah konsep yang mengakar selama puluhan tahun bahkan ratusan memang bukan simsalabim. Yang jadi masalah adalah bila terminologi penyesuaian diterjemahkan menjadi pengangkangan terhadap keyakinan. Penyesuaian-penyesuaian yang imitatif, dan secara substansial tak berbeda dengan metode konvensional berhaluan liberal.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Inilah yang terjadi dalam pembuatan standar pelaksanaan akuntansi syariah. Secara kasat mata tak jauh berbeda dengan akuntansi konvensional. Jika pelaksanaannya tak banyak berbeda (yang membedakan hanya penampilan pegawai bank syariah dan konvensional misalnya), maka mimpi menegakkan syariah di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; bagaikan membangun jalan dari Anyer sampai Panarukan. Masihlah sebuah perjuangan dan perjalanan yang panjang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Lalu? Tak solusif memang bila tulisan singkat ini hanya bicara sana-sini. Karena memang tak ada objek konkret yang dapat dituju. Maka, membuka&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;jalan perubahan dari diri sendiri adalah titik mulai yang tepat, dan diharapkan secara masif dapat berbuah kesadaran otentik murni terhadap pentingnya kajian metodis atas ke-syariah-an akuntansi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;Toh&lt;/i&gt;, perubahan yang &lt;i style=""&gt;grasa-grusu &lt;/i&gt;memang bukan pilihan yang sangat bijak. Karena, &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;gaya&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; “asal ada dulu” tak pantas lagi didengungkan. Kita harus sudah berada pada tahapan matang dalam pelaksanaan akuntansi syariah. Untuk itulah, dalam hal ini, sekali lagi sekularitas tak dapat diterima. Perancangan standar, sebagai awal, tak dapat dilakukan oleh akuntan atau ahli agama. Yang dapat melakukannya dengan sangat baik adalah akuntan yang ahli agama.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Tapi, jika memang akuntan seperti itu masih langka layaknya badak cula satu, maka yang paling mudah memang perubahan kecil oleh siapa saja melalui sarana diri sendiri. Sehingga, walaupun sistemnya sampah, secara substansial masyarakat dan praktisi dapat memulai sendiri ke-syariah-an walau tanpa embel-embel syariah yang biasanya menakutkan kalangan kiri-tengah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Bukankah &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; memang bukan negara agama? Jadi, ini bukan masalah siapa yang menggagas dan menolak embel-embel syariah. Bukan pula masalah kanan-kiri-tengah. Ini hanya sebuah upaya dialogis untuk mencari jawaban atas kebobrokan ekonomi negeri ini. &lt;st1:city st="on"&gt;Memang&lt;/st1:City&gt;, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt; bukan negara agama, tetapi tak berarti pula &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; adalah negara tanpa agama bukan? Jika memang konsep syariah, sejujurnya, memiliki arahan substansial ke arah perbaikan, menghilangkan paranoia terhadap pembahasaan yang arabik bukan sebuah kemustahilan dan penting bagi peradaban bangsa kita.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9040124412776407669-1879966301871176573?l=bobbysavero.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bobbysavero.blogspot.com/feeds/1879966301871176573/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bobbysavero.blogspot.com/2008/05/akuntansi-syariah-bukan-sebuah-ulasan.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9040124412776407669/posts/default/1879966301871176573'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9040124412776407669/posts/default/1879966301871176573'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bobbysavero.blogspot.com/2008/05/akuntansi-syariah-bukan-sebuah-ulasan.html' title='Akuntansi Syariah (bukan) Sebuah Ulasan'/><author><name>Si Savero...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12201226362621308776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_wSBRHU7agWA/SDEd7tEyf7I/AAAAAAAAAAM/XspdgeLaje0/S220/My+photo(189_1).jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9040124412776407669.post-8251314312093702245</id><published>2008-05-19T00:35:00.000-07:00</published><updated>2008-05-19T00:36:03.992-07:00</updated><title type='text'>Demonstrasi: Perjuangan Kontekstual</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;Demonstrasi: Perjuangan Kontekstual&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;Oleh: Bobby Savero*&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Sebuah memori berputar kembali ke dalam kepala penulis, ketika menonton sebuah film yang berjudul &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; 1998, yang mengangkat tragedi sosial politik dalam kurun waktu Mei-Desember 1998, periode dimana proses sebuah rezim korup, yang telah tiga dasawarsa lebih berkuasa, digulingkan oleh rakyat. Korban material dan jiwa turut menyertai peristiwa yang menjadi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;salah satu tonggak dimulainya reformasi multiaspek di Indonesia.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kini delapan tahun sudah tragedi itu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;berlalu. Artinya telah delapan tahun pula reformasi bergulir. Demonstrasi masih menjadi pilihan beberapa pihak untuk menyuarakan kepentingan, ide, dan kritiknya. Demonstrasi sengketa hasil Pilkada, demonstrasi mahasiswa, aksi jahit mulut, hingga demonstrasi buruh terus mewarnai kehidupan demokrasi di negara ini. Tapai apa lacur, cita-cita mulia reformasi, yang konon masyarakat adil dan makmur, tampaknya belum juga tercapai. Demonstrasi pun telah menjadi semakin anarkis, tak berarah, dan impoten. Skeptisisme baru telah muncul, demonstrasi telah kehilangan essensi dan menjadi perjuangan mandul tak berarti.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Apa sebenarnya demonstrasi? Mari kita lihat dari definisi demonstrasi itu sendiri, sebagai pijakan analisis. Demonstrasi adalah tindakan untuk menyampaikan penolakan, kritik, ketidakberpihakan, mengajari hal-hal yang dianggap sebuah penyimpangan. Maka dalam hal ini, sebenarnya secara bahasa demonstrasi tidak sesempit, melakukan &lt;i style=""&gt;long-march, &lt;/i&gt;berteriak-teriak, membakar ban, aksi teatrikal, merusak pagar, atau tindakan-tindakan yang selama ini melekat pada kata demonstrasi. Seharusnya demonstrasi juga “mendemonstrasikan” apa yang seharusnya dilakukan oleh pihak yang menjadi objek protes. Sedikit bukti, bahwa dalam pengertiannya saja telah muncul, meminjam terminologi Jaya Suprana, kelirumologi. Bagaimana dengan implementasinya? Kita akan kaji bersama.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Agar analisis ini tepat sasaran, maka penulis dengan sengaja akan mempersempit pengertian demonstrasi menjadi unjuk rasa turun ke jalan seperti yang selama ini menyatu pada persepsi masyarakat. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; baiknya memulai analisis ini dari pertanyaan, bagaimana relevansi demonstrasi saat ini?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Tanpa bermaksud mengecilkan apa yang dikorbankan untuk demonstrasi, tapi penulis melihat bahwa demonstrasi telah kehilangan relevansinya. Aksi-aksi mahasiswa, organisasi kemasyarakatan, serikat buruh, &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;massa&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; tak dikenal dan lain-lain yang mengklaim sebagai pejuang masyarakat atau korban otoritas tirani kini tampaknya hanya menjadi angin lalu. Bahkan aksi-aksi demonstrasi saat ini, telah mengundang cemoohan akibat kerugian kolektif secara material atau moril bagi masyarakat luas. Ban-ban yang dibakar, pagar-pagar yang dirintuhkan, pendopo-pendopo Pemda yang dibakar, mulut-mulut yang dijahit, serta korban-korban yang berjatuhan akibat aksi anarki telah menjadi kenyataan menyedihkan yang berujung tanpa solusi. Aksi-aksi ini mungkin akan mengundang wartawan media, tapi tidak membuat keputusan-keputusan publik berubah. Nihil adalah hasil yang riil.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Pemerintah, yang biasanya menjadi objek demonstrasi, pun telah menjadi kebal terhadap aksi protes ini. Mungkin masih terngiang dalam ingatan kita, &lt;i style=""&gt;statement &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Presiden yang mengatakan akan tetap &lt;i style=""&gt;ngotot&lt;/i&gt; menaikkan harga BBM walau masyarakat berniat mengadakan demonstrasi. Frekuensi demonstrasi yang menjadi sering juga membuat aksi ini kehilangan aura semangatnya. Otoritas telah menjadi tuli akan bentuk protes anarkistis seperti ini (entah ada hubungannya atau tidak dengan jumlah dokter THT yang hanya 700 di negeri ini, sumber: data yang disajikan Republik BBM Indosiar 8 Mei 2006).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Lalu apakah demonstrasi memang telah kehilangan makna dan kekuatan perjuangan? Apakah demonstrasi telah kehilangan relevansinya sama sekali? Apakah demonstrasi telah terjebak dalam impotensi yang nyata? Di sinilah penulis memandang bahwa demonstrasi masih memiliki relevansi, hanya saja telah menjadi bentuk perjuangan yang &lt;b style=""&gt;sangat kontekstual&lt;/b&gt;. Untuk memahaminya, marilah kita membuka sejarah untuk menyingkap tabir demonstrasi. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Tragedi Tiananmen di Cina, Revolusi Prancis, Revolusi Amerika Serikat, perjuangan-perjuangan kemerdekaan di seantero dunia, Peristiwa People Power di Filipina, revolusi di Rusia, hingga Peristiwa 1966 dan 1998 di Indonesia telah menjadi contoh nyata bagi kita bahwa demonstrasi dan aksi rakyat telah menjadi bagian dari sejarah penting bagi negara maju dan berkembang. Semua menjadi bukti bahwa demonstrasi adalah proses yang wajar dan bahkan kontributif bagi perkembangan dan perbaikan suatu bangsa. Akan tetapi ada benang merah yang dapat ditarik dari kejadian-kejadian demonmstrasi dan &lt;i style=""&gt;mass movement &lt;/i&gt;di atas.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Semua gerakan dan perjuangan yang saya sebut tadi, hampir kesemuanya terjadi akibat kepemimpinan pemerintahan yang telah menganut diktatorisme dan atau otoriterian. Pemerintahan diktator di&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Cina, Rusia, Prancis, dan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Pemerintahan penjajah. Sistem negara yng lalim. Kesemuanya telah menjadi pemantik atas terbakarnya semangat berjuang dan perubahan dalam diri masyarakat, sehingga muncul semangat &lt;i style=""&gt;people power.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Itu pula yang terjadi di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; tahun 1966. Apa yang dituturkan Soe Hok Gie dalam catatan hariannya mengenai kediktatoran Soekarno adalah hal nyata. Soekarno yang sanagt berjasa dalam memproklamasikan kemerdekaan RI sekaligus presiden pertama, kemudian menjadi terlalu sentralistis. Orang-orang disekitarnya telah menutup Soekarno dalam hubungannya yang murni dengan masyarakat kemudian membiusnya dengan wanita-wanita cantik di sekelilingnya. Kemudian muncul pernyataan presiden seumur hidup yang makin menegaskan absolutisme kepemimpinannya. Sebagaimana yang dikatakan Lord Acton, sejarawan Inggris abad 19, “&lt;i style=""&gt;Power tend to corrupt. Absolute power corrupts absolutely.”&lt;/i&gt; Kekuasaan cenderung korup, dan kekuasaan yang mutlak adalah korupsi yang nyata. Itulah yang kemudian terjadi. Kepercayaan masyarakat pun hilang. Rezim seperti ini memang harus segera ditegur atau bahkan dijatuhkan, maka demonstrasi &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;massa&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; adalah pilihan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Tahun 1998, bisa dibilang adalah sejarah yang berulang. Soeharto yang telah puluhan tahun memimpin rezim orde baru dan menjadi bapak pembangunan juga sangat berjasa. Tapi kemudian kroni-kroninya telah memanfaatkan dan membatasinya dengan publik. Tragedi Tanjung Priok, Daerah Operasi Militer di Aceh, hilangnya para aktivis, Petrus, atau tragedi trisakti dan Semanggi seakan semakin mengukuhkan betapa mutlaknya kekuatan dan kekuasaan orde baru menjadi seperti apa yang digambarkan Lord Acton. Ketika itu korupsi, kolusi dan nepotisme (sebenarnya sekarang pun masih terjadi), menjadi semacam hal yang ditolerir dalam melanggengkan dan melaksanakan kekuasaan. Ekonomi berbasis utang juga merupakan biang ketidakpercayaan. Saat itu apa yang ditulis oleh novelis Rusia, Alexander Solzhontsyn, dalam artikelnya di &lt;i style=""&gt;The Observer, &lt;/i&gt;mengenai negaranya menjadi kenyataan yag relevan di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;, “&lt;i style=""&gt;In our country the lie has become not just a moral category but a pillar of the state!&lt;/i&gt;” Di negara kita, kebohongan telah menjadi tak hanya kategori moral tapi pilar negara. Keadaan menyedihkan itu telah menarik rakyat dan mahasiswa untuk turun ke jalan dan menyuarakan kebenaran.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Bagaimana dengan kini? Pasca 1998, cita-cita mulia reformasi mungkin belum tercapai. Namun satu hal, harga mahal yang bahkan berupa nyawa telah dikorbankan oleh para pejuang 1998 telah menghasilkan kebebasan dan perubahan bertahap. Pers yang bebas, ruang kritik yang terbuka lebar, amandemen UUD 1945, lahirnya lembaga-lembaga negara seperti: Komisi Pemberantasan Korupsi, Komisi Yudisial, Mahkamah Konstitusi, dan lain-lain telah menjadi sinyalemen terhadap perubahan di negara ini, terlepas cita-cita murninya belum tercapai.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Justru itulah fokus generasi masa kini. Bagaimana caranya memanfaatkan apa yang telah ditebus pejuang 1998 untuk meneruskan perjuangan mencapai cita-cita &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; yang adil dan makmur bisa tercapai. Dalam hal inilah konsep perjuangan yang tepat harus dikedepankan. Kondisi yang dihadapi bukan lagi pemerintahan yang diktator, lalim, otoriter, dan dikelilingi tembok kekuasaan. Tetapi yang dihadapi saat ini mungkin hanya kebijakan yang timpang, pejabat publik yang tidak kompeten, kekuarangan pengetahuan pemerintah mengenai masyarakat, kemiskinan, kebodohan, korupsi, kolusi, atau nepotisme. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Maka kesadaraan akan konteks perjuangan menjadi penting. Ini bukan saatnya mahasiswa dan masyarakat “meruntuhkan tembok”, tapi mengisi ruang kosong yang merupakan sisa-sisa keruntuhan tembok kelaliman. Mengisi ruang publik adalah area perjuangan yang lebih relevan. Menjadi pejabat publik yang amanah, menjadi legislator yang memperjuangkan kepentingan rakyat, menjadi pengusaha yang membuka lapangan kerja, menjadi pegawai negeri yang mau melayani masyarakat, menjadi pegawai swasta yang taat pajak, menjadi aktivis LSM yang tulus memperjuangkan rakyat, menjadi insan pers yang kritis, konstruktif, dan tanggung jawab, menjadi oposan yang ikhlas atau bahkan menjadi pengengguran yang santun adalah posisi dalam ruang publik yang terbuka lebar pasca orde baru demi tercapainya cita-cita mulia.&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Ini saatnya menyikapi perjuangan dengan lebih cerdas. Bukan sekedar demonstrasi, teriak dan bakar-bakar ban yang anarki, karena demonstrasi nyata-nyata adalah perjuangan yang kontekstual. Disadari atau tidak, masih ada pihak-pihak yang terus menginginkan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; yang penuh dengan kerusuhan dan terpecah belah. Sebagai pencinta dan loyalis bangsa ini, kita harus lebih wapada untuk menghindari berulangnya sejarah kelam Indonesia seperti yang pernah digambarkan G. W. F. Hegel, salah satu filsuf dan idelis Jerman terbesar, “&lt;i style=""&gt;History teaches us that people have never learnt anything from history” &lt;/i&gt;Sejarah mengajari kita bahwa manusia tidak pernah belajar apa pun dari sejarah. Semoga kita lebih cerdas dalam menyikapi sejarah. Amin.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9040124412776407669-8251314312093702245?l=bobbysavero.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bobbysavero.blogspot.com/feeds/8251314312093702245/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bobbysavero.blogspot.com/2008/05/demonstrasi-perjuangan-kontekstual.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9040124412776407669/posts/default/8251314312093702245'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9040124412776407669/posts/default/8251314312093702245'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bobbysavero.blogspot.com/2008/05/demonstrasi-perjuangan-kontekstual.html' title='Demonstrasi: Perjuangan Kontekstual'/><author><name>Si Savero...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12201226362621308776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_wSBRHU7agWA/SDEd7tEyf7I/AAAAAAAAAAM/XspdgeLaje0/S220/My+photo(189_1).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9040124412776407669.post-4925960457473192304</id><published>2008-05-19T00:28:00.000-07:00</published><updated>2008-05-19T00:31:26.398-07:00</updated><title type='text'>Ekonomi Indonesia, Antara Tionghoa dan  Kaum Proletar</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;Ekonomi Indonesia, Antara Tionghoa dan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Kaum Proletar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;Oleh: Bobby Savero&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;“&lt;/b&gt;&lt;i style=""&gt;Negara menjamin perlindungan, pendidikan, dan kenyamanan pelayanan pada setiap penduduk dari lahir hingga mati”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;(Edward Bellamy, Jurnalis dan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Eseis&lt;/st1:City&gt; &lt;st1:state st="on"&gt;AS&lt;/st1:State&gt;&lt;/st1:place&gt;)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;Membaca apa yang ditulis oleh M. Sadli dalam artikelnya yang dirilis oleh &lt;i style=""&gt;Business News, &lt;/i&gt;13 Februari 2006, seperti ditampar di depan umum. Memang ada sebagian pendapatnya yang benar. Tapi juga banyak yang penulis rasa sebagai, suatu kesimpulan yang terburu-buru.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Hal yang ingin saya penulis adalah masalah keberadaan etnis tionghoa yang membedakan kondisi ekonomi di &lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt; dan grup &lt;st1:country-region st="on"&gt;Malaysia&lt;/st1:country-region&gt;, Singapura, dan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Thailand&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Secara spekulatif M. Sadli mengajukan teori bahwa keberadaan etnis tionghoa di grup &lt;st1:country-region st="on"&gt;Malaysia&lt;/st1:country-region&gt;, Singapura, dan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Thailand&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; yang memiliki kekuatan ekonomi sekaligus politik adalah kunci sukses ekonomi mereka. Sedangkan di Indonesia, karena kekuatan politik didominasi pribumi maka tak mampu bangkit dari keterpurukan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Jika mengikuti emosi, tentu artikel ini sudah layak masuk keranjang sampah. Tapi, penulis tetap berupaya untuk menjaga netralitas pemikiran dan meninjau teori spekulatif M. Sadli tersebut.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Pertama, opini M. Sadli itu sendiri sebenarnya cukup tendensius. Teorinya tersebut seakan telah menempatkan suatu ras sebagai superior dibanding kaum lainnya. Opini ini mirip dengan konsep yang digulirkan oleh Friedrich Nietzche dalam &lt;i style=""&gt;Thus Spake Zarathustra, &lt;/i&gt;yaitu konsep &lt;i style=""&gt;Ubermensch &lt;/i&gt;alias manusia super. Di mana kekuasaan adalah bagian dari ambisinya, yang kalau perlu kejam dan keras. Sehingga lawan-lawannya lemah. Tidak ada orang-orang lain yang mampu menggantikan si &lt;i style=""&gt;Ubermensch. &lt;/i&gt;Tampak betul konsep ini sudah usang. Ketika politik apartheid dihapus, sebenarnya perang terhadap rasisme dan diskriminasi telah memulai momentum. Dan pandangan diskriminatif hanya membawa kita kembali ke zaman primitif.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kedua, adalah tidak sepenuhnya benar bahwa etnis tionghoa di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; tidak memiliki kekutan politik. M. Sadli pastinya tahu benar mengenai konglomerat-konglomerat yang ada di balik penguasa orde baru. Dapat dikatakan bahwa kebijakan politik ekonomi masa lalu juga “disesuaikan” dengan kehendak para konglomerat. Bahkan ada beberapa dari para konglomerat yang masih menikmati nikmatnya sisa-sisa kejayaan Orba. Walau beberapa juga sudah menikmatinya di dalam penjara.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Ketiga, jikalau memang M. Sadli menilai kaum pribumi terlalu menguasai politik sehingga seakan tindakan diskriminatif telah muncul terhadap etnis tionghoa, berbeda dengan apa yang terjadi di &lt;st1:country-region st="on"&gt;Malaysia&lt;/st1:country-region&gt;, Singapura, atau &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Thailand&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Sebenarnya ini menyangkut masalah historis. Kaum tionghoa di &lt;st1:country-region st="on"&gt;Malaysia&lt;/st1:country-region&gt;, Singapura, dan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Thailand&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; tumbuh, berkembang, dan berasal dari keturunan yang sama. Tapi di Indonesia, kaum tionghoa adalah murni pendatang, yang ikut menguasai perekonomian ketika negara masih dijajah. Primitif memang, tapi pikiran tersebut masih ada dan bahkan mengakar bagi sebagian pihak.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Keempat, kesuksesan ekonomi tidak bergantung pada ras. Memang tidak salah ketika kita mengambil Cina sebagai contoh kesuksesan. Tapi kesuksesan ekonomi mereka tak semata-mata karena mereka tionghoa. Justru mereka sempat merasakan kesulitan besar ketika kaum komunis masih menjadi diktator. Keterbukaan akan dunia luar dan dimulainya era demokrasi ekonomi adalah titik balik bagi negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia tersebut.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Hal lain yang membuat penulis mengerutkan kening ketika membaca artikel M. Sadli ini, yang penulis kutip sebagai berikut: “Golongan pribumi adalah mayoritas akan tetapi yang berpendapatannya lebih rendah. Salah satu ciri orang miskin adalah punya nafsu mengkonsumsi lebih banyak dibandingkan pendapatan riilnya. Kalau masyarakat mau mengeluarkan uang lebih banyak dari nilai produksinya maka harga-harga akan naik. Inilah sumber inflasi di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Penulis tak habis pikir. Bagaimana mungkin secara kasar inflasi dikambinghitamkan pada orang-orang miskin yang justru kesulitan dan bahkan tak punya sama sekali kemampuan ekonomi. Apakah M. Sadli kemudian menafikan bahwa kenaikan biaya produksi yang memicu kenaikan harga, aksi spekulasi investor di pasar uang, kebijakan fiskal dan moneter, dan lain sebagainya secara ilmiah jelas-jelas telah menyebabkan inflasi. Apakah kemudian kaum proletar yang memang mengkonsumsi lebih dari kemampuannya, karena bahkan kebutuhan dasar seperti pangan, papan, sandang, dan kesehatan sendiri telah &lt;i style=""&gt;out of reach, &lt;/i&gt;langsung divonis sebagai penyebab inflasi?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kemudian yang juga pantas dikritisi dalah pandangan M. Sadli yang mengungkapkan bahwa pemerintah terpaksa mengeluarkan uang lebih banyak untuk pembangunan, dan juga kesehatan dan pendidikan sebagai bukti pemerintah telah terjebak dalam “gejala orang miskin” yang selalu mau hidup di atas kemampuan penghasilannya. M. Sadli juga menguraikan bahwa meningkatkan pembangunan ekonomi sebagai laju pertumbuhan ekonomi adalah salah pikir. Menurutnya investasi jauh lebih menentukan laju pertumbuhan ekonomi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Di titik ini penulis kembali tercekat. Adalah kenyataan bahwa biaya kesehatan dan pendidikan sudah sulit dijangkau oleh masyarakat proletar. Jika subsidi dan pembangunan kesehatan dianggap pemborosan, maka penulis ingin sekali mengetahui pendapat M. Sadli terhadap porsi pembayaran cicilan dan pokok utang luar negeri &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; yang sudah teramat eksesif.(Lihat Pie chart di bawah ini sebagai referensi)&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Unicode MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Komposisi Belanja Negara dalam APBN 2004 &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;(Rp trilyun)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" spt="75" preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"&gt;  &lt;v:stroke joinstyle="miter"&gt;  &lt;v:formulas&gt;   &lt;v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 1 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum 0 0 @1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @2 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 0 1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @6 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @8 21600 0"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @10 21600 0"&gt;  &lt;/v:formulas&gt;  &lt;v:path extrusionok="f" gradientshapeok="t" connecttype="rect"&gt;  &lt;o:lock ext="edit" aspectratio="t"&gt; &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1025" type="#_x0000_t75" alt="" style="'width:139.5pt;"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\Pajak\LOCALS~1\Temp\msohtmlclip1\01\clip_image001.jpg" href="http://www.walhi.or.id/attachment/d016df19778a7c563cd1c99afe29c43a/f18169265b426d0b69e097d24c493b23/glob_utang_grafik_.jpg"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Pajak/LOCALS%7E1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image001.jpg" shapes="_x0000_i1025" height="189" width="186" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Pembayaran utang dan cicilan utang yang sangat berlebihan itu rasanya jauh lebih merupakan pemborosan yang nyata. Apalagi utang yang ada sekarang banyak sekali yang merupakan “utang najis”, yaitu utang yang tidak sepenuhnya dipakai untuk membiayai kebutuhan negara, tetapi banyak dikorupsi. Bahkan &lt;i style=""&gt;World Bank &lt;/i&gt;pernah membuat laporan (walau tidak dipublikasikan) bahwa 30% utang luar negeri &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; dikorupsi. Belum lagi utang dalam bentuk bantuan barang dan proyek yang juga dimonopoli oleh kreditor, yang nilainya tidak jelas. Sekali lagi penulis bertanya, di mana pemborosan yang sebenarnya?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Lagipula, apakah kita harus melupakan tujuan essensial dari berdirinya negara? Ketika Indonesia, konsep yang sejalan dengan eksistensinya adalah teori perjanjian masyarakat, yang didukung oleh Thomas Hobbes, John Locke, Rousseau, dan Montesquieu, yaitu sebuah teori yang menyatakan bahwa terjadinya negara karena adanya perjanjian masyarakat, untuk membentuk suatu organisasi yang bisa melindungi dan menjamin kelangsungan hidup bersama. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dalam kaitannya dengan ekonomi, pasal 33 UUD 1945 yang telah diamandemen juga secara tegas memberikan definisi perekonomian Indonesia sebagai perekonomian yang berdasar atas demokrasi ekonomi, prinsip kebersamaan, kekeluargaan dan keseimbangan. Maka pelayanan kesehatan dan pendidikan adalah bagian dari keseimbangan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Pencetus teori &lt;i style=""&gt;welfare state, &lt;/i&gt;Prof. Mr. R. Kranenburg, menyatakan bahwa negara harus secara aktif mengupayakan kesejahteraan, bertindak adil yang dapat dirasakan seluruh masyarakat secara merata dan seimbang, bukan mensejahterakan golongan tertentu tapi seluruh rakyat. Maka akan sangat ceroboh jika pembangnan ekonomi dinafikan, kemudian pertumbuhan ekonomi hanya dipandang dan dikonsentrasikan pada angka persentase belaka. Kesejahteraan rakyat adalah indikator yang sesungguhnya. Sebagaimana yang dtuturkan oleh seorang penulis AS, Mark Lutz:&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“&lt;i style=""&gt;Economics can no longer be seen as the theory of maximum possible production with consequent effects on welfare, but rather, in the opposite manner, as the theory of maximum possible welfare with consequent effects on production.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;Sebagai penutup, mari kita menyimak apa yang diamanatkan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;UUD 1945 pasal 34 ayat (2): “Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan yang lemah dan tidak mampu sesuai martabat kemanusiaan.” Kita semua, termasuk M. Sadli tentunya, harus merenungi kembali arti angka-angka statistik dan kesejahteraan yang nyata bagi proletar.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9040124412776407669-4925960457473192304?l=bobbysavero.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bobbysavero.blogspot.com/feeds/4925960457473192304/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bobbysavero.blogspot.com/2008/05/ekonomi-indonesia-antara-tionghoa-dan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9040124412776407669/posts/default/4925960457473192304'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9040124412776407669/posts/default/4925960457473192304'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bobbysavero.blogspot.com/2008/05/ekonomi-indonesia-antara-tionghoa-dan.html' title='Ekonomi Indonesia, Antara Tionghoa dan  Kaum Proletar'/><author><name>Si Savero...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12201226362621308776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_wSBRHU7agWA/SDEd7tEyf7I/AAAAAAAAAAM/XspdgeLaje0/S220/My+photo(189_1).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9040124412776407669.post-3430418888594935433</id><published>2008-05-19T00:20:00.000-07:00</published><updated>2008-05-19T00:27:10.219-07:00</updated><title type='text'>Ketika Iblis dan Manusia Bertukar Bingkai</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 150%;"&gt;Ketika Iblis dan Manusia Bertukar Bingkai&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;Sebuah Resensi Jujur terhadap Film Death Note&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;Oleh: Bobby Savero*&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Awalnya film ini direkomendasikan secara berapi-api oleh seorang kawan. Karena penasaran, akhirnya kami sepakat untuk membawa film ini ke dalam forum rutin klub diskusi kami. Kemudian penulis menonton film itu dua kali. Yang pertama, tentu dalam ajang resmi diskusi (walau cuma setengah), lalu penulis tonton sekali lagi di rumah secara utuh.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Secara visual, penulis tak perlu berbicara lebih jauh. Shusuke Kaneko secara apik telah mengemas film ini menjadi film dengan gabungan kekuatan lakon dan teknik sinematografi mutakhir. Untuk hal yang kedua, penulis memuji Hiroshi Takase dan Hajime Oikawa yang menggarap sinematografi dengan baik.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Bagaimana pun, kekuatan film ini yang terbesar ada pada ceritanya. Kisah yang diangkat dari komik Jepang berjudul sama ini menceritakan seorang anak muda idealis berlatar belakang mahasiswa hukum, Light Yagami, yang berasal dari keluarga pejabat kepolisian terhormat merasa frustasi dengan impotensi hukum terhadap banyak kasus yang tidak dapat tersentuh hukum.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Hukum yang sejatinya adalah alat utama menegakkan keadilan ternyata tak mampu berbuat banyak. Light merasa terinjak naluri kemanusiaannya, ketika melihat pembunuh begitu bebas berkeliaran sambil menertawai tangisan pedih keluarga korban. Tapi, ia yang berlatar belakang keluarga polisi saja tak mampu berbuat apa-apa, ia membayangkan banyak pihak lain yang tertindas. Hingga akhirnya keadaan berubah saat ia menemukan Death Note. Sebuah buku magis yang mengantarnya pada kemampuan mengontrol waktu dan tempat kematian siapa pun dengan pengawasan Shinigami, dewa kematian Jepang, yang berwujud menyeramkan layaknya visualisasi Iblis.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Di titik inilah penulis teringat akan kejadian yang menimpa teman penulis. Ayahnya tercinta dicopet dengan modus disisipi bius pada makanannya. Naas, dosis bius tersebut berlebihan, sehingga beliau harus wafat dan meninggalkan anak-anaknya yang masih amat membutuhkannya. Sementara pencopet itu bebas berkeliaran. Seandainya death note adalah kenyataan, tampaknya pnulis akan menggunakan buku itu untuk “menegakkan keadilan” terhadap pencopet bersifat iblis itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Konsep keadilan yang bagi penulis menjadi sangat sederhana. Nyawa dibalas nyawa. Sempat terbayang pula dibenak penulis, bagaimana dunia mungkin dapat enjadi lebih baik dengan kehadiran buku yang memunculkan porsi Tuhan dalam kehidupan manusia itu. &lt;i style=""&gt;Nah, &lt;/i&gt;tiba-tiba penulis teringat pada hal lain. Film &lt;st1:place st="on"&gt;Hollywood&lt;/st1:place&gt; bertajuk Bruce Almighty, yang dimainkan dengan konyol oleh Jim Carrey. Film komedi satir yang membawa kita untuk menertawakan kehancuran alamiah yang terjadi ketika manusia mencoba mengambil porsi Tuhan dalam kehidupan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Death Note, ternyata, pada akhirnya juga mempertontonkan konsep itu. Hanya saja, jika Bruce Almighty menampilkan pesan moralnya secara eksplisit, Death Note hanya secara implisit.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Yang jelas, Light yang tadinya merasa bahwa dunia akan lebih baik di tangannya, dengan menjadi “senjata pembunuh” bagi para begundal justru menjadi begundal itu sendiri. Bagaimana ketika detektif kelas wahid mulai mencium baunya, ia mulai panik. Kemudian membunuh para agen FBI yang sama sekali bukan penjahat. Ya, Light telah menodai cita-cita luhurnya menegakkan keadilan dengan mengoyakkan keadilan itu sendiri. Bahkan pada akhirnya, Light membunuh kekasihnya sendiri, demi memunculkan alibi dan membawanya masuk ke dalam tim investigasi kepolisian untuk mengusut kasus pembunuhan yang ditimbulkannya sendiri.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Itulah, ketika kekuasaan berada pada ketidakmatangan. Melangkahi Tuhan dalam berbagai aspek. Melupakan nilai keadilan dalam penegakan keadilan itu sendiri. Ironi yang berbau satir. Sebuah pesan berharga tersirat yang coba dimunculkan dalm film fantasi horor berdurasi sekitar 104 menit ini.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Sayangnya, film berbasis komik ini memng masih teramat komikal. Ide dasar yang dibungkus cerita di luar areal logika yang sudah cukup, ternyata masih diselipi faktor pendukung yang juga kurang logis. Contoh nyata adalah tokoh detektif utama pada film ini. Bagaimana bisa seorang anak ingusan dapat muncul menjadi detektif terhebat dunia, bahkan dapat mengeluarkan intruksi kepada biro kemanan federal AS. Latar belakang sang detektif, yang dipanggil L, ini juga kabur. Mengaburknnya jauh dari kenyataan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kemampuan super abnormal L dan Light dari segi intelektual dan keserbatahuannya seperti menghilangkan dan menafikan nilai-nilai kewajaran dalam hidup. Belum lagi keanehan yang nyata ketika polisi-polisi profesional menjadikan kasus pembunuhan ini menjadi pembenaran terhadap kejahatan magis dan mistis, untuk dibawa ke areal hukum. Suatu kejadian yang hingga saat ini nyaris tak mungkin. Mengingatkan kita bahwa film ini memang diangkat dari komik. Ajang sederhana untuk memupuk mimpi imajinatif yang liar. Sekedar menarik penikmatnya pada rasa penasaran hingga komik berakhir, dengan membawanya pergi jauh dari dunia nyata.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Satu hal lagi, jika di Jepang Film ini mmpu mengalahkan kepopuleran Da Vinci Code jelas ini bukan sebuah bukti valid untuk menyatakan bahwa Death Note lebih baik daripada The Da Vinci Code yang diangkat dari novel karya Dan Brown yang berjudul sama. Bisa jadi, ini akibat sentimen nasionalis. Sesuatu yang wajar. Karena, setelah ditelaah secara jujur, kamuflase yang dimunculkan dalam Death Note begitu sederhana, dan nyaris fiksi dalam keseluruhan. The Da Vinci Code memiliki kamuflase, dan akhir yang lebih kaya. Tak lupa didukung fakta-fakta historis hasil penelitian dan riset yang luar biasa.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Akan tetapi, penulis percaya bahwa ada pesan yang perlu diperhatikan dari Death Note. Karena memang, terkadang kita tak perlu melihat pada substansi penyampainya tetapi pada manfaat atas apa yang disampaikan. &lt;i style=""&gt;The song, not the singer&lt;/i&gt;. Death Note adalah sebuah rekonstruksi evaluatif terhadap iblis yang berbingkai kemanusiaan dan manusia yang terjebak dalam bingkai iblis. Sebuah pesan filosofis yang perlu dicermati.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9040124412776407669-3430418888594935433?l=bobbysavero.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bobbysavero.blogspot.com/feeds/3430418888594935433/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bobbysavero.blogspot.com/2008/05/ketika-iblis-dan-manusia-bertukar.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9040124412776407669/posts/default/3430418888594935433'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9040124412776407669/posts/default/3430418888594935433'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bobbysavero.blogspot.com/2008/05/ketika-iblis-dan-manusia-bertukar.html' title='Ketika Iblis dan Manusia Bertukar Bingkai'/><author><name>Si Savero...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12201226362621308776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_wSBRHU7agWA/SDEd7tEyf7I/AAAAAAAAAAM/XspdgeLaje0/S220/My+photo(189_1).jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9040124412776407669.post-8924749770164827450</id><published>2008-05-19T00:17:00.000-07:00</published><updated>2008-05-19T00:19:53.166-07:00</updated><title type='text'>Komunisme, Sebuah Pandangan Objektif</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;Paranoia. Mungkin itu terminologi yang tepat untuk menggambarkan perspektif kebanyakan rakyat &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; terhadap kata komunisme. Ya, dan menurut penulis ketakutan itu telah menjadi irasional. Faktanya, sebagian besar orang tidak mengetahui apa definisi dan isi dari mazhab komunisme. Kemudian, kontroversi seakan menjadi atribut resmi dalam perdebatan dibuat dan dicabutnya peraturan konstitusi yang melarang beredarnya marxisme, leninisme, dan komunisme di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Yang lebih fatal, ketakutan itu ternyata didasarkan pada sejarah bahwa komunismelah yang membuat munculnya peristiwa 30 September. Padahal, fakta yang sebenarnya tidak pernah jelas. Kebenaran yang sesungguhnya belum terungkap. Sehingga sejarah yang menjadi landasan ketakutan itu, seperti tidak berdasar.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Inilah yang menyebabkan penulis bersama rekan-rekan intelektual mencoba untuk menguliti komunisme secara objektif, langsung dari “kitab suci” mereka, yaitu Manifesto Komunis. Manifesto Komunis sendiri adalah buah pemikiran dari Karl Marx, yang dibantu oleh Friedrich engels. Manifesto ini juga disusun untuk menjadi dasar bagi pergerakan Liga Komunis, yaitu persatuan buruh rakyat yang pertama.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Jika ditelaah secara terperinci, terlihat benar ke mana arah Manifesto Komunis hendak dibawa. Manifesto ini menjadi semacam panduan dan arah bagi pergerakan buruh, awalnya di Jerman lalu di seluruh dunia. Ternyata, muncul kenyataan yang berbeda dengan apa yang selama ini menjadi stigma bagi rakyat &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Komunisme ternyata lahir sebagai bentuk perlawanan atas penghisapan, perbudakan, penindasan, dan kesewenang-wenangan kaum konglomerat, yang dalam manifesto disebut kaum borjuis.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dan memang inilah yang terjadi di berbagai negara saat itu. Atau bahkan sampai sekarang. Kaum pemilik modal terus menjadi kaya, dan melaksanakan “penindasan” ekonomis terhadap rakyat banyak. Rakyat banyak inilah yang biasnya menjadi pekerja, dalam hal ini pekerja kasar yang tidak diberi keleluasaan untuk kemudian dapat mencapai hidup yang lebih bermartabat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Karl Marx sendiri, dalam mnifestonya juga mencantumkan apa saja yang dapat dilakukan untuk memperbaiki keadaan itu. Sebagai contoh, menurutnya negara harus melakukan hal-hal berikut yang sedapatnya disesuaikan dengan keadaan masing-masing negara:&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.6in; text-align: justify; text-indent: -0.2in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;1)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Penghapusan milik berupa tanah dan penggunaan segala sewa tanah untuk anggaranNegara.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.6in; text-align: justify; text-indent: -0.2in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;2)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Pajak penghasilan progresif yang berat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.6in; text-align: justify; text-indent: -0.2in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;3)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Penghapusan hak waris.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.6in; text-align: justify; text-indent: -0.2in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;4)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Penyitaan milik semua emigran dan pemberontak.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.6in; text-align: justify; text-indent: -0.2in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;5)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Pemusatan kredit di tangan Negara, dengan perantaraan sebuah bank nasional dengan kapital Negara dan monopoli penuh.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.6in; text-align: justify; text-indent: -0.2in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;6)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Pemusatan alat-alat perhubungan dan pengangkutan ke dalam tangan Negara.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.6in; text-align: justify; text-indent: -0.2in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;7)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Penambahan pabrik-pabrik dan perkakas-perkakas produksi yang dimiliki oleh Negara; penggarapan tanah-tanah terlantar, dan perbaikan tanah umumnya sesuai dengan rencana bersama.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.6in; text-align: justify; text-indent: -0.2in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;8)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Wajib kerja yang sama untuk semua, pembentukan tentara-tentara industri, terutama untuk pertanian.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.6in; text-align: justify; text-indent: -0.2in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;9)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Penggabungan antara perusahaan pertanian dengan perusahaan industri, penghapusan berangsur-angsur perbedaan antara &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; dan desa, dengan pembagian penduduk yang lebih seimbang ke seluruh negeri.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.6in; text-align: justify; text-indent: -0.2in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;10)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;                   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Pendidikan cuma-cuma untuk semua anak di sekolah-sekolah umum; penghapusan&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Beberapa poin masih dapat diperdebatkan. Tapi beberapa poin lainnya justru memberikan perspektif baru dalam mengambil kebijakan. Pemerintahan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; telah lama terkungkung dalam perpektif barat, kapitalisme. Pengambilan kebijakan seringkali hanya meneruskan pemiskinan dan pembodohan. Misal, penerapan utang luar negeri yang eksesif adalah contoh. Beban utang yang sudah begitu berat itu, tidak pernah dicoba untuk dimintai pengurangan apalagi penghapusan. Padahal, jika berbicara utang luar negeri &lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;, pembayaran utang luar negeri &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; adalah perbudakan ekonomi. Mengapa saya katakan seperti itu? Karena, ketika kita menilik utang luar negeri Indonesia yang sebesar Rp 1.300 trilyun dan kemampuan membayar per tahun atas utang pokok dan cicilan utang kurang lebih Rp 71,98 trilyun (asumsi pembayaran tahun 2005), maka secara kasar Indonesia baru akan mampu melunasi utangnya dalam tempo 180 tahun! Itu pun dengan asumsi bahwa hingga 180 tahun itu tidak ada penambahan bunga utang—suatu asumsi yang mustahil. Artinya hingga 180 tahun mendatang &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; akan terus mengganggarkan biaya pendidikan, kesehatan, infrastruktur dengan pas-pasan. Sebuah penganiayaan ekonomi. Membiarkan ekonomi &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; terus dipaksa menjadi mesin penghasil uang bagi negara donor dalam bentuk perbudakan ekonomi. Menyedihkan bukan?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.4in; line-height: 150%;"&gt;Lalu, penggunaan utang itu sendiri tidak pernah transparan. Utang dalam bentuk bantuan proyek, misalnya, adalah objek yang kabur. Kita seringkali tidak dapat mengukur berapa besar sebenarnya nilai riil dari bantuan proyek. Belum lagi, setiap bantuan itu dilakukan dengan menggunakan tenaga asal negara donor. Artinya, sebenarnya negara donor sedang melakukan ekspansi pasar dengan membuka akses bagi perusahaan-perusahaan asal negara mereka dengan dibiayai utang yang dibebankan kepada &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Secara sederhana, Indonesialah yang membiayai usaha pertumbuhan ekonomi negara donor! Padahal pertumbuhan kesejahteraan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; sendiri sudah terlampau menyedihkan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.4in; line-height: 150%;"&gt;Itu hanya sebuah contoh. Kebijakan penerimaan utang yang dilandasi kapitalisme. Komunisme memang hadir untuk melawan kemapanan itu, kemapanan yang tidak menyentuh rakyat tapi menyengsarakan. Sehingga alangkah baiknya, kita tidak perlu menjadi takut tanpa sebab. Bahkan, tidak ada salahnya kaum intelektual mulai melakukan diskusi untuk membedah komunisme secara lebih objektif, sekedar untuk memperkaya perpektif dalam mengambil kebijakan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.4in; line-height: 150%;"&gt;Akan tetapi, komunisme bukan tanpa cela. Lahirnya ideologi yang didasarkan pada rasa simpati Karl Marx yang melihat penindasan kepada kaum proletar dikombinasikan dengan pemikirannya yang brillian itu juga memiliki celah kerusakan. Logika yang menjadi dasar lahirnya komunisme, juga ikut membuat mereka memiliki semangat untuk memperbaiki semua keadaan, semua tanpa kecuali. Ini mungkin yang agak ceroboh. Termasuk segala tatanan nilai, termasuk agama. Manurut Marx, komunisme bukan melanjutkan segala tatanan nilai kehidupan, tapi membuat yang baru.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.4in; line-height: 150%;"&gt;Ini yang harus diwaspadai. Sangat diwaspadai, selain kecenderungan mereka untuk memperbaiki keadaan dengan cepat, alias revolusi. Sedangkan kita tahu, revolusi mana yang tak butuh korban. Korban di sini dalam konteks apa pun harus diperhatikan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dengan cermat, kita tidak ingin lagi konflik menjamah negeri ini.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.4in; line-height: 150%;"&gt;Bagaimana pun, tidak ada ideologi yang lepas dari cela. Kapitalisme yang kita sanjung-sanjung dan dijadikan landasan, ternyata tidak menghasilkan apa-apa. Bahkan bangsa kita, yang katanya besar dan bermartabat tidak punya kemampuan untuk mensejahterakan masyarakatnya sebagaimana teori berdirinya negara. Kemana pula tujuan negara kita yang tertera pada pembukaan UUD 1945? Semua hanya menjadi retorika belaka.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.4in; line-height: 150%;"&gt;Saya hanya mendambakan masyarakat &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; yang lebih objektif. Saya tidak kemudian mengagung-agungkan komunisme, malah saya beranggapan kita semua perlu berhati-hati, tapi tidak timpang. Kapitalisme juga berbahaya. Saya menyarankan kita kembali ke nilai luhur kita sebagai manusia. Agama adalah jawaban sempurna. Soekarno telah lama menyadari hal itu. Ia mengerti betul berbahayanya berbagai konsep ideologi. Oleh karena itulah lahir Pancasila, yang merupakan perkawinan dari kebaikan berbagai ideologi. Entah kenapa, Pancasila yang tadinya saya sepelekan, hanya materi pelajaran yang jadi kewajiban formalitas kini tiba-tiba mulai terbit auranya. Saya jadi ingin disebut pancasilais. Itu saya, anda? Silakan membuat persepsi sendiri.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9040124412776407669-8924749770164827450?l=bobbysavero.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bobbysavero.blogspot.com/feeds/8924749770164827450/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bobbysavero.blogspot.com/2008/05/komunisme-sebuah-pandangan-objektif.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9040124412776407669/posts/default/8924749770164827450'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9040124412776407669/posts/default/8924749770164827450'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bobbysavero.blogspot.com/2008/05/komunisme-sebuah-pandangan-objektif.html' title='Komunisme, Sebuah Pandangan Objektif'/><author><name>Si Savero...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12201226362621308776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_wSBRHU7agWA/SDEd7tEyf7I/AAAAAAAAAAM/XspdgeLaje0/S220/My+photo(189_1).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9040124412776407669.post-1528093817742259160</id><published>2008-05-19T00:02:00.000-07:00</published><updated>2008-05-19T00:11:46.316-07:00</updated><title type='text'>Sebuah Strategi Bernama Partai Politik</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Partai politik (parpol). Rasanya tak perlu bicara teramat banyak untuk menjelaskan terminologi ini. Setiap orang memiliki persepsi tersendiri yang melekat kuat. Sebagian bilang partai politik adalah kebusukan terstruktur, kumpulan orang-orang yang haus kekuasaan, atau organisasi perusak tatanan demokrasi itu sendiri. Ya sudahlah, setiap orang boleh beropini. Akan tetapi, dalam tulisan ini penulis akan membedah sedikit saja pandangan kontemplatif penulis atas partai politik.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Menurut, UU No. 31 Tahun 2002, Partai Politik adalah organisasi politik yang dibentuk oleh sekelompok warga negara Republik Indonesia secara sukarela atas dasar persamaan kehendak dan cita-cita untuk memperjuangkan kepentingan anggota, masyarakat, bangsa, dan negara melalui pemilihan umum. Klise sepertinya. Jika partai politik berjalan sesuai dengan definisinya, rasanya kita tak akan mendengar cap buruk dialamatkan kepada parpol.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Akan tetapi, kehadiran parpol memang tak terelakkan dalam eskalasi sistem demokrasi di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Keutuhan demokrasi ala &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; memang terasa akan pincang tanpa parpol. Tak dapat ternafikan memang, kehadiran parpol jelas mengusung kepentingan. Itulah hal natural yang kadang tidak disadari. Parpol memang lahir untuk kepentingan. Parpol lahir adalah upaya sekelompok orang yang memiliki kepentingan untuk kemudian membuat kepentingannya menjadi kepentingan publik. Hal ini memang sahih, sesuai konstitusi, tak terbantahkan.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Pandangan ortodok terhadap parpol harus dipisahkan dari kejernihan intelektual. Dengan menggunakan akal sehat, kita bisa tahu betul bahwa selain racun, parpol juga resep yang dapat dimanfaatkan untuk memanfaatkan sistem politik demi kepentingan rakyat. Masalahnya sekarang, bagaimana resep itu kita aplikasikan secara benar.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Parpol sebenarnya justru dapat dibalik menjadi alat propaganda dan perebut hegemoni rakyat atas pemerintahan. Jabatan-jabatan publik memang ditarungkan melalui proses politik, yang sebagian besar melibatkan parpol. Artinya, tinggal bagaimana memastikan parpol-parpol yang berani “berdarah” untuk rakyat yang boleh bertarung dalam sebuah proses pemilihan yang adil. Sehingga parpol yang berkuasa pada ranah eksekutif atau pun legislatif dapat menggunakan aksesnya, seperti menurut Sigmund Neumann, untuk aspirasi dan keinginan dalam golongan-golongan di masyarakat.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Yang sehat untuk proses se-elegan itu adalah partai-partai dengan senjata pertarungan hanya program. Partai afeksi dan ideologi, bila hanya dimaknai secara fanatis oleh masyarakat hanya akan menghasilkan &lt;i style=""&gt;output&lt;/i&gt; Pemilu yang berbahaya. Berbahaya di sini dalam konteks, para eksekutor dan legislator adalah orang-orang dengan kemampuan program minim, tetapi memang memiliki identitas tertentu yang khas. Sayangnya, itu tidak penting.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Pertanyaannya kemudian, bagaimana membatasi parpol yang lahir dengan kriteria sempurna? Untuk menghindari apa yang disebut Roger Bacon, filsuf penganut skolastis dalam karya besarnya “:&lt;i style=""&gt;Ópus Magnus&lt;/i&gt;”, pengandalan pada otoritas yang tidak tepat. Satu-satunya jalan adalah mulai berpikir untuk membatasi parpol.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;Cara ini bukan dimaksudkan untuk mengkebiri semangat demokrasi, tapi sebuah perbaikan yang harus kita pahami. Pertama, maraknya parpol sebenarnya merekat dengan euforia demokrasi pasca runtuhnya orde baru. Jadi merupakan efek temporer belaka. Kedua, semakin banyak parpol, maka anggaran pemerintah untuk subsidi parpol akan membengkak pula. Ketiga, kebanyakan parpol sebenarnya, partai berbasis kharisma tokoh. Contoh mudah tentunya dapat dibayangkan rapuhnya Partai Demokrat dan PDI Perjuangan tanpa Susilo Bambang Yudhoyono dan Megawati Soekarnoputri. Masih banyak lagi contoh partai seperti itu, yang mengandalkan ulama ternama, poltikus muda, sampai artis yang m,erasa mampu menjadi pemimpin negeri ini.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Untuk mengakomodasi ketiga hal di atas memang diperlukan sebuah strategi. Layaknya permainan sepak bola, kejelian memanfaatkan pemain adalah kunci utama&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kemenangan bersama. Strategi ini haruslah menganut pembatasan bertanggungjawab atas lahirnya parpol beserta dengan keikutsertaannya di Pemilu. Menurut hemat penulis, sistem multipartai selektif dapat menjadi acuan baru untuk demokrasi &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; yang lebih sehat. Kita dapat terus membiarkan parpol berdiri, asalkan dengan persyaratan ketat (dapat dimasukkan pula &lt;i style=""&gt;electoral treshold&lt;/i&gt;). Sehingga, semakin ramping partainya, masyarakat akan mulai didorong untuk memilih berdasarkan program yang ditawarkan. Tidak tendensius pada identitas tertentu.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Perampingan ini akan dapat menghemat anggaran pemerintah pusat maupun daerah untuk subsidi parpol. Kemudian untuk mengakomodasi pihak-pihak yang merasa mampu menjadi pemimpin negeri ini, kita dapat saja menyediakan akses untuk calon independen nonpartai untuk pemilihan presiden. Kita dapat mengaplikasikannya, seperti yang telah dilakukan saat pemilihan gubernur di Nanggro Aceh Darussalam.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Pada akhirnya, masyarakat akan tetap memiliki pilihan yang lebih sehat atas parpol-parpol yang ada. Dan para pemilik modal (dalam hal ini juga kepercayaan diri yang kukuh untuk mencalonkan diri) dapat mendapat akses untuk maju ke pemilihan pejabat publik tanpa harus berafilisasi dengan partai mana pun yang mungkin tak sesuai dengan garis perjuangannya. Hal seperti ini yang perlu ditekankan dalam merancang ulang desain sistem politik &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;, menuju sistem perpolitikan yang lebih kondusif, murah, dan representatif.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Yang juga tak boleh lupa diingatkan, adalah setiap perubahan, mengutip pendapat Voltaire, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;haruslah disikapi dengan pertemuan akal budi sebagai jalan tengah yang memunculkan keutamaan moral. Moralitas ini yang harus dijaga, agar perubahan selalu bernuansa perbaikan. Bukan berbau ambisi kotor kekuasaan. Partai politik memang rentan, akan tetapi dapat dimanfaatkan demi kepentingan rakyat. Tinggal duduk bersama mengatur strateginya, dengan catatan tetap berada pada koridor moralitas. Sulit?&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;Nah, &lt;/i&gt;inilah pendidikan politiknya!&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9040124412776407669-1528093817742259160?l=bobbysavero.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bobbysavero.blogspot.com/feeds/1528093817742259160/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bobbysavero.blogspot.com/2008/05/sebuah-strategi-bernama-partai-politik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9040124412776407669/posts/default/1528093817742259160'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9040124412776407669/posts/default/1528093817742259160'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bobbysavero.blogspot.com/2008/05/sebuah-strategi-bernama-partai-politik.html' title='Sebuah Strategi Bernama Partai Politik'/><author><name>Si Savero...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12201226362621308776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_wSBRHU7agWA/SDEd7tEyf7I/AAAAAAAAAAM/XspdgeLaje0/S220/My+photo(189_1).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9040124412776407669.post-9111145410488421500</id><published>2007-09-20T23:45:00.000-07:00</published><updated>2007-09-21T00:10:59.165-07:00</updated><title type='text'>hmmm,</title><content type='html'>Hidup emang kayak roda...&lt;br /&gt;Sebentar di atas, lalu tanpa mempedulikan nilai gaya, gravitasi, atau sampah-sampahnya Newton tiba-tiba udah dibawah lagi..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup emang krisis, tiap waktu harusnya digunakan untuk lebih baik.Duh, nyesel ga sih 3 tahun di STAN ternya pas diinventarisir ga banyak berkontribusi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan yang paling nyesel, ternyata belum banyak perubahan diri yang telah terjadi..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kayak inget, ada yang bilang hidup itu pilihan..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bener bgt!Dan setiap pilihan, memiliki konsekuensi etis yang harus diperjuangkan..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah2an taun buang2 napas gw di stan bisa dibayar dengan jadi birokrat yang dibutuhkan negeri naas ini, bukan jadi sampah dan nambah2in jumlah 62.000 pegawai depkeu ajah..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ga ada kata terlambat untuk sebuah pembuktian,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;doain yah,,,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;doa gw juga buat lu semua...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Berjuang-berdoa-tawakal"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;untuk tujuan suci dan cita-cita luhur&lt;br /&gt;One step closer to presidency...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9040124412776407669-9111145410488421500?l=bobbysavero.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bobbysavero.blogspot.com/feeds/9111145410488421500/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bobbysavero.blogspot.com/2007/09/hmmm.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9040124412776407669/posts/default/9111145410488421500'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9040124412776407669/posts/default/9111145410488421500'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bobbysavero.blogspot.com/2007/09/hmmm.html' title='hmmm,'/><author><name>Si Savero...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12201226362621308776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_wSBRHU7agWA/SDEd7tEyf7I/AAAAAAAAAAM/XspdgeLaje0/S220/My+photo(189_1).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9040124412776407669.post-1915507825206059247</id><published>2007-09-20T23:18:00.001-07:00</published><updated>2007-09-20T23:40:58.015-07:00</updated><title type='text'>Akhirnya...</title><content type='html'>Akhirnya password ditemukan!!&lt;br /&gt;Aku kembali!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9040124412776407669-1915507825206059247?l=bobbysavero.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bobbysavero.blogspot.com/feeds/1915507825206059247/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bobbysavero.blogspot.com/2007/09/akhirnya_20.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9040124412776407669/posts/default/1915507825206059247'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9040124412776407669/posts/default/1915507825206059247'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bobbysavero.blogspot.com/2007/09/akhirnya_20.html' title='Akhirnya...'/><author><name>Si Savero...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12201226362621308776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_wSBRHU7agWA/SDEd7tEyf7I/AAAAAAAAAAM/XspdgeLaje0/S220/My+photo(189_1).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9040124412776407669.post-5523983417010842362</id><published>2007-09-20T23:18:00.000-07:00</published><updated>2007-09-20T23:24:10.192-07:00</updated><title type='text'>Akhirnya...</title><content type='html'>Gila,&lt;br /&gt;punya blog tapi dari taun jebot ga diisi2,,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;heeheeheee....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan ingin disengaja pembaca, (yakin ada yang baca?)&lt;br /&gt;tapi emang gw melakukan kesalahan fatal, yaitu melupakan password blog gw sendiri. tenang gw tau, pasti lu mau bilang,"lupa password blog?! Go-blog!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hahahahahaha...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hus, lagi bulan puasa ga boleh ngata2in orang, yah namanya juga tempatnya khilaf dan lupa, maklumin aja lah..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaud, semoga dengan di-resetnya password gw, dan mudah2an gw ga lupa lagi, blog ini bisa mulai dilimpahi dengan karya...(alah sok banget!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaud, dari Kalibata (tempat magang yang tenteram, bobby savero caw!)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9040124412776407669-5523983417010842362?l=bobbysavero.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bobbysavero.blogspot.com/feeds/5523983417010842362/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bobbysavero.blogspot.com/2007/09/akhirnya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9040124412776407669/posts/default/5523983417010842362'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9040124412776407669/posts/default/5523983417010842362'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bobbysavero.blogspot.com/2007/09/akhirnya.html' title='Akhirnya...'/><author><name>Si Savero...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12201226362621308776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_wSBRHU7agWA/SDEd7tEyf7I/AAAAAAAAAAM/XspdgeLaje0/S220/My+photo(189_1).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9040124412776407669.post-8815126749384131410</id><published>2007-07-05T01:22:00.000-07:00</published><updated>2007-07-05T01:26:52.682-07:00</updated><title type='text'>Cerpen dari istana..</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%; color: rgb(102, 51, 255);" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Titik Balik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%; color: rgb(102, 51, 255);" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; color: rgb(102, 51, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Malam meninggalkan dingin yang teramat sangat. Dia masih berdiri di tempat yang sama. Embun yang muncul bersamaan dengan lahirnya pagi melembabkan alas kakinya. Tapi ia tak peduli. Hanya kakinya yang gemetaran. Sudah berjam-jam ia di situ, mencoba mengumpulkan keberanian untuk melompat sejengkal lagi dan menuntaskan apa yang direncanakannya, secara mendadak, setelah peristiwa itu. Peristiwa yang kini membawanya pergi puluhan kilometer dari hal-hal yang dicintainya. Peristiwa itu...&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%; color: rgb(102, 51, 255);" align="center"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(102, 51, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Kami sudah melihat dan menilai betul kinerja anda selama delapan tahun terakhir. Anda bekerja sangat luar biasa. Punya visi yang jauh ke depan. Dan kemampuan aplikasi manajerial yang nyaris sempurna.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Perusahaan ini patut berterima kasih kepada anda. Dan perusahaan ini masih membutuhkan anda. Tapi, kami juga melihat perusahaan ini harus menghargai kerja keras anda dengan memberi anda tantangan baru. Kantor cabang kita di Zimbabwe membutuhkan ide-ide brillian anda. Saya optimis anda akan berhasil mewujudkan apa yang kita raih di sini, di benua sana, dalam waktu singkat.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(102, 51, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Matanya kosong ketika kata-kata wakil direktur &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;yang baru itu meluncur berapi-api, mencoba mencari penjelasan yang paling masuk akal dan halus untuk menjelaskan bahwa dirinya benar-benar sudah terpental jauh dari apa yang sudah diimpikannya selama bertahun-tahun. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(102, 51, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Pikirannya kembali ke tempat yang sama, salah satu ruangan wakil direktur utama perusahaannya bekerja, akhir 1998. Keadaan nasional sedang krisis, Pak Hartomo sang wakil direktur sedang berbicara serius padanya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(102, 51, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Anda tahu betul, negeri ini sedang goncang. Tapi anda juga dapat melihat, bahwa perusahaan kita baik-baik saja. Ide anda untuk memperlebar pasar dan membuka kantor perwakilan baru di Asia Selatan dan Afrika, dua tahun yang lalu adalah kuncinya. Sehingga saat &lt;i style=""&gt;cash flow &lt;/i&gt;dalam negeri goyah, emas-emas Afrika menyelamatkan perusahaan kita secara keseluruhan. Anda luar biasa! Sungguh luar biasa! Oleh karena itu, saya khawatir betul, ketika mendengar anda ditawari pekerjaan di perusahaan saingan kita. Saya tahu, manajer operasional secerdas anda tak akan ditawari gaji dan fasilitas rendahan. Anda juga tahu, bahwa kami akan sangat kehilangan anda. Tapi...Saya kira anda juga tahu, bahwa saya sudah tua. Tak lama lagi. Saya akan pensiun. Dan perusahaan ini akan mencari pengganti yang cerdas seperti anda. Saya yakin itu. Dengan bertahan beberapa tahun lagi, saya yakin anda akan segera menggantikan saya di kursi yang saya duduki sekarang. Bagaimana?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(102, 51, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Pertanyaan itu ia jawab dengan dedikasi penuh pada perusahaan. Seluruh perhatian ia curahkan.&lt;i style=""&gt; Workaholic &lt;/i&gt;mungkin kata yang lebih tepat. Hingga bahkan istri dan anak-anaknya, serta keluarganya tak tahan lagi. Ayah dan ibunya sudah tak pernah ia kunjungi sejak bekerja di ibu kota. Awal 2000, ia resmi menjadi duda dua anak. Anak-anaknya tak pernah ia temui lagi sejak ikut dengan istrinya yang menikah lagi dengan seorang diplomat yang ditempatkan di Moskwa. Di Jakarta yang keras, ia tinggal bergantung pada impiannya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(102, 51, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dan hari itu semua impiannya hancur. Wakil direktur yang baru itu bukan dirinya. Pemuda tanpa pengalaman, dengan gelar PhD dari Illinois, yang baru saja berbicara dengannya itu adalah orang yang merebut impiannya. Ia pernah membayangkan bahwa impiannya dapat hancur. Tapi dalam bayangannya kekalahannya haruslah sangat ksatria. Ia hancur karena bukan ksatria tangguh yang mengalahkannya, tapi lulusan luar negeri tanpa pengalaman, yang juga keponakan direktur utama.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%; color: rgb(102, 51, 255);" align="center"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(102, 51, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Matahari sudah menyembul sedikit. Kini bukan saja kakinya, tapi tangannya ikut gemetar. Ia masih juga belum berani maju. Arloji peraknya berembun. Tapi ia masih dapat mengetahui, bahwa ia telah berdiri sekitar empat jam. Ia tak ingat kapan ia terakhir kali berdiri selama itu, yang ia ingat adalah sebelum berdiri di ujung jurang itu, mobilnya ia pacu tanpa henti. Dari jalan kecil, jalan raya, jalan tikus, jalan tol, hingga jalan becek yang kemudian membawanya ke jurang ini. Jurang yang tadinya hendak ia jadikan saksi bisu tarikan nafasnya yang terakhir. Namun, ia belum juga melompat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(102, 51, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Tiba-tiba, terdengar suara memanggilnya. Ia sempat berbalik sesaat, dan melihat sosok pemuda dengan topi petani lebar berlari ke arahnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(102, 51, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“&lt;i style=""&gt;Kang, akang! Rek naon diditu&lt;/i&gt;?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(102, 51, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Ia sekonyong-konyong terjatuh pingsan dan tak mendengar lagi teriakan petani itu. Entah karena kelelahan, keterkejutan, ketakutan, atau justru kelegaan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%; color: rgb(102, 51, 255);" align="center"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(102, 51, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Matahari sudah nyaris terbenam ketika ia terbangun. Ia mendapati dirinya dalam sebuah kamar tidur kecil dan telah berganti pakaian. Ia ditidurkan pada dipan yang cukup nyaman, dengan selimut tebal. Tak lama, petani yang sudah melepaskan topi capingnya itu masuk.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(102, 51, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Alhamdulillah, &lt;i style=""&gt;akang&lt;/i&gt; teh sudah sadar. Saya sangat khawatir. Di kampung ini tidak ada dokter, yang ada hanya mantri. Jadi saya hanya bisa rawat akang di kamar saya. Tadi &lt;i style=""&gt;aya&lt;/i&gt; tetangga &lt;i style=""&gt;nganter&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ubi rebus . &lt;i style=""&gt;Hayu atuh&lt;/i&gt; dicoba dulu. Tehnya juga masih panas. Mudah-mudahan si akang &lt;i style=""&gt;cepet seger&lt;/i&gt;. Saya &lt;i style=""&gt;teh&lt;/i&gt; bingung. &lt;i style=""&gt;Arek naon si akang teh&lt;/i&gt; di jurang itu. Bahaya &lt;i style=""&gt;kang&lt;/i&gt;. &lt;i style=""&gt;Upami&lt;/i&gt; jatuh, &lt;i style=""&gt;akang&lt;/i&gt; teh bisa mati.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(102, 51, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Mungkin saya memang ingin mati..”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(102, 51, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kata-katanya yang datar dan bernuansa keputusasaan itu membuat terkejut pemuda yang menolongnya. Dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kata-kata itulah yang mengantarnya pada suatu obrolan panjang dengan petani yang tidak ia kenal di kampung yang tidak ia kenal pula. Sebuah obrolan mengenai keikhlasan dan kesabaran. Sebuah obrolan sederhana mengenai hidup.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%; color: rgb(102, 51, 255);" align="center"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(102, 51, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Ia mengendarai mobil dengan perasaan yang lain. Perasaan kagum. Ia tak habis pikir bagaimana pemuda yatim piatu yang setengah tangannya buntung dapat tetap &lt;i style=""&gt;survive &lt;/i&gt;di dunia yang kadang sangat kejam. Sendirian dengan keterbatasan tak membuatnya menyerah. Bahkan masih tetap sabar bekerja keras menjadi buruh tani. Apa yang ia lihat sebagai kehancuran, ternyata bisa dilalui dengan mudah saja oleh pemuda tersebut. Keikhlasan dan kesabaran masih perlu ia pelajari, tapi darimana sumbernya ia belum juga dapat mengerti dan masih akan jadi pertanyaan besar. Tapi yang terpenting ia telah menemui semangatnya. Dan besok ia akan kembali ke sana untuk mengucapkan terima kasih sekali lagi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%; color: rgb(102, 51, 255);" align="center"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(102, 51, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Sudah hampir setahun sejak terakhir ia mengunjungi pemuda itu untuk mengucapkan terima kasih. Pemuda tersebut dan beberapa warga sangat antusias ketika ia meninggalkan sebuah televisi dan tak lupa penangkap siaran digital untuk menyiasati terpencilnya kampung itu. Harga televisi itu tak seberapa dibandingkan dengan pelajaran dan kesempatan hidup kedua yang didapatkannya. Ia sudah dapat mulai menata ulang hidupnya. Kini membuka kantornya kecilnya sendiri. Sering berkunjung ke rumah orang tuanya untuk membayar kesalahannya yang lampau. Tak lupa ia juga telah membina kembali hubungan baik dengan anak-anaknya, walau hanya dengan sambungan udara. Bahkan, kini ia sudah memiliki calon istri yang sangat menyayanginya. Banyak hal telah berubah sejak kunjungan terakhir yang menjadi titik balik kehidupannya itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(102, 51, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Maka dengan perasaan dan langkah yang jauh lebih lapang, ia mengendarai mobilnya untuk sekedar mengetahui kabar si pemuda itu. Kali ini, calon istrinya menemani dengan penuh kesabaran di sisinya ketika ia melajukan mobil. Tak lagi sendirian dengan pikiran kusut dan keinginan mengakhiri hidup.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(102, 51, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kampung itu masih terlihat sama. Juga rumah pemuda petani itu. Tapi alangkah terkejutnya ia, ketika melihat televisi pemberiannya dianggurkan begitu saja di samping rumah. Disejajarkan dengan jerami-jerami kering dan kandang kambing. Dengan heran ia berjalan memasuki rumah kemudian menemukan pemuda itu baru saja selesai mengaji. Pemuda itu langsung menyapanya dengan ceria.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(102, 51, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“&lt;i style=""&gt;Eh, akang&lt;/i&gt;, apa kabar? &lt;i style=""&gt;Akang&lt;/i&gt; teh gemuk sekarang..”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(102, 51, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Berat badannya memang telah naik beberapa kilo, tapi itu bukan subjek yang penting saat ini, “Ada apa dengan televisi itu? Rusakkah? Atau kampung ini sudah tidak dialiri listrik lagi? Atau..”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(102, 51, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Oh, televisi itu.” Pemuda itu mulai mengerti wajah keheranannya, “&lt;i style=""&gt;Punten&lt;/i&gt; ya &lt;i style=""&gt;kang&lt;/i&gt;, saya tidak bisa lagi menghidupkan televisi itu di kampung ini, dan membiarkan tetangga-tetangga terus menonton televisi itu. Maaf ya kang..”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(102, 51, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Ada apa? Apa kamu tidak menghargai pemberian saya? Saya tulus, sungguh. Jika perlu, jika memang masalah biaya, saya akan menanggung biaya listriknya. Atau saya perlu belikan semua tetangga-tetangga kamu televisi, agar kamu tidak merasa terganggu? Katakan saja..”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(102, 51, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Pemuda itu tersenyum, “Kang, &lt;i style=""&gt;punten, ieu teh&lt;/i&gt; bukan masalah uang. Apalagi masalah terganggu. Saya hanya takut kang. &lt;i style=""&gt;Hayu atuh&lt;/i&gt; duduk &lt;i style=""&gt;heula&lt;/i&gt;, biar saya jelaskan.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(102, 51, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Mereka lalu duduk berhadapan sambil bersila di atas tikar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(102, 51, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Begini, kang. Awalnya &lt;i style=""&gt;teh&lt;/i&gt;, saya senang dengan adanya televisi itu. Anak-anak di sini jadi punya hiburan. Dan orang-orang tuanya jadi banyak dapat ilmu dari berita-berita di televisi. Tapi kemudian saya khawatir, anak-anak di sini mulai malas dan melawan orang tuanya. Malas disuruh mengaji, hanya karena ingin menonton film kartun spons warna &lt;i style=""&gt;koneng&lt;/i&gt;.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; color: rgb(102, 51, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pemuda itu terbatuk sedikit, lalu meneruskan, “Tapi, tadinya saya biarkan. Saya pikir, biarlah anak-anak menikmati hiburan dan masa kecilnya. Nah, kemudian saya mulai kaget. Di berita teh banyak berita tidak enak. Pembunuhan, pemerkosaan, pencabulan, perampokan. Ih, ngeri &lt;i style=""&gt;pisan&lt;/i&gt;. Saya takut warga-warga di sini jadi ikut-ikutan. Dan yang paling saya takuti, waktu saya dan teman-teman menonton berita tentang gempa, penggusuran, bencana lumpur, hingga pembunuh yang cepat-cepat dibebaskan dari penjara. Besoknya saya banting saja televisi itu. Saya takut teman-teman mulai menanyakan keadilan Tuhan. Dan meragukan kekuasaanNya. Kalau saya sih, tetap yakin bahwa Tuhan punya caraNya tersendiri. Nah, yang saya takut &lt;i style=""&gt;mah&lt;/i&gt; teman-teman saya tidak. Bagaimana jika mereka mulai ragu bahwa keadilan Tuhan itu ada? Bagaimana jika mereka meragukan Tuhan? Naudzubillah, kang! Karena hanya dengan keyakinan yang kuat terhadap Tuhan itulah, kita masih bisa ikhlas jeung sabar. Maaf ya kang, biarlah saya ganti saja uang beli televisi yang saya banting itu.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(102, 51, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Ia tersentak. Kini semua pertanyaan telah terjawab. Sebuah titik balik, sekali lagi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(102, 51, 255);"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; line-height: 150%; color: rgb(102, 51, 255);" align="right"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Bobby Savero&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; line-height: 150%; color: rgb(102, 51, 255);" align="right"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Istana Mimpi Ciawi, 31 Oktober 2006&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; line-height: 150%; color: rgb(102, 51, 255);" align="right"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;01:33&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9040124412776407669-8815126749384131410?l=bobbysavero.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bobbysavero.blogspot.com/feeds/8815126749384131410/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bobbysavero.blogspot.com/2007/07/cerpen-dari-istana.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9040124412776407669/posts/default/8815126749384131410'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9040124412776407669/posts/default/8815126749384131410'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bobbysavero.blogspot.com/2007/07/cerpen-dari-istana.html' title='Cerpen dari istana..'/><author><name>Si Savero...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12201226362621308776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_wSBRHU7agWA/SDEd7tEyf7I/AAAAAAAAAAM/XspdgeLaje0/S220/My+photo(189_1).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9040124412776407669.post-508278174039216088</id><published>2007-07-05T01:14:00.000-07:00</published><updated>2007-07-05T01:18:07.333-07:00</updated><title type='text'>Pengen nyari jodoh?</title><content type='html'>Pasti udah pada nonton Hitch.&lt;br /&gt;Hebat ya dia, bisa ngebantu orang untuk mencapai impian besar duniawi yang dihargai kesempurnaan setengah agama...Wow!&lt;br /&gt;Gimana ya kalo orang yang sulit banget buat mencari jodohnya sendiri?&lt;br /&gt;Di Indonesia mah cuma ada biro jodoh, ga ada tuh jasanya Alex Hitchens kayak di film Hitch-nya Will Smith itu..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eh tau2 pas lagi browsing nemu surat lucu, buat yang udah ngebet pengn dapet jodoh tapi malu mengatakan...he2&lt;br /&gt;nih format suratnya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini adalah contoh draft surat yang barangkali bisa dimanfaatkan bagi mereka yang ingin mencari pasangan hidup.&lt;br /&gt;Selamat mencoba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal : Penawaran Kesepakatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan Hormat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sangat gembira memberitahukan Anda bahwa saya telah jatuh cinta kepada anda terhitung tanggal __________ dan saya berketetapan hati untuk menawarkan diri sebagai&lt;br /&gt;kekasih anda yang prospektif.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Akan ada masa percobaan minimal 3 bulan sebelum memasuki tahap permanen. Tentu saja, setelah masa percobaan usai, akan diadakan terlebih dahulu pengevaluasian secara&lt;br /&gt;intensif dan berkelanjutan. Dan kemudian, setiap tiga bulan selanjutnya akan diadakan&lt;br /&gt;juga evaluasi performa hubungan yang bisa menuju pada pemberian kenaikan status dari kekasih menjadi pasangan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biaya yang dikeluarkan untuk kerumah makan dan shooping akan dibagi 2 sama rata antara kedua belah pihak. Selanjutnya didasarkan pada performa dan kinerja anda, tidak tertutup kemungkinan bahwa saya akan menanggung bagian yang lebih besar dari pengeluaran total. Akan tetapi, saya cukup bijaksana dan mampu menilai, jumlah dan bentuk pengeluaran yang Anda keluarkan nantinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dengan segala kerendahan hati meminta anda untuk menjawab penawaran ini dalam waktu 30 hari terhitung tanggal penerimaan surat. Lewat dari tanggal tersebut, penawaran ini akan dibatalkan tanpa pemberitahuan lebih lanjut, dan tentu saja saya akan beralih dan mempertimbangkan kandidat lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya akan sangat berterimah kasih apabila Anda berkenan untuk meneruskan surat ini kepada adik perempuan, sepupu bahkan teman dekat anda, apabila Anda menolak penawaran ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian penawaran yang dapat saya ajukan dan sebelumnya terima kasih atas perhatiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;______, _________ 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hormat saya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda Prospektif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;nb:Jangan disalahgunakan ya!hehehehe...&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9040124412776407669-508278174039216088?l=bobbysavero.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bobbysavero.blogspot.com/feeds/508278174039216088/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bobbysavero.blogspot.com/2007/07/pengen-nyari-jodoh.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9040124412776407669/posts/default/508278174039216088'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9040124412776407669/posts/default/508278174039216088'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bobbysavero.blogspot.com/2007/07/pengen-nyari-jodoh.html' title='Pengen nyari jodoh?'/><author><name>Si Savero...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12201226362621308776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_wSBRHU7agWA/SDEd7tEyf7I/AAAAAAAAAAM/XspdgeLaje0/S220/My+photo(189_1).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9040124412776407669.post-5463462589885978499</id><published>2007-07-05T01:08:00.001-07:00</published><updated>2007-07-05T01:08:54.278-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Religious'/><title type='text'>Hmm, menjaga Pandangan?</title><content type='html'>&lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: Arial; color: black;"&gt;MENJAGA PANDANGAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;"&gt;            Satu hal yang hendaknya dicamkan benar-benar oleh setiap hamba Allah adalah bahwa Allah Azza wa Jalla itu ghafururrahiim. Dia adalah satu-satunya Zat yang mempunyai samudera ampunan dan kasih sayang yang Mahaluas. Tak ada dosa sebesar apapun yang tidak tenggelam dalam samudera ampunan dan rahmat kasih sayang-Nya, sejauh tidak menyekutukan-Nya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;"&gt;            Pantaslah Syaikh Ibnu Athoillah di dalam kitabnya yang terkenal, Al Hikam, menasehatkan, "Jika terlanjur berbuat dosa maka janganlah hal itu sampai menyebabkan patah hatimu untuk mendapatkan istiqamah kepada Tuhanmu. Sebab, kemungkinan yang demikian itu sebagai dosa terakhir yang telah ditaqdirkan bagimu."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;"&gt;            Hati yang sakit, atau bahkan mati, disebabkan oleh noktah-noktah dosa yang bertambah dari waktu ke waktu karena amal perbuatan yang kurang terpelihara, sehingga menjadikannya hitam legam dan berkarat. Akan tetapi, bagaimana pun kondisi hati kita saat ini, tak tertutup peluang untuk sembuh, sehingga menjadi hati yang sehat sekiranya kita berjuang sekuat-kuatnya untuk mengobatinya. Ada empat virus perusak hati yang harus kita waspadai agar hati yang sakit atau mati dapat disembuhkan. Sementara hati yang sudah sehat pun dapat terawat dan terpelihara kebeningannya. Mudah-mudahan dengan mewaspadai keempat hal tersebut Allah Azza wa Jalla menolong kita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;"&gt;            Salah satunya yang membuat hati ini semakin membusuk, kotor dan keras membatu adalah tidak pandainya kita menahan pandangan. Barang siapa yang ketika di dunia ini tidak mahir menahan pandangan, gemar melihat hal-hal yang diharamkan Allah, maka jangan terlalu berharap dapat memiliki hati yang bersih. Umar bin Khattab pernah berkata, "Lebih baik aku berjalan di belakang singa daripada berjalan di belakang wanita." Orang-orang yang sengaja mengobral pandangannya terhadap hal-hal yang tidak hak bagi dirinya, tidak usah heran kalau hatinya lambat laun akan semakin keras membatu dan nikmat iman pun akan semakin hilang manisnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;"&gt;            Sebenarnya bukan hanya mengumbar pandangan terhadap lawan jenisnya, melainkan juga orang yang matanya selalu melihat dunia ini. Melihat sesuatu yang tidak ia miliki : rumah orang lain yang lebih mewah, mobil orang lain yang lebih bagus, atau uang orang lain yang lebih banyak. Hatinya lebih bergejolak memikirkan hal-hal yang tidak dimilikinya daripada menikmati apa-apa yang dimilikinya..&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;"&gt;            Karenanya kunci bagi orang yang memiliki hati yang bening adalah tundukkan pandangan! Mendapati lawan jenis yang bukan muhrim, cepat-cepatlah tundukkan pandangan. Kalau melihat dunia jangan sekali-kali melihat ke atas. Akan capek kita jadinya, karena rizki yang telah menjadi hak kita tidak akan kita dapatkan. Lebih baik lihatlah ke bawah. Tengoklah orang yang lebih fakir dan lebih menderita daripada kita. Lihatlah orang yang jauh lebih sederhana hidupnya. Semakin sering melihat ke bawah, subhanallah, hati ini akan semakin dipenuhi oleh rasa syukur dibanding dengan orang yang suka menengadah ke atas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;"&gt;            Kalaupun kita akan melihat ke atas, tancapkan pandangan kita ke yang Mahaatas sekaligus, yakni kepada Zat Penguasa alam semesta. Allahu Akbar! Lihatlah Kemahakuasaan-Nya, Allah Mahakaya dan tidak pernah berkurang kekayaan-Nya walaupun selalu kita minta sampai akhir hayat. Orang yang hanya melihat ke atas dalam urusan dunia, hatinya akan cepat kotor dan hancur. Sebaliknya, kalau tunduk dalam melihat dunia dan tengadah dalam melihat keagungan serta kebesaran Allah, maka tidak bisa tidak kita akan menjadi orang yang memiliki hati bersih yang selamat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;"&gt;            Buya Hamka (alm) pernah berkata, "Mengapa manusia bersikap bodoh? Tidakkah engkau tatap langit yang biru dengan awan yang berarak seputih kapas? Atau engkau turuni ke lembah sehingga akan kau dapatkan air yang bening. Atau engkau bangun di malam hari, kau saksikan bintang gemintang bertaburan di langit biru dan rembulan yang tidak pernah bosan orang menatapnya. Atau engkau dengarkan suara jangkrik dan katak saling bersahutan. Sekiranya seseorang amat gemar memandang keindahan, amat senang mendengar keindahan, niscaya hatinya akan terbebas dari perbuatan keji. Karena sesungguhnya keji itu buruk, sedangkan yang buruk itu tidak akan pernah bersatu dengan keindahan."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;"&gt;            Berbahagialah orang yang senang melihat kebaikan orang lain. Tatkala mendapatkan seseorang tidak baik kelakuannya, ia segera mahfum bahwa manusia itu bukanlah malaikat. Di balik segala kekurangan yang dimilikinya pasti ada kebaikannya. Perhatikanlah kebaikannya itu sehingga akan tumbuh rasa kasih sayang di hati. Mendengar seseorang selalu berbicara buruk dan menyakitkan, segera mahfum. Siapa tahu sekarang ia berbicara buruk, namun besok lusa berubah menjadi berbicara baik. Karenanya, dengan mendengarkan kata-kata yang baik-baiknya saja, niscaya akan tumbuh rasa kasih sayang di hati.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;"&gt;            Jalaluddin Rumi pernah berkata, "Orang yang begitu senang dan nikmat melihat dan menyebut-nyebut kebaikan orang lain bagaikan hidup di sebuah taman yang indah. Ke sini anggrek, ke sana melati. Pokoknya kemana saja mata memandang yang nampak adalah bebungaan yang indah dan harum mewangi. Dimana-mana yang terlihat hanya keindahan. Sebaliknya, orang yang gemar melihat aib dan kejelekkan orang lain, pikirannya hanya diselimuti dengan aneka keburukan sementara hatinya hanya dikepung dengan prasangka-prasangka buruk. Karenanya, kemana pun matanya melihat, yang tampak adalah ular, kalajengking, duri, dan sebagainya. Dimana saja ia berada senantiasa tidak akan pernah dapat menikmati indahnya hidup ini."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;"&gt;            Sungguh berbahagialah orang yang pandai memelihara pandangannya karena ia akan senantiasa merasakan nikmatnya kebeningan hati. Allah Azza wa Jalla adalah Zat Maha Pembolak-balik hati hamba-Nya. Sama sekali tidak sulit baginya untuk menolong siapapun yang merindukan hati yang bersih dan bening sekiranya ia berikhtiar sungguh-sungguh. Allahu’alam.***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;"&gt;(Sumber : Tabloid MQ EDISI 10/TH.1/FEBRUARI 2001)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9040124412776407669-5463462589885978499?l=bobbysavero.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bobbysavero.blogspot.com/feeds/5463462589885978499/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bobbysavero.blogspot.com/2007/07/hmm-menjaga-pandangan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9040124412776407669/posts/default/5463462589885978499'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9040124412776407669/posts/default/5463462589885978499'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bobbysavero.blogspot.com/2007/07/hmm-menjaga-pandangan.html' title='Hmm, menjaga Pandangan?'/><author><name>Si Savero...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12201226362621308776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_wSBRHU7agWA/SDEd7tEyf7I/AAAAAAAAAAM/XspdgeLaje0/S220/My+photo(189_1).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9040124412776407669.post-6960681224877735125</id><published>2007-07-05T01:03:00.000-07:00</published><updated>2007-07-05T01:06:59.630-07:00</updated><title type='text'>Cinta adalah berjuang, berdoa, tawakal! Serta memohon ridhoNya..</title><content type='html'>&lt;p style="color: rgb(255, 0, 0);" class="MsoPlainText"&gt;Kemanakah kau pergi ketika itu?&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(255, 0, 0);" class="MsoPlainText"&gt;Ketika malam masih menautkan kita&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(255, 0, 0);" class="MsoPlainText"&gt;bulan sabit meringis untuk menerangi&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(255, 0, 0);" class="MsoPlainText"&gt;membisikkan keramaian dalam kesunyian kita&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(102, 255, 153);" class="MsoPlainText"&gt;Bilakah ku pergi ketika itu..?&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(102, 255, 153);" class="MsoPlainText"&gt;Ketika kurasa kasihmu meminjam bahuku&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(102, 255, 153);" class="MsoPlainText"&gt;menyentuh lembut setiap garis batinku&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(102, 255, 153);" class="MsoPlainText"&gt;meniupkan hembusan dalam gurun hidup kita..&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(102, 0, 204);" class="MsoPlainText"&gt;Mengapakah kita pergi ketika itu..?&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(102, 0, 204);" class="MsoPlainText"&gt;Ketika harummu masih menyejukkan relungku padahal malam masih belum memisahkan kita&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(102, 0, 204);" class="MsoPlainText"&gt;dengan kewajibannya untuk menghadirkan surya&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(153, 153, 0);" class="MsoPlainText"&gt;Namun, terima kasih...&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(153, 153, 0);" class="MsoPlainText"&gt;Ini bukanlah hal yang berona belaka&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(153, 153, 0);" class="MsoPlainText"&gt;ini mengajarkan kita, untuk bersabar dan berjuang&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(153, 153, 0);" class="MsoPlainText"&gt;bukan hanya untukku, untukmu, atau siapa..&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(153, 153, 0);" class="MsoPlainText"&gt;tertinggi, tersuci, dan terhambakan hanya untukNya..&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 51, 255);" class="MsoPlainText"&gt;Ketika doa ini terlantun,&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 51, 255);" class="MsoPlainText"&gt;harapanku menggantung&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 51, 255);" class="MsoPlainText"&gt;mimpi ini kupelihara&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 51, 255);" class="MsoPlainText"&gt;hati ini kujaga..&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(204, 204, 255);" class="MsoPlainText"&gt;Hingga saatnya nanti,&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(204, 204, 255);" class="MsoPlainText"&gt;ku akan kembali, usai beberapa kali bumi berevolusi..&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(204, 204, 255);" class="MsoPlainText"&gt;Kau pun kuharap akan kembali dengan kesejatian itu..&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(204, 204, 255);" class="MsoPlainText"&gt;Kita, ya KITA, akan kembali...&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(255, 204, 0);" class="MsoPlainText"&gt;Inilah mimpiku,&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(255, 204, 0);" class="MsoPlainText"&gt;inilah doaku,&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(255, 204, 0);" class="MsoPlainText"&gt;harapan dalam hari-hariku..&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(255, 204, 0);" class="MsoPlainText"&gt;Tergores dalam tinta sejati..&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(255, 102, 102);" class="MsoPlainText"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Semoga&lt;/st1:city&gt;  &lt;st1:state st="on"&gt;Ia&lt;/st1:state&gt;&lt;/st1:place&gt; merestui,&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(255, 102, 102);" class="MsoPlainText"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Semoga&lt;/st1:city&gt;  &lt;st1:state st="on"&gt;Ia&lt;/st1:state&gt;&lt;/st1:place&gt; meridhoi,&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(255, 102, 102);" class="MsoPlainText"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Semoga&lt;/st1:city&gt;  &lt;st1:state st="on"&gt;Ia&lt;/st1:state&gt;&lt;/st1:place&gt; melapangkan jalan ini,&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(255, 102, 102);" class="MsoPlainText"&gt;Semoga yang terbaik itu benar adanya...&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 255, 51);" class="MsoPlainText"&gt;Antara kita dan Dia...&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 255, 51);" class="MsoPlainText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(204, 51, 204);" class="MsoPlainText"&gt;Ketika Cinta adalah berjuang, berdoa, dan berpasrah diri,&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9040124412776407669-6960681224877735125?l=bobbysavero.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bobbysavero.blogspot.com/feeds/6960681224877735125/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bobbysavero.blogspot.com/2007/07/cinta-adalah-berjuang-berdoa-tawakal.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9040124412776407669/posts/default/6960681224877735125'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9040124412776407669/posts/default/6960681224877735125'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bobbysavero.blogspot.com/2007/07/cinta-adalah-berjuang-berdoa-tawakal.html' title='Cinta adalah berjuang, berdoa, tawakal! Serta memohon ridhoNya..'/><author><name>Si Savero...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12201226362621308776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_wSBRHU7agWA/SDEd7tEyf7I/AAAAAAAAAAM/XspdgeLaje0/S220/My+photo(189_1).jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9040124412776407669.post-8957157050892559776</id><published>2007-07-05T00:31:00.000-07:00</published><updated>2007-07-05T00:41:16.835-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mukadimah'/><title type='text'>Sebuah Catatan Sebelum Lupa...</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Assalamualaikum,,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Siapa hayo yang bilang, awali apapun dengan Bismillah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Bismillahhirrahmanirrahim...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inget cerpennya temen, yang bilang kalo, aku menulis maka aku ada...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;emang sih, mirip sama "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;cogito ergo sum"&lt;/span&gt;-nya Rene Descartes, ya wong dia emang terinspirasi dari sana sih..he2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, sekarang si wartawan kampus ini mau mulai nulis blog. "Cupu lu bob! Telat"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yee, biarin aja, ya bangsa kita ini kan memegang teguh primbon, nyang bilang kalo "lebih baek telat daripada tidak sama sekali.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;makanya penanganan lumpur lapindo telat...&lt;br /&gt;penanganan keselamatan kecelakaan juga telat..&lt;br /&gt;menyekidiki kasus kekayaan penguasa orde baru juga telat..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, tapi jangan ditiru deh. Untuk kali ini aja gw telat, telat masuk ke dunia blog. Habis, dimana lagi gw bisa nulis semau gw untuk orang lain tanpa harus khawatir dikejar Kamtib?&lt;br /&gt;he2, emang bencong taman lawang...;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya weiss, let see what can I write...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This is Mr. President live from the palace of dreams...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proudly present What Palace Says!!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9040124412776407669-8957157050892559776?l=bobbysavero.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bobbysavero.blogspot.com/feeds/8957157050892559776/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bobbysavero.blogspot.com/2007/07/sebuah-catatan-sebelum-lupa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9040124412776407669/posts/default/8957157050892559776'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9040124412776407669/posts/default/8957157050892559776'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bobbysavero.blogspot.com/2007/07/sebuah-catatan-sebelum-lupa.html' title='Sebuah Catatan Sebelum Lupa...'/><author><name>Si Savero...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12201226362621308776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_wSBRHU7agWA/SDEd7tEyf7I/AAAAAAAAAAM/XspdgeLaje0/S220/My+photo(189_1).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
